oleh

PBB Berikan Layanan Pengobatan HIV/AIDS di Sudan Selatan

PENANEGERI, Kesehatan – Badan migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah memperluas layanan untuk pengobatan penyakit HIV/AIDS di kawasan Sudan Selatan, Rabu 8 November 2017.

Berkat perluasan layanan untuk pengobatan penyakit HIV/AIDS yang baru-baru ini dilakukan oleh badan migrasi Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar 171.000 warga sipil dan masyarakat tuan rumah di Sudan memperoleh manfaat dari fasilitas kesehatan ini di Sudan Selatan.

“Perluasan layanan merupakan perkembangan penting di Sudan Selatan, dimana orang-orang yang kehilangan tempat tinggal, seperti mereka yang tinggal di lokasi PoC (Protection of Civilian) atau Perlindungan Sipil, termasuk di antara populasi kunci yang dianggap berisiko tinggi tertular HIV/AIDS ,” jelas Salma Taher, Global Fund Project Officer Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB (International Organization for Migration – IOM), seperti diberitakan oleh situs resmi PBB, Rabu (8/11), saat menjelaskan pentingnya peluncuran layanan ini.

Tahun lalu, penyakit tuberkulosis dan HIV/AIDS adalah salah satu penyebab utama kematian di lokasi PoC (Protection of Civilian) atau Perlindungan Sipil, di Sudan, di mana orang sering tidak dapat mengakses fasilitas kesehatan di luar lokasi karena keamanan atau infrastruktur yang lemah.

Baca Juga  Konflik di Sudan Selatan Telah Menelan Kerugian dengan ‘Proporsi yang Epik’

Sejak diluncurkan, di lokasi perlindungan di Bentiu, Malakal dan Wau, pada bulan Juli, IOM telah menguji sebanyak 213 orang, dengan 16 tes positif dan mendaftar dalam pengobatan antiretroviral.

Dengan diagnosis dan pengobatan antiretroviral yang tepat waktu, harapan hidup pasien HIV/AIDS positif terbukti meningkat secara substansial, sekitar 10 tahun tambahan, menurut sebuah penelitian baru-baru ini.

Layanan komprehensif yang baru ini dimungkinkan untuk kunjungan masyarakat yang lebih luas ke lokasi, dari pada layanan sebelumnya untuk ibu hamil.

Selain itu, kampanye peningkatan kesadaran HIV/AIDS telah dilakukan, dan ratusan konselor sebaya dilatih di seluruh negeri.

Dukungan kesehatan mental dan psikososial juga diberikan kepada orang-orang yang hidup dengan HIV/AIDS dan mereka yang terkena dampak kekerasan berbasis gender.

Perluasan layanan kesehatan ini merupakan upaya bersama IOM, Dana Pembangunan PBB, dan Dana Global untuk Melawan AIDS, Tuberkulosis dan Malaria. (*)

Komentar

Berita Terbaru