oleh

PBB : Sepertiga Keluarga Pengungsi Rohingya di Bangladesh Rentan

PENANEGERI, Desk Internasional – Teknologi pengumpulan data inovatif yang digunakan oleh badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk tahap pertama penghitungan keluarga pengungsi Rohingya di Bangladesh telah mengungkapkan statistik yang mengkhawatirkan sepertiga dari populasi pengungsi rentan.

“Dalam sebuah rangkaian penghitungan keluarga yang inovatif, tim UNHCR menemukan bahwa sepertiga keluarga rentan,” jelas Duniya Aslam Khan, juru bicara UNHCR (the Office of the UN High Commissioner for Refugees) mengatakan kepada wartawan pada briefing pers reguler di Jenewa, seperti dirilis oleh situs resmi PBB, Selasa 7 November 2017.

Khan mengatakan bahwa “14 persen adalah ibu tunggal yang menopang keluarga mereka bersama dengan sedikit dukungan dalam kondisi kamp yang sulit. Yang lainnya sedang berjuang dengan masalah kesehatan serius atau cacat.”

Ada juga jumlah proporsi orang tua (lansia) yang berisiko tinggi, anak-anak yang tidak didampingi dan dipisahkan dari orang tua – beberapa di antaranya merawat adik-adik mereka.

Anak-anak dan perempuan dari keseluruhan pengungsi Rohingya di Bangladesh ini berjumlah lebih dari separuh dari total populasi pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Baca Juga  Amnesty International Menyatakan Rohingya di Rakhine Korban Apartheid

Pencatatan registrasi biometrik individu, yang dilakukan oleh badan PBB UNHCR dan RRRC (Refugee Relief and Repatriation Commission) Bangladesh, berlangsung di kamp Kutupalong, daerah darurat dan penyuluhan dan daerah darurat Balukhali dan sekarang diperluas ke selatan.

UNHCR sejauh ini telah mengumpulkan data sebanyak 120.284 keluarga pengungsi yang terdiri dari sejumlah 517.643 orang pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Pendataan darurat ini berhasil dilakukan berkat teknologi pengumpulan data baru.

Perangkat pengumpulan data geo-tag dirancang untuk menggunakan GPS bahkan tanpa jangkauan jaringan, membuat konsolidasi data dan analisis menjadi lebih efisien.

Kartu Penghitung Keluarga RRRC yang dilengkapi barcode juga memudahkan pendataan para pengungsi Rohingya yang tinggal di Bangladesh ,dalam hal demografi dan lokasi.

“Karena pengungsi masih dalam perjalanan dan zonasi situs masih dalam proses, para petugas penghitung data mengunjungi tempat penampungan mereka secara terpisah, yang berarti bahwa pengungsi tidak perlu antri untuk dihitung,” ujar Khan menjelaskan. (*)

Komentar

Berita Terbaru