oleh

Pemerintah Filipina Tolak Negosiasi dengan Kelompok Militan Maute di Marawi

PENANEGERI, Desk Internasional- Pemerintah Filipina menyatakan telah menolak melakukan negosiasi dengan kelompok militan Maute di Marawi yang menahan sandera, setelah melaporkan bahwa seorang pemimpin pemberontak Maute ingin menukar seorang sandera pendeta Katolik,ditukar dengan orang tuanya yang ditahan oleh polisi Filipina.

Juru bicara kepresidenan Ernesto Abella mengatakan tidak akan ada kesepakatan dengan gerilyawan kelompok milisi Maute yang bersembunyi di Kota Marawi, karena hal itu bertentangan dengan kebijakan pemerintah, dan siapa pun yang mencoba menawar tidak memiliki wewenang untuk melakukannya.

Harian Filipina Inquirer melaporkan bahwa Abdullah Maute, salah satu dari dua bersaudara yang membentuk kelompok militan Maute, telah memberi tahu para utusan dari tokoh agama pada hari Minggu (25/6) bahwa dia ingin agar ayah dan ibunya dibebaskan sebagai pengganti Pendeta Teresito “Chito” Soganub yang masih disandera milisi Maute.

Pihak berwenang percaya bahwa Pendeta Soganub dan lebih dari 100 orang Kristiani lainnya masih ditahan oleh gerilyawan milisi Maute yang disebut terkait ISIS, sebagai perisai manusia.

Baca Juga  Dua Pentolan Milisi Pemberontak Ditewaskan Militer Filipina di Marawi

“Kebijakan pemerintah untuk tidak bernegosiasi dengan teroris tetap ada, oleh karena itu, pemimpin agama setempat yang memimpin perundingan dengan teroris hari Minggu lalu adalah orang yang tidak diberi sanksi oleh pemerintah, militer dan pemimpin politik kita,” kata Abella kepada wartawan, seperti dikutip oleh kantor berita Reuters, Selasa (27/6).

Dalam kesempatan gencatan senjata singkat pada hari Minggu (25/6) untuk menandai liburan Islam Idul Fitri 1438H, delapan tokoh agama Muslim memasuki zona konflik, di samping tim penyelamat, dan bertemu secara singkat dengan pimpinan kelompok milisi Maute, yang sebelumnya dikatakan oleh pihak militer Filipina telah melarikan diri dari pertempuran.

Ayah Maute bersaudara, Cayamora Maute, ditangkap pada 6 Juni 2017 di Davao City-Mindanao, sekitar 140 kilometer tenggara Marawi, dan ibunda Maute bersaudara yakni seorang pengusaha wanita yang berpengaruh, bernama Farhana Maute, juga telah ditangkap tiga hari kemudian oleh pihak berwenang Filipina.

Pertempuran sengit di Marawi kembali  meletus pada hari Selasa (27/6) saat pertempuran di  Marawi memasuki masa enam minggu, dengan serangan bom yang hebat oleh pesawat di zona pemberontak yang makin terdesak.

Baca Juga  Darurat Militer di Marawi Kemungkinan Belum akan Berakhir

Pertempuran  telah berkecamuk di wilayah Marawi, sejak sebuah operasi untuk menangkap Isnilon Hapilon digelar pada tanggal 23 Mei 2017 lalu, dan menyebabkan meletusnya pertempuran yang kini telah memasuki masa enam minggu.

Sekitar 70 tentara, 27 warga sipil dan 290 gerilyawan tewas, menurut data pemerintah, dan 246.000 orang telah mengungsi dari sebuah kota di mana beberapa lingkungan telah hancur menjadi puing-puing. (*)

Komentar

Berita Terbaru