oleh

Pengerasan Jalan Asal Jadi, Warga Kampung Besar Kecewa

PENANEGERI, Aceh Tamiang –  Melihat hasil pekerjaan proyek pengerasan jalan di kampungnya, warga Kampung Besar, Kecamatan Banda Mulia, Aceh Tamiang merasa kecewa. Pasalnya, kondisi badan jalan jadi semakin hancur dari sebelumnya dan sulit dilalui. Selain itu, ketebalan timbunan jalan diduga tidak sesuai spesifikasi.

Informasi yang diperoleh Penanegeri.com dilapangan menyebutkan, proyek pengerasan jalan dibangun di dua titik yakni, di Dusun Jeumpa dan Dusun Seulanga, dengan volume sepanjang 150 meter dan 945 meter. Pengerjaan jalan tersebut dibiarkan begitu saja sejak dua hari lalu, namun belum dilakukan serah terima oleh pimpinan kampung (Datok).

Sesuai plang di lokasi proyek, anggaran proyek pengerasan jalan tersebut bersumber dari APBK 2017 senilai Rp 185.450.000, dikerjakan oleh CV Amanah Tamiang Perkasa.

Ditemui Penanegeri.com, Selasa (8/8) sejumlah warga Kampung Besar, Kecamatan Banda Mulia menilai proyek pengerasan jalan dibuat asal jadi oleh pihak rekanan. Sebab, sangat jelas terlihat ada material tanah yang belum diratakan sehingga membuat badan jalan becek dan licin ketika diguyur hujan.

“Kami simpulkan hasil pengerasan jalan kurang memuaskan, karena ada sekitar 50 meter lagi tanah timbun di Dusun Jeumpa menuju Matang Caneng belum diratakan, tapi sudah dianggap selesai,” terang warga setempat, Sukemi (42).

Baca Juga  Terlalu Tipis dan Tak Diratakan, Warga Tolak Pengerasan Jalan Kampung Besar

Menurutnya, kemungkinan besar proyek pengerasan jalan sudah selesai dikerjakan, karena sudah dua hari terakhir tidak ada aktivitas apapun dan seluruh alat berat sudah dibawa keluar kampung.

“Para pekerja sudah meninggalkan proyek dua hari lalu. Terakhir mereka kerja melakukan kompek (pemadatan) jalan sampai malam hari,” tuturnya.

Warga Kampung Besar lainnya, Armia Amin (43) juga merasa kecewa dengan kondisi akses jalan dusun yang bertambah licin pasca dilakukan pengerasan jalan. Pasalnya, pengerasan badan jalan menggunakan material tanah kuning yang minim bebatuan membuat jalan mudah becek.

“Saya lihat banyak tanah kuning saja. Seharusnya jalan ditimbun menggunakan tanah bercampur batu, lalu dipadatkan agar jalan tidak becek jika hujan turun,” paparnya.

Selanjutnya, Amin mengeluhkan material tanah yang berserakan di areal persawahan milik petani. Hal itu dipicu oleh pengerukan sepanjang tepi jalan yang dilakukan pelaksana proyek dinilai sangat kedalaman, sehingga membuat bongkahan tanah dari pinggir jalan tersebut menimbun lahan sawah yang ada.

“Kami selaku petani merasa keberatan harus membersihkan sendiri tanah yang masuk ke sawah, seharusnya itu kan tanggungjawab kontraktor,” sesalnya.

Baca Juga  Terlalu Tipis dan Tak Diratakan, Warga Tolak Pengerasan Jalan Kampung Besar

Dikatakan warga, jalan dusun Jeumpa dan Seulanga Kampung Besar merupakan akses penghubung antar kampung. Bahkan jalan Dusun Seulanga selalu dimanfaatkan masyarakat sebagai jalan untuk mengeluarkan hasil produksi komoditas pertanian dan perkebunan, seperti padi, karet, kelapa sawit dan lainnya.

“Setiap hari ratusan orang yang lewat sini. Apalagi saat musim panen, jalan ini menjadi satu-satunya akses untuk mengeluarkan produksi padi. Harapan kami bisa dibuat bagus, itu saja,” harap warga.

Datok Penghulu (Kades) Kampung Besar, Kecamatan Banda Mulia, Hadi Saufi, kepada Penanegeri.com menerangkan, proyek pengerasan jalan menurutnya telah selesai, namun belum dilakukan serah terima. Pihaknya juga berencana menolak jika dilakukan serah terima dengan kondisi fisik pengerasan seperti itu.

“Kita lihat kondisinya belum layak, belum mau kita serah terima kalau hasil akhirnya seperti ini,” sebut Hadi.

Pengerasan jalan di Kampung Besar satu paket, Sambung Hadi, namun dikerjakan di dua titik, yaitu Dusun Jeumpa sepanjang 150 meter dan Dusun Seulanga 945 meter, jadi totalnya hampir 1,2 kilo meter. Datok mengaku tidak mengenal kontraktor pelaksana proyek, hanya saja saat mereka mulai bekerja ada utusan kontraktor datang melapor.

Baca Juga  Terlalu Tipis dan Tak Diratakan, Warga Tolak Pengerasan Jalan Kampung Besar

“Saat masuk ada lapor, tapi sudah selesai pekerjaan tidak ada laporan, jadi kita tidak tahu sudah siap atau belum. Sudah dua hari ini orang kerja tidak nampak disini,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi pengerasan jalan di dua titik itu awalnya bagus dan keras, tetapi karena dimusim penghujan, jalan yang baru dikerjakan jadi hancur jika dilalui kendaraan. Datok juga menyinggung, ketebalan pengerasan kurang dari 20 cm dan lebar jalan juga kurang dari 4 meter, namun begitu pihaknya tidak tahu spesifikasinya seperti apa.

“Jalan ini di kompek hanya sekali, ketebalannya juga tidak sampai 20 cm, jadi mudah rusak dan kurang layak,” urai Hadi Saufi.

Kadis PUPR Aceh Tamiang, Syamsuri, SE melalui Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK), Indra yang dihubungi awak media, Rabu (9/8) menjelaskan, jika kondisinya sesuai seperti yang dilaporkan datok penghulu dan warga, pihaknya tidak akan mencairkan anggaran proyek pengerasan jalan di Kampung Baru, Banda Mulia tersebut.

“Salah satu syaratnya yakni, rekanan harus melakukan serah terima pekerjaan secara tertulis dengan pihak desa yang telah distempel dan ditandatangani datok penghulu baru berani kita cairkan dananya,” pungkas Indra.

Komentar

Berita Terbaru