oleh

Pengungsi Rohingya Dipaksa Balik Lagi ke Myanmar

PENANEGERI, Desk Internasional -Kelompok Hak Asasi Manusia meminta agar pemerintah Bangladesh tidak mengusir pengungsi Rohingya.
Aktivis Kelompok Hak Asasi Manusia juga menyayangkan tanggapan Aung San Suu Kyi terhadap krisis Rohingya sebagai ‘respon yang tidak dapat diterima’.

Sebuah kelompok hak Rohingya telah mendesak masyarakat internasional untuk mengambil tindakan untuk melindungi kelompok Rohingya yang kini tanpa kewarganegaraan (stateless).

Sedangkan Bangladesh telah menahan dan secara paksa mengembalikan setidaknya 90 orang pengungsi Muslim Rohingya ke wilyah Myanmar, karena ribuan warga sipil etnis minoritas dari daerah Rakhine, di sisi lain perbatasan, terus-menerus dan berbondong-bondong berusaha meloloskan diri dari tindakan kekerasan di  Rakhine, Myanmar yang telah menewaskan puluhan orang.

Ariful Islam, seorang komandan Border Guard Bangladesh (BGB), mengatakan kepada kantor berita AFP, bahwa sedikitnya 20 orang pengungsi Rohingya ditangkap pada hari Minggu (27/8) dan dikirim kembali ke wilayah Myanmar, setelah melintasi sungai Naf, sebuah perbatasan alami antara Myanmar dan Bangladesh.

Secara terpisah, sekelompok 70 orang etnis Rohingya juga dikirim kembali ke Myanmar oleh polisi Bangladesh pada Sabtu malam (26/8), setelah para pengungsi melintasi zona perbatasan “garis nol”, di mana tentara Myanmar sebelumnya gencar menembakkan mortir dan senapan mesin ke warga desa Rohingya yang lari mengungsi.

Baca Juga  Anak-anak Rohingya Masih Ada yang Terjebak di Kamp Penampungan di Rakhine

Beberapa penduduk desa juga ditangkap kira-kira empat kilometer di wilayah Bangladesh, dalam perjalanan ke sebuah kamp pengungsi di Kutupalong, di mana ribuan orang Rohingya sudah hidup dalam kondisi kumuh, kata kepala polisi setempat Abul Khaer.

“Semua 70 orang ditahan dan kemudian kembali ke Myanmar oleh penjaga perbatasan,” kata Khaer kepada AFP.

“Mereka memohon kepada kami untuk tidak mengirim mereka kembali ke Myanmar,” kata seorang petugas polisi Bangladesh lainnya tanpa menyebut nama.

Dalam laporan terakhirnya pada hari Minggu (27/8), kantor Penasihat Hukum Aung San Suu Kyi, mengatakan jumlah korban tewas akibat bentrokan antara pasukan keamanan dan pemberontak Rohingya yang dimulai pada hari Kamis (24/8) telah mencapai 96 orang tewas – kebanyakan adalah diduga merupakan penyerang Rohingya, namun juga terdapat korban 12 petugas keamanan Myanmar.

Pemerintah Myanmar telah menuduh orang-orang bersenjata dari Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) melakukan serangan mematikan ke pos polisi, yang memicu kekerasan akhi-akhir ini.

Sedangkan ratusan orang pengungsi Rohingya masih terdampar di zona perbatasan “garis nol” antara Bangladesh dan Myanmar.

Sejak kekerasan meletus, ribuan orang Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh, namun pihak berwenang di Bangladesh menolak untuk menerima sebagian besar dari para pengungsi Rohingya itu.

Baca Juga  Dua Badan PBB dan Pemerintah Myanmar Teken Perjanjian Untuk Kepulangan Pengungsi Rohingya

Kantor Berita Al Jazeera, yang melaporkan dari sisi perbatasan Bangladesh, mengatakan bahwa ratusan pengungsi Rohingya masih terdampar di setidaknya dua kamp sementara yang didirikan oleh polisi Bangladesh.

Bagi Bangladesh, masalah pengungsi  ini adalah tantangan besar karena sudah ada sekitar setengah juta orang Rohingya di negara Bangladesh sejak timbul konflik.

Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Al Jazeera, Matthew Smith dari Fortify Rights, sebuah lembaga monitor hak asasi manusia di Myanmar, menggambarkan situasi Rohingya sebagai “sangat tidak dapat diterima” dan meminta masyarakat internasional untuk mengambil “bantuan kemanusiaan yang mendesak” di kedua sisi perbatasan.

Dia mengatakan serangan militer yang dilakukan oleh pasukan Myanmar tidak pandang bulu.

“Kami secara konsisten mendapatkan laporan serangan tentara terhadap penduduk sipil, membakar desa-desa, membunuh pria, wanita dan anak-anak, dan ini membuat orang-orang melarikan diri dari kehidupan mereka.”

Satu video yang diposkan di media sosial menunjukkan ratusan orang pengungsi  Rohingya, basah kuyup di tengah hujan, memanjat naik turun bukit berlumpur saat mencoba menyeberangi sungai kecil.

Baca Juga  Kaum Rohingya masih Terjebak di Myanmar, Memohon Jalan Keluar yang Aman

Smith mendesak pemerintah Bangladesh agar tidak mengusir para pengungsi Rohingya, dengan mengatakan bahwa pemerintah Bangladesh memiliki “kewajiban untuk memberikan perlindungan sementara bagi para pengungsi … yang telah berjalan melalui hutan, demi melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa mereka, dan kebanyakan dari mereka melarikandiri hanya dengan membawa pakaian yang melekat di badan”.

Dia juga mengkritik Suu Kyi dari Myanmar “karena melakukan kampanye propaganda yang sangat berbahaya” terhadap pekerja kemanusiaan yang membantu Rohingya.

“Dia sangat tidak bertanggung jawab atas krisis ini,” katanya. “Masyarakat internasional perlu berbicara dengan lantang, jelas dan dengan suara tunggal bahwa ini benar-benar tidak dapat diterima, dan pemerintahannya perlu berubah arah.”

Kaum Rohingya telah lama menghadapi diskriminasi berat, dan menjadi sasaran kekerasan mulai pada tahun 2012 yang menewaskan ratusan orang dan menyebabkan sekitar 140.000 orang  yang sebagian besar adalah kaum Rohingya terpaksa mengungsi  dari rumah mereka ke kamp-kamp pengungsi internal, di mana sebagian besar mereka tinggal.

Aung San Suu Kyi telah menyebut peristiwa serangan pada hari Kamis (24/8)  sebagai “sebuah usaha yang diperhitungkan untuk melemahkan usaha mereka yang berusaha membangun perdamaian dan harmoni di negara bagian Rakhine.” (*)

Komentar

Berita Terbaru