oleh

Penurunan Tanah di Lengkong Akibat Ekploitasi Air Berlebihan

-Aceh-22 views

PENANEGERI, Langsa – Penurunan tanah yang terjadi di Gampong Lengkong, Kecamatan Langsa Baro, Kota Langsa disebabkan eksploitasi air tanah yang berlebihan oleh perusahaan yang memiliki Izin Pemanfaatan Air Tanah (SIPA) disekitar lokasi UD Serbaguna Tirta Tika Lestari.

Selain itu, penurunan tanah juga diakibatkan oleh kondisi litologi daerah tersebut yang umumnya merupakan lapisan lunak dengan daya dukung tanah rendah terhadap pembebanan bangunan gedung.

Demikian hasil tim kajian dari Dinas Energi dan Sumber daya mineral Pemerintah Provinsi Aceh, yang disampaikan pada rapat penjelasan hasil dan peninjauan lapangan pengeboran air tanah di Gampong Lengkong dan Gedubang Aceh, Kamis (3/5), di Aula Walikota Langsa.

Berkenaan dengan hal tersebut di atas, maka untuk menghindari terjadi penurunan tanah diperlukan tindakan yakni sumur bor yang terdapat di lokasi UD Serbaguna Tirta Tika Lestari harus dikurangi dari 5 sumur menjadi 1 sumur dan sumur bor disekitar usaha itu dengan radius penurunan air tanah (drowdown) lebih kecil atau sama dengan 70 meter harus ditutup.

Baca Juga  Ribbon Habis, e-KTP di Langsa Tak Bisa Dicetak

Kemudian, dari hasil perhitungan dan pengukuran uji pemompaan diperoleh debit optimum sumur bor yang dapat diberikan izin sebelumnya (9,25 liter/detik) harus dikurangi, karena telah terjadi perubahan kondisi lingkungan keberadaan air tanah di lokasi tersebut.

Sementara, untuk pembangunan rumah atau pembangunan lainnya di Gampong Lengkong, kontruksi bangunannya harus disesuaikan dengan kondisi litologi di daerah tersebut.

Sedangkan, terhadap izin Pemanfaatan Air Tanah (SIPA) di Gampong Lengkong untuk selanjutnya dapat diberikan secara terseleksi dengan melihat kondisi keberadaan air tanah.

Asisten III Pemko Langsa, Alfian SH dalam rapat tersebut, menyampaikan, pengambilan air di sumur bor tidak boleh disedot selama 24 jam maksimal 8 jam perhari.

“Dalam pemberian izin harus meninjau Aspek upaya pengelolaan lingkungan hidup(UKL) dan upaya pemantauan lingkungan hidup (UPL) maka jika tidak disetujui tidak dapat diberikan izin kepada pengeboran air,” tuturnya.

Lanjutnya, Standart pengambilan air untuk mobil tangki kebutuhan 90 kubik perhari dengan 4 liter pedetik pengoboran harus 8 jam. Serta, diharapkan kepada maayarakat harus memiliki kesadaran tinggi masalah perizinan harus melalui seleksi yang ketat.

Baca Juga  Polisi Ringkus Tiga Pengguna Sabu, Satu Diantaranya Oknum PNS Langsa

Rapat tersebut dihadiri, Kepala Bidang Geologi dan Sumber Daya Air (SDA) Pemerintah Aceh, Surya Dharma ST MT, Staf analis keselamatan pertambangan mineral dan batu bara Kementerian ESDM RI, Hadiansyah Mulyadi ST, Staf Bidang Geologi dan Sumber Daya Air (SDA) Pemerintah Aceh, Ikhlas ST, Kadis BPMPTSP Langsa, Abdul Qayum, Kapolsek Langsa Barat, AKP Jamaludin Nasution,  KBO Satintelkam Polres Langsa serta Tuha Peut Gampong Lengkong, Hasimi SE, Pengusaha Air Sumur Bor  Gampong Lengkong, Bagus Ramadan, Pengusaha Air Sumur Bor, Paino D dan masyarakat Gampong Lengkong dan Gampong Geudubang Aceh.

Komentar

Berita Terbaru