oleh

Penyakit Difteri Dinyatakan sebagai KLB (Kejadian Luar Biasa), Bagaimana Agar tidak Tertular ?

PENANEGERI, Kesehatan – Menurut data yang dimiliki Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) terkait merebaknya penyakit difteri, ada lebih dari 600 laporan pasien difteri yang dirawat di 20 provinsi dari mulai sepanjang Januari sampai Desember 2017.

Kementerian Kesehatan mencatat bahwa dalam kurun waktu Januari hingga November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi dengan 593 kasus dan 32 di antaranya yang meninggal dunia akibat serangan penyakit difteri.

Karena kondisi ini tergolong luar bias, Kemenkes akhirnya menetapkan status wabah difteri ini sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Adapun 11 provinsi yang telah melaporkan terjadinya KLB difteri ini antara lain Sumatera Barat, Jawa Tengah, Aceh, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Timur. Menurut laporan dari Kemenkes, Provinsi Jawa Timur dengan wilayah Nganjuk, Malang dan Pasuruan adalah wilayah tertinggi yang terjangkit difteri.

Dari sekian ratus orang yang sudah terinfeksi penyakit tersebut, bukan tidak mungkin orang terdekatnya dapat terinfeksi juga.

Sebenarnya difteri merupakan penyakit lama, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan, sejak tahun 1990-an, kasus difteri di Indonesia ini sudah hampir tidak ada dan baru muncul lagi pada tahun 2009.

Difteri disebabkan infeksi bakteri corynebacterium diphtheriae dan biasanya mempengaruhi selaput lendir hidung dan tenggorokan.

Biasanya, difteri menyebabkan sakit tenggorokan, demam, kelenjar getah bening membengkak dan lemas.

Tapi, ciri difteri yang khas adalah munculnya pseudomembran atau selaput berwarna putih keabuan di bagian belakang tenggorokan yang mudah berdarah jika dilepaskan.

Hal ini yang menyebabkan rasa sakit saat menelan, kadang disertai pembesaran kelenjar getah bening, dan pembengkakan jaringan lunak di leher yang disebut bullneck.

Sumbatan ini bisa menghalangi jalan napas, menyebabkan harus berjuang untuk bisa bernapas.

Oleh karena itu, beberapa hal terpenting yang harus dilakukan adalah menjaga kebersihan, menjaga daya tahan tubuh agar tidak menurun, dan yang terpenting menjalani imunisasi DTP (difteri, tetanus, dan pertusis).

Pasien difteri wajib diberikan pengobatan oleh instalasi kesehatan agar cepat sembuh dan tidak menulari orang per orang.

Memeriksa status imunisasi rutin pada anak-anak apakah sudah lengkap. Jika, belum maka segera dilengkapi. Ikut mendukung pelaksanaan ORI (outbreak response immunization) yang akan dilaksanakan oleh dinkes, yaitu imunisasi untuk pencegahan difteri dengan sasaran anak usia 1 – < 19 tahun.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto menyebut DKI Jakarta telah berstatus kejadian luar biasa (KLB) wabah difteri. Dia mengatakan Dinkes DKI terus berusaha mencegah wabah ini menyebar.

Penetapan status KLB tersebut, lanjutnya, dikarenakan DKI menjadi salah satu wilayah terdekat dari Kota Tangerang, Banten, yang menjadi sumber penyebaran penyakit Difteri. Penetapan status KLB juga dilakukan di daerah lainnya.

“Sumbernya kan di Tangerang kan, jadi kita baik yang ada di Banten maupun Jawa Barat atau DKI juga lakukan itu (penetapan KLB),” tuturnya.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Koesmedi Priharto mengatakan, langkah terbaik menghindari difteri adalah dengan cara melakukan imunisasi rutin.

Imunisasi mesti dilakukan lengkap sejak anak usia 2, 4, 6, dan 18 bulan, 6 tahun, serta 12 tahun.

“Imunisasi selama rentang itu maka akan diberi vaksin difteri paratusis tetanus (DPT),” kata Koesmedi.

Kementerian Kesehatan RI juga menyatakan bahwa Difteri termasuk penyakit menular yang terjadi karena infeksi bakteri.

Bakteri ini merusak selaput lendir pada hidung dan tenggorokan. Cara jitu untuk mencegah tidak tertular difteri biasanya dengan imunisasi difteri.

“Kalau sudah diimunisasi, 95 persen kekebalan tubuh pasti terbentuk dan dijamin mencegah terkena difteri. Tapi harus ada pengulangan suntik lagi. WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) sudah menyarankan, tiap 10 tahun sekali diulang (imunisasinya),” papar Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI Mohammad Subuh, saat konferensi pers Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri di Gedung Ditjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Jakarta, belum lama ini,

Di negara-negara maju, masyarakat sudah sadar diri untuk melakukan pengulangan imunisasi difteri — DPT (Difteri, Pertusis, Tetanus) tiap 10 tahun sekali.

Selain itu juga memakai masker, dan selalu menjaga kebersihan dan selalu mencuci tangan agar terjaga kebersihan.

“Pencegahan ini penting. Karena penularan difteri itu sangat cepat, terutama lewat droplet (percikan air liur). Misalnya, bersin dan batuk,” ujar Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI Mohammad Subuh, saat konferensi pers Kejadian Luar Biasa (KLB) Difteri. (*)

Komentar

Berita Terbaru