oleh

Perahu Pengungsi Rohingya Tenggelam, 15 Tewas dan bisa Bertambah

PENANEGERI, Desk Internasional- Sedikitnya sejumlah 15 orang pengungsi Rohingya, termasuk 10 orang anak-anak, yang melarikan diri dari bencana kekerasan yang terjadi di Myanmar tewas, saat perahu mereka yang penuh sesak tenggelam dalam cuaca buruk di dekat pantai di Teluk Benggali (Bay of Bengal), hari Kamis sore (28/9).

Perahu itu terbalik saat mencoba mendekati pantai, namun kehilangan kendali di laut yang bergelombang cukup tinggi.

Dilaporkan, sepuluh anak Rohingya termasuk di antara pengungsi Rohingya yang tewas dalam musibah perahu tenggelam ini, dikhawatirkan korban masih bisa bertambah.

Beberapa orang saksi di pantai mengatakan mereka melihat beberapa mayat bayi di antara para korban tewas.

Pejabat polisi Bangladesh bernama Chailaw Marma mengatakan bahwa setidaknya ada 10 orang yang terluka dirawat di sebuah rumah sakit di Cox’s Bazar di Bangladesh.

Dia mengatakan bahwa orang-orang Rohingya itu dalam perjalanan melarikan diri dari Myanmar menuju pantai Bangladesh dengan kapal, kemudian kapal perahu itu terbalik dan tenggelam.

Organisasi Internasional untuk Migrasi PBB, yang menetapkan jumlah korban tewas pada pukul 15:00 setempat, mengatakan bahwa ada sekitar 100 orang di perahu saat perahu tersebut terbalik saat kapten mencoba menyandarkannya di dekat pantai, namun kehilangan kendali di laut yang bergelombang cukup tinggi.

Baca Juga  Lebih dari 6.700 Jiwa Rohingya terbunuh di Myanmar

Lebih dari 100 Rohingya berada di atas kapal saat kapal tersebut terbalik di sekitar laut kira-kira pukul 17.30 malam (11:30 GMT) pada hari Kamis dekat dengan Patuwartek, sekitar 8 km dari Pantai Inani di Distrik Bazar Cox.
Tujuhbelas korban selamat ditemukan, bersama 15 mayat wanita dan anak-anak, kata polisi.

Seorang korban selamat bernama Nurul Islam, 22 tahun dari Rathetaung, mengatakan bahwa dia menaiki kapal itu dari Go Zon Dia, sebuah desa Rohingya di sepanjang sungai Naf, pada pukul 10 malam pada hari Rabu (04:00 GMT pada hari Kamis).

Dia membenarkan bahwa lebih dari 100 orang, kebanyakan wanita dan anak-anak, berada di atas kapal. Di antara mereka adalah ibunda Nurul Islam, istri dan anak laki-laki, serta saudara perempuan dan tiga anaknya – semuanya dikhawatirkan menjadi korban atas musibah ini.

“Saya mencoba berpegang pada anak saya, tapi saya tidak bisa,” katanya kepada kantor berita Al Jazeera, seraya dengan ekspresi masih terkejut dan kelelahan.

Baca Juga  Dua Badan PBB dan Pemerintah Myanmar Teken Perjanjian Untuk Kepulangan Pengungsi Rohingya

Ambulans, polisi dan petugas pemadam kebakaran bergegas ke tempat kejadian, begitu pula penduduk setempat membawa obor untuk membantu operasi penyelamatan.

“Ada begitu banyak anak-anak, saya melihat enam mayat terdampar,” seorang saksi bernama Kullia Mia, termasuk di antara mereka yang melompat ke air untuk mencoba dan membantu menyelamatkan nyawa pengungsi lainnya, kepada kantor berita Al Jazeera.

Pengungsi Rohingya masih berbondong-bondong meninggalkan Myanmar, menuju Bangladesh untuk menghindari kekerasan di Myanmar.

Pihak Myanmar tidak mengakui Rohingya sebagai kelompok etnis asli Myanmar, namun menganggapnya sebagai imigran gelap dari Bangladesh.

Insiden kapal tenggelam tersebut terjadi saat Perserikatan Bangsa-Bangsa mengatakan bahwa jumlah orang Rohingya yang telah melarikan diri ke negara tetangga Bangladesh sejak kekerasan meletus di negara bagian Rakhine di Myanmar pada 25 Agustus 2017 telah melampaui setengah juta orang. (*)

Komentar

Berita Terbaru