oleh

Peran Pemuda Global Melawan Terorisme

PENANEGERI, Internasional- Pemuda global harus diberdayakan untuk memerangi terorisme.

Generasi muda adalah target utama bagi para perekrut ekstremis, tetapi pemuda juga dapat memainkan peran kepemimpinan dalam memerangi terorisme, dan menciptakan peluang yang lebih besar bagi semua.

Hal ini dikatakan oleh pembicara pada forum PBB ‘Menanamkan dalam Pemuda untuk Menentang Terorisme’ (‘Investing in Youth to Counter Terrorism’), pada hari Kamis (12/4), seperti dirilis oleh situs resmi PBB.

“Saya tidak setuju bahwa orang muda adalah pemimpin esok hari. Semakin banyak, mereka (pemuda) adalah pemimpin hari ini, ” kata Sekretaris Jenderal PBB António Guterres pada acara tersebut.

“Saya berterima kasih kepada semua wanita  dan pria muda yang meningkatkan dan mengambil tanggung jawab itu,” tambahnya.

“Hampir setengah populasi dunia – 46 persen – berusia 24 tahun atau lebih muda,” kata Sekjen PBB António Guterres. “Afrika dan Timur Tengah memiliki proporsi anak muda tertinggi,” tambahnya.

Radikalisasi pemuda adalah sumber keprihatinan mendalam di negara-negara kaya dan miskin, karena ide-ide beracun (poisonous ideas)  mengalir melintasi perbatasan dengan satu sentuhan tombol atau ketukan media sosial.

Kelompok teroris mengeksploitasi ketidakadilan sosial, ekonomi dan politik untuk menarik orang-orang muda melalui propaganda palsu yang mengagungkan ideologi yang menyimpang, sementara perekrut yang tidak bermoral menggunakan media sosial untuk memancing remaja yang tidak curiga menyusuri jalan-jalan berbahaya (dangerous roads).

Sekjen PBB António Guterres mengamati bahwa “kelompok ekstremis brutal menargetkan dan menanamkani pada orang muda karena mereka sadar akan potensi mereka dan keinginan kuat mereka untuk berubah.” atau “violent extremist groups target and invest in young people because they are aware of their potential and their strong desire for change.”

Sedangkan, Utusan Sekretaris Jenderal PBB untuk Pemuda (Secretary-General’s Envoy on Youth),  Jayathma Wickramanayake, menegaskan, “kenyataannya adalah, sebagian besar pemuda adalah orang yang damai, dan tidak berada dalam bahaya berpartisipasi dalam kekerasan.”

“Sebaliknya,” dia melanjutkan, “ketahanan orang muda mengubah komunitas lokal sambil memerangi gerakan ekstrimis.”

Diskusi pada acara di Markas Besar PBB di New York itu berpusat pada pemenuhan kebutuhan pemuda dalam menghadapi risiko ketidakberdayaan dan pengasingan – membuat mereka rentan terhadap narasi dan perekrutan ekstremis.

“Jika kita serius tentang pencegahan, dan khususnya tentang mencegah konflik, kita perlu serius terlibat dengan dan menanamkan (investing) pada wanita dan pria muda,” kata Sekjen PBB António Guterres.

“Kami membutuhkan keterlibatan dan komitmen mereka, jika kami ingin mencapai Tujuan-tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), mengambil tindakan efektif terhadap perubahan iklim, dan menciptakan dunia yang lebih aman dan lebih damai,” lanjutnya.

Baik Dewan Keamanan PBB dan Majelis Umum PBB juga mengakui pentingnya melibatkan pemuda, dan terus mencari cara untuk perwakilan inklusif mereka dalam pengambilan keputusan di lembaga-lembaga lokal, nasional, regional dan internasional.

Tema umum dari pertemuan hari Kamis (12/4) kemarin adalah perlunya memasukkan kaum muda dalam upaya mencegah dan menyelesaikan konflik, termasuk mencegah ekstremisme kekerasan.

Dalam menyerukan keterlibatan orang-orang muda, Sekjen PBB Antonio Guterres menggambarkan kebutuhan utama mereka (pemuda) adalah : “Pendidikan, pekerjaan, dan pelatihan kejuruan. Investasi, minat, model peran dan sasaran. Partisipasi yang berarti dalam keputusan yang memengaruhi mereka. ”

Dia menekankan bahwa pemuda memiliki suara dan tempat, pada  meja (forum), menambahkan: “Lebih dari itu, kita harus siap untuk pergi ke meja mereka, duduk dan dengarkan.”

Acara bersama ini disponsori oleh Misi Permanen Norwegia dan Pakistan (Permanent Missions of Norway and Pakistan) dan Kantor PBB Kontra-Terorisme atau UN Office of Counter-Terrorism (UNOCT).

UNOCT membantu Negara-negara Anggota dalam memperkuat kapasitas negara-negara anggota untuk memerangi terorisme dan memastikan bahwa kontra-terorisme tetap menjadi prioritas di seluruh Organisasi PBB, sesuai dengan Strategi Anti-Terorisme Global PBB (UN Global Counter-Terrorism Strategy). (*)

 

Komentar

Berita Terbaru