oleh

Peringati Hari ‘Safer Internet Day’ 2018, Untuk Lindungi Anak-anak

PENANEGERI, Internasional- Setiap setengah detik, setiap hari, seorang anak di seluruh dunia online untuk pertama kalinya dengan memanfaatkan semua peluang besar yang ditawarkan oleh Internet.

Namun sekaligus anak-anak yang online atau berselancar di dunia maya juga menghadapi risiko serius.

Hal ini dikemukakan oleh lembaga UNICEF (United Nations Children’s Fund) mengatakan pada hari Selasa, 6 Februari 2018, sebuah seruan untuk tindakan mendesak untuk melindungi anak-anak dari bahaya eksploitasi seksual, penindasan di dunia maya (cyberbullying) dan penyalahgunaan informasi pribadi anak-anak.

“Potensi konektivitas membuat anak lebih mudah terhubung dengan teman sebayanya di manapun di dunia […] adalah alat untuk memberdayakan anak-anak dan keterlibatan dengan komunitas mereka. Namun, konektivitas ini menempatkan mereka pada risiko informasi pribadi mereka, akses terhadap konten berbahaya, dan penindasan di dunia maya (cyberbullying),” kata Sheldon Yett, Perwakilan UNICEF area Pasifik (UNICEF Pacific Representative).

Seperti yang digariskan dalam laporan ‘The State of the World’s Children 2017: Children in a digital world Worldwide’ , satu dari tiga pengguna internet adalah anak-anak, namun terlalu sedikit upaya yang dilakukan untuk melindungi anak-anak dari kemungkinan adanya bahaya di dunia digital.

Baca Juga  Kermit’s New Girlfriend Enrages the Internet

“Setiap hari, ribuan anak-anak akan online untuk pertama kalinya,” kata Laurence Chandy, Direktur Data, Penelitian dan Kebijakan UNICEF (UNICEF Director of Data, Research and Policy) yang menambahkan anak-anak yang online di seluruh dunia juga beresiko menghadapi bahaya, untuk itu waspada terhadap alamat.

“Sementara pemerintah dan sektor swasta telah membuat beberapa kemajuan dalam merumuskan kebijakan dan pendekatan untuk menghilangkan risiko online, lebih banyak usaha harus dilakukan untuk sepenuhnya memahami dan melindungi kehidupan online anak-anak,” tambahnya.

UNICEF bekerja sama dengan pemerintah di Pasifik untuk memberikan program keamanan maya terutama di kawasan Tonga dan Samoa dan memberikan tips atau petunjuk praktis kepada orang tua tentang bagaimana cara melindungi anak-anak mereka secara online.

“Aksi kolektif – oleh pemerintah, sektor swasta, organisasi anak-anak, akademisi, keluarga dan anak-anak sendiri – dibutuhkan untuk menyamakan bidang bermain digital (digital playing field) dan memastikan ruang internet yang lebih aman untuk anak-anak,” kata Laurence Chandy menegaskan.

Laporan tersebut menggarisbawahi bahwa setiap orang berkewajiban untuk melindungi anak-anak di dunia digital, termasuk pemerintah, keluarga, sekolah dan institusi lainnya – dengan catatan khusus bahwa industri teknologi dan telekomunikasi memiliki tanggung jawab yang signifikan untuk membentuk dampak teknologi digital pada anak-anak.

Baca Juga  Kermit’s New Girlfriend Enrages the Internet

UNICEF menyerukan urgensi dan kerjasama baru antara pemerintah, masyarakat sipil, badan-badan PBB dan, yang paling penting, sektor swasta, untuk menempatkan anak-anak sebagai pusat kebijakan digital dengan mengkoordinasikan tanggapan global, regional dan nasional; menjaga privasi anak; memberdayakan anak-anak secara online melalui akses yang lebih adil dan keaksaraan digital; dan berinvestasi pada bukti yang lebih baik tentang akses, peluang dan risiko untuk anak-anak secara online.

“Dalam waktu yang dibutuhkan uantuk mengklik sebuah tautan, seorang anak di suatu tempat mulai menciptakan jejak digital yang tidak harus mempertimbangkan minat terbaik anak untuk mengikuti dan berpotensi mengeksploitasi,” ujar Laurence Chandy menekankan.

“Seiring anak-anak dan kaum muda bergabung di Internet, perlu diskusi serius tentang bagaimana menjaga agar tetap aman online dan mengamankan jejak digital (digital footprint) mereka menjadi semakin mendesak,” pungkasnya. (*)

Komentar

Berita Terbaru