oleh

Persiapan Jelang Musim Hujan Monsoon di Kamp Pengungsi Rohingya

PENANEGERI, Internasional- Menjelang musim hujan monsoon, PBB mendukung upaya Bangladesh untuk melindungi kamp Rohingya dari banjir akibat musim hujan monsoon.

Badan pengungsi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan mitranya terus berupaya membantu upaya Bangladesh untuk mengurangi beberapa dampak dari musim hujan yang akan datang di negara ini, di mana, menurut analisis risiko awal, setidaknya 100.000 pengungsi Rohingya beresiko terkena bahaya dari tanah longsor dan banjir.

“Kondisi cuaca buruk, termasuk siklon potensial, bisa menempatkan puluhan ribu pengungsi Rohingya tinggal di pemukiman yang sangat padat di distrik Cox’s Bazar dengan risiko serius,” kata Andrej Mahecic, juru bicara Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UN High Commissioner for Refugees- UNHCR) kepada wartawan pada konferensi pers reguler di Jenewa, Swiss, pada hari Jumat, 2 Februari 2018, seperti dirilis dalam situs resmi PBB.

Temuan analisis risiko awal di daerah pemukiman pengungsi terbesar di dunia di kawasan Kutapalong dan Balukhali menunjukkan bahwa setidaknya 100.000 orang Rohingya dari lebih dari 569.000 orang pengungsi Rohingya mungkin berada dalam resiko bahaya besar jika terjadi bahaya tanah longsor dan banjir.

Baca Juga  Digelar Aksi Demo Solidaritas Bela Muslim Myanmar

Sampai sepertiga wilayah pemukiman bisa banjir. Akibatnya, lebih dari 85.000 pengungsi bisa kehilangan tempat penampungan mereka. Juga 23.000 pengungsi lainnya yang tinggal di lereng curam di dalam lokasi dapat berisiko mengalami tanah longsor, kata Andrej Mahecic.

Layanan utama di pemukiman juga berisiko hanyut jika terjadi banjir, termasuk jamban, kamar kecil, sumur tabung, dan pusat kesehatan, dan akses jalan ke permukiman dapat diblokir dan tidak dapat diakses oleh kendaraan, sehingga sulit memberikan bantuan darurat. Ada juga risiko tinggi untuk situasi kesehatan masyarakat, terutama wabah penyakit menular, tambahnya.

Pemerintah Bangladesh telah mengakui dan berkomitmen untuk menangani masalah ini, sementara mitra PBB dan mitra kemanusiaan telah membentuk kelompok kesiapsiagaan darurat untuk mengkoordinasikan usaha-usaha ini.

UNHCR telah mengambil sejumlah langkah, termasuk penyediaan karung biodegradable untuk membantu menyokong struktur tanah di kondisi hujan lebat.

Beberapa pekerjaan juga sedang dilakukan untuk membangun jalan setapak dan tangga bambu yang diperkuat, mengangkat jembatan, dinding penahan bambu / bata / beton untuk stabilisasi tanah dan jaringan drainase.

Baca Juga  Krisis Pengungsi Berlanjut, Anak-anak Rohingya Terkena Dampak

Pekerjaan dijadwalkan akan dimulai dalam beberapa minggu ke depan untuk meratakan beberapa puncak bukit yang curam untuk mengurangi risiko tanah longsor, dan juga untuk meningkatkan jumlah area yang dapat digunakan.

Sebuah relokasi beberapa keluarga yang tinggal di bagian yang paling genting dari kamp juga akan segera dimulai.

Sistem peringatan dini juga diberlakukan, dengan kampanye informasi publik juga sedang berjalan. UNHCR juga bekerja sama dengan pihak berwenang Bangladesh dan badan-badan operasional utama lainnya untuk memposisikan materi dan mesin pengangkat berat.

Krisis kemanusiaan yang disebabkan oleh meningkatnya kekerasan yang telah mendorong Muslim Rohingya dari negara bagian Rakhine di Myanmar menyebabkan penderitaan dalam skala bencana. Per tanggal 11 Desember, ada hampir 860.000 jiwa pengungsi Rohingya di Cox’s Bazar – yang 655.000 orang telah tiba sejak 25 Agustus 2017. (*)

Komentar

Berita Terbaru