oleh

Presiden Erdogan : Yerusalem adalah ‘Garis Merah’ Bagi Umat Islam

PENANEGERI, Internasional – Negara Turki mengancam memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel jika AS mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan telah mengancam memutuskan hubungan diplomatik dengan Israel, terkait adanya kabar bahwa Amerika Serikat berencana untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Langkah tersebut akan menjadi “garis merah” bagi umat Islam, demikian tegas Presiden Erdogan pada hari Selasa (5/12), seperti dikutip oleh Kantor Berita Al Jazeera.

Menjadi ‘Garis Merah’ artinya adalah Yerusalem menjadi masalah yang sangat penting.

Hal ini terkait muncul kabar pada hari Jumat minggu lalu bahwa Presiden AS Donald Trump mempertimbangkan untuk mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel, sebuah langkah yang akan dilambangkan dengan memindahkan kedutaan besar (Kedubes) AS dari Tel Aviv ke Yerusalem.

Namun kemudian rencana tersebut menuai kritik dari sejumlah pemimpin dunia, yang khawatir akan semakin meningkatkan ketegangan regional.

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan kepada Presiden Trump melalui telepon bahwa status Yerusalem harus diputuskan dalam perundingan damai antara Israel dan Palestina.

Liga Arab juga langsung mengadakan pertemuan darurat pada hari Selasa (5/12) untuk membahas perkembangan status Yerusalem, setelah sebuah permintaan oleh pejabat Palestina.

Penasihat diplomatik Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengatakan bahwa pimpinan Palestina akan memutus kontak dengan Amerika Serikat jika mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel.

Status Jerusalem adalah aspek yang sangat sensitif dari konflik Israel-Palestina. Israel mengklaim kota Yerusalem sebagai ibukotanya, menyusul pendudukan Yerusalem Timur dalam perang 1967.

Namun di sisi lain warga Palestina telah lama melihat Yerusalem Timur sebagai ibukota negara mereka di masa depan.

Tidak ada negara yang saat ini memiliki kedutaan besarnya (Kedubes) di Yerusalem, dan masyarakat internasional, termasuk Amerika Serikat, tidak mengakui yurisdiksi dan kepemilikan Israel atas kota Yerusalem tersebut.

Presiden Donald Trump juga mempertimbangkan untuk memindahkan kedutaan besar AS di Israel ke Yerusalem.

Juru bicara Gedung Putih Hogan Gidley mengatakan sebuah pengumuman akan dibuat “dalam beberapa hari mendatang” : “Bukan masalah apakah, ini masalah kapan,” katanya.

Namun, Trump diperkirakan akan terus menunda memindahkan kedutaan besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem, meski dia berjanji akan melakukannya.

Kongres AS telah mengeluarkan undang-undang pada tahun 1995 untuk memindahkan kedutaan pada tahun 1999, namun sebuah ketentuan dalam undang-undang mengizinkan presiden untuk menandatangani pengabaian setiap enam bulan, untuk kepentingan keamanan nasional.

Setiap presiden sejak tahun 1998 telah melakukan penundaan pemindahan Kedubes AS ke Yerusalem, termasuk Presiden Trump pada bulan Juni.

Batas akhir pengabaian saat ini akan berakhir pada hari Senin. (*)

Komentar

Berita Terbaru