oleh

Pulangnya Militan Teroris Asing, Berpotensi Timbulkan Masalah Baru

PENANEGERI, Internasional – Kepala kantor United Nations Office against Terrorism, atau PBB urusan Kantor Kontra Terorisme mengingatkan bahwa pulangnya kembali militan teroris asing ke negara-negara asal berpotensi sebagai ‘tantangan besar tanpa solusi mudah’.

Dengan ekstremis kekerasan yang telah menderita kekalahan di Suriah dan Irak, masyarakat internasional harus meningkatkan kerja sama untuk mengatasi masalah kompleks yakni militan teroris asing yang pulang atau bepergian ke daerah lain.

Hal ini dikatakan oleh Under-Secretary-General UN Office of Counter-Terrorism, atau Kepala Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Kontra Terorisme, Vladimir Voronkov, kepada Dewan Keamanan PBB pada hari Selasa, minggu lalu.

Vladimir Voronkov, mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa pada suatu waktu, lebih dari 40.000 fighter (petempur) dari lebih 110 negara telah bergabung dengan kelompok-kelompok teroris yang berperang di Suriah dan Irak.

“Ancaman yang berasal dari fighter (petempur) teroris asing mempengaruhi semua Negara Anggota, bahkan yang berada jauh dari zona konflik,” katanya, sambil menujukkan skala masalah tersebut dalam sebuah briefing ke Dewan Keamanan PBB, baru-baru ini.

Memperhatikan bahwa kemenangan militer terhadap apa yang disebut Negara Islam Irak dan Levant (ISIL/ISIS atau Daesh) telah “secara signifikan menurunkan” arus masuk ke wilayah tersebut, maka para kombatan telah mencoba untuk pindah ke Libya, Yaman dan Afghanistan – memicu konflik yang ada di negara-negara ini.

Sementara itu, sekitar 5.600 kombatan dari 33 negara telah kembali ke rumah, banyak diantaranya yang dilengkapi untuk melancarkan serangan di tanah air mereka, atau menggalang rekrutan baru.

“Kembalinya para fighter teroris asing menimbulkan tantangan besar tanpa solusi mudah,” lanjut Voronkov.

“Respons yang menggoda, dan yang pasti yang paling mudah, akan melemparkan mereka yang kembali ke penjara […] Tetapi kepatuhan penuh terhadap hukum internasional sangat penting untuk memerangi ancaman fighter teroris asing,” tegasnya.

Sementara itu, Michÿle Coninsx  selaku Direktur Eksekutif  Direktorat Komite Eksekutif Kontra Terorisme (Counter-Terrorism Committee Executive Directorate (CTED), mengakui tantangan signifikan yang ditimbulkan oleh ancaman teroris global.

Dia mencatat tingkat percepatan dimana para fighter teroris asing kembali ke negara asal mereka atau menuju ke negara ketiga, bersamaan dengan peningkatan persentase plot teroris yang mengakibatkan korban jiwa.

“Perhatian khusus adalah meningkatnya kecenderungan serangan yang dilakukan oleh ‘lone terrorists’ (teroris-teroris tunggal), yang sering dipandu oleh ‘handler’ atau ‘penangan’ yang berada di belahan dunia lain,” ujar dia menggarisbawahi.

“Banyak serangan baru-baru ini yang tampaknya terinspirasi oleh ISIL (ISIS), yang dilakukan atas nama ISIL, atau diklaim oleh ISIL, pada awalnya dilaporkan sebagai serangan ‘lone actor’ atau ‘aktor tunggal’. Penyelidikan selanjutnya menunjukkan bahwa individu tersebut mendapat dukungan atau sumber daya dari tempat lain, seringkali melalui media internet atau sosial, ” tambah Coninsx, menunjukkan bahwa para teroris juga semakin canggih menggunakan teknologi baru untuk mentransfer dana ke pelaku -pelaku tunggal atau lone terrorist (para teroris tunggal).

Dia menyebutkan sejumlah tantangan dalam memerangi  teroris asing. Dengan mengatakan bahwa, “Kerja sama internasional terus dirongrong oleh tantangan praktis dan politis, dan juga karena kepatuhan terhadap kewajiban hak asasi manusia yang tidak konsisten.”

Direktur Eksekutif CTED mendukung pentingnya memperkuat kemitraan antara dan di antara Negara-negara Anggota, badan-badan PBB dan organisasi mitra, dengan menyatakan: “Dibutuhkan jaringan untuk mengalahkan jaringan.”

“It takes networks to beat networks” ujarnya seperti dirilis oleh situs resmi berita PBB baru-baru ini. (*)

Komentar

Berita Terbaru