oleh

Puluhan Nelayan Seruway Bakar Kapal Pukat Harimau

PENANEGERI, Aceh Tamiang – Nelayan tradisional Desa Pusong Kapal, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang melampiaskan amarahnya dan membakar sebuah kapal motor pukat harimau (Trawl) milik Warga Aceh Timur yang kerap beroperasi diperairan Tamiang, Senin pagi (6/3).

Informasi yang dihimpun Penanegeri.com, peristiwa itu terjadi di perairan Ujung Tamiang, Kecamatan Seruway, sekitar pukul 08.20 WIB. Sebelumya, para nelayan melihat satu unit kapal motor pukat harimau tengah beroperasi diperairan laut dangkal, tempat para nelayan tradisional mencari ikan. Pukat trawl tersebut diawaki lima orang ABK dan satu tekong (nahkoda) yang sedang menebar jaring pukatnya untuk menangkap ikan.

Para nelayan yang tidak terima lokasinya dijarah kapal pukat harimau, langsung mendatangi kapal tersebut secara beramai – ramai, kemudian mengamankan para ABK ke pinggir Pantai Pusung Cium. Para nelayan yang berjumlah sekitar 30 (tiga puluh) orang tersebut membakar kapal pukat tersebut ditengah laut.

“Ada sekitar 30 (tiga puluh) boat nelayan tradisional yang mendatangi kapal pukat harimau itu. Mereka terbukti sedang menarik jaring trawl, kemudian dihentikan dan kapalnya ditarik kepinggir lalu dibakar,” ungkap Bramsyah yang kini menjabat Datok Penghulu Desa Pusong Kapal, Senin (6/3).

Baca Juga  Puluhan Nelayan Aceh Barat Jual Perahu Sebagai Wujud Solidaritas

Menurutnya, kapal trawl tersebut sudah pernah ditangkap para nelayan beberapa bulan yang lalu dan sudah diselesaikan secara musyawarah oleh nelayan setempat dengan menasehati untuk tidak mengulangi menangkap ikan di perairan Tamiang menggunakan pukat harimau.

Saat ini, tambah Bramsyah, ke enam ABK telah dibawa ke Pos TNI AL Seruway. “Tadinya mau dibawa ke Polsek, tapi tidak jadi. Informasinya sudah ditangani Lanal Lhokseumawe karena kejadiannya diperairan. Saat ini ABK-nya masih diamankan di Pos TNI AL Seruway,” jelasnya.

Para nelayan tradisional Seruway berharap, tidak ada lagi penangkapan ikan menggunakan kapal pukat trawl dilokasi nelayan tradisional. Jika mau beroperasi menggunakan pukat harimau dipersilahkan, namun harus ditengah laut diluar jangkauan nelayan tradisional.

“Memang selama ini pukat harimau sering beroperasi, tapi jangan sampai masuk dilokasi nelayan tradisional, karena bisa merusak ekosistem laut dan mengurangi pencarian nelayan kita,” ujarnya.

Kapolsek Seruway, AKP Sumasdiono yang dikonfirmasi Penanegeri.com via telepon selulernya, menjelaskan, sejauh ini para ABK dari kapal motor pukat harimau berjumlah enam orang dan belum diserahkan ke Polsek. Para ABK langsung diselamatkan oleh personel gabungan TNI AL Pos Seruway, personel Pol Air, Koramil dan Polsek Seruway saat berada diperairan untuk menghindari amukan massa.

Baca Juga  Nelayan Natuna Merasakan Efek Penenggelaman Kapal oleh Menteri Susi

Sumasdiono menambahkan, pembakaran kapal dilakukan oleh puluhan nelayan yang tidak terima adanya kapal trawl beroperasi bebas dilokasi mereka mencari ikan.

“Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa itu. Seluruh ABK belum diserahkan ke Polsek, masih berada  di Pos TNI AL, karena mereka yang mengamankan lebih awal,” tandasnya.

Komandan Pos TNI AL Seruway, Jalaludin membenarkan para ABK masih berada di Poskamla TNI AL untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Menurutnya, kejadian tersebut hanya salah paham dan bisa diselesaikan secara musyawarah.

“Para ABK tidak menuntut dan kedua belah pihak akan meminta maaf, karena ini hanya salah paham saja,” tutur Jalaludin di kantornya.

Adapun data dan nama para ABK yang diamankan yakni, Muhajir (22) tekong kapal, Ridwan (37) ABK, Riduwan (24) ABK, Abdullah (40) ABK, Muslim (33) ABK dan Syaifuddin (30) ABK. Ke enam awak kapal tersebut merupakan warga Desa Seunebok Aceh, Kecamatan Peurelak, Aceh Timur.

Komentar

Berita Terbaru