oleh

Pusat Rehabilitasi BNN Raih ISO 9001 Standar Manajemen dan Pengelolaan Lingkungan

PENANEGERI, Jakarta- Enam pusat rehabilitasi BNN (Badan Narkotika Nasional) telah mendapatkan sertifikasi ISO 9001:2015 tentang standar manajemen pelayanan, yaitu antara lain Balai Besar Rehabilitasi Lido Jabar, Balai Rehabilitasi Baddoka, Sulsel, Balai Rehabilitasi Tanah Merah Kaltim, Balai Rehabilitasi Deli Serdang Sumut, Loka Rehabilitasi Batam Kepri dan Kalianda Lampung.

Sementara itu ISO 14001:2015 tentang sistem pengelolaan lingkungan baru diperoleh Balai Besar Rehabilitasi Lido dan Baddoka. Sertifikat ISO ini secara langsung diserahkan oleh British Standard Institution (BSI) Indonesia yaitu sebuah lembaga yang melakukan proses penilaian atau assessment dan juga audit sejak November 2016 lalu hingga mengeluarkan sertifikat ISO untuk BNN.

Deputi Rehabilitasi BNN, Dr. dr. Diah Setia Utami, Sp.KJ., MARS menjelaskan bahwa sebuah institusi memang membutuhkan adanya standarisasi baik dalam konteks mutu manajemen pelayanan dan juga pengaturan lingkungan. Menurutnya, untuk saat ini, standar yang sudah dikantongi baru dalam aspek manajemen pelayanan dan lingkungan.

“Ya, ini adalah langkah yang belum pernah dilakukan sebelumnya oleh fasilitas rehabilitasi BNN, ketika kita sudah memperbaiki mutu manajemen layanan dan lingkungan tentu ke depannya akan lebih mudah untuk mendapatkan standar-standar lainnya baik itu dalam rangka program, SDM dan lainnya”, imbuh Diah usai kegiatan penyerahan ISO 9001:2015 dan ISO 14001:2015, di Jakarta,(3/5).

Baca Juga  Polisi Filipina Tembak Mati Walikota dan Istrinya dalam Razia Narkoba

Usai mendapatkan standar dalam hal manajemen dan lingkungan ini tentu ada ekspekstasi yang tinggi, mengingat BNN sedang dalam berupaya untuk mencapai standar nasional dan menjadi percontohan bagi pusat rehabilitasi lainnya.

Proses Rehabilitasi

Untuk dapat menjalani rehabilitas di BNN maka calon yang mengajukan ingin direhabilitasi harus melalui proses asesment atau penilaian terlebih dahulu.

Seperti pada kasus tertangkapnya rapper Iwa K bawa ganja baru-baru ini yang juga diberitakan di media ini dimana kemudian Iwa K minta direhablitasi, maka pada Iwa K dilakukan proses asesment sebelum direhabilitasi.

Para calon penghuni terlebih dahulu akan mendapatkan tes laboratorium serta penilaian atau assesment. Mulai dari tes urine sampai dengan tes rambut.

Hasil dari tes laboratorium dan tes urine kemudian akan dilakukan detoksifikasi,setelah itu masuklah mereka dalam proses re-entry rehabilitasi.

Tahun 2014 lalu, pemerintah Indonesia telah menerbitkan Peraturan Bersama tentang Penanganan Pecandu Narkotika dan Korban Penyalahgunaan Narkotika ke dalam Lembaga Rehabilitasi.

Merujuk pada Undang-Undang No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika dan Peraturan Pemerintah No. 25 tahun 2011 tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika, inilah dasar hukum untuk upaya dan langkah merehabilitasi pengguna narkoba.

Baca Juga  Kapal Berbendera Singapura Bawa Muatan 1,6 Ton Sabu Ditangkap

Para pengguna narkoba itu tidak lagi ditempatkan sebagai pelaku tindak pidana atau kriminal, dengan melaporkan diri pada Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) yang diresmikan sejak tahun 2011. Saat ini, sudah tersedia 274 IPWL di seluruh Indonesia dari berbagai lembaga, termasuk Puskesmas, Rumah Sakit dan Lembaga Rehabilitasi Medis, baik milik Pemerintah atau Swasta.

Seluruh IPWL yang tersedia memiliki kemampuan melakukan rehabilitasi medis, termasuk terapi simtomatik maupun konseling. Untuk IPWL berbasis rumah sakit, dapat memberikan rehabilitasi medis yang memerlukan rawat inap.

Ada tiga tahap rehabilitasi narkoba yang harus dijalani. Pertama, tahap rehabilitasi medis (detoksifikasi) yaitu proses pecandu menghentikan penyalahgunaan narkoba di bawah pengawasan dokter untuk mengurangi gejala putus zat (sakau).

Tahap kedua, yaitu tahap rehabilitasi non medis dengan berbagai program di tempat rehabilitasi, misalnya program therapeutic communities (TC), program 12 langkah dan lain-lainnya.

Kemudian tahap terakhir yaitu tahap bina lanjut yang akan memberikan kegiatan sesuai minat dan bakat. Selain itu, pencandu yang sudah berhasil melewati tahap ini dapat kembali ke masyarakat, baik untuk bersekolah atau kembali bekerja. (*)

Komentar

Berita Terbaru