oleh

Reporters Sans Frontières (RSF) : 65 Wartawan Terbunuh di Seluruh Dunia pada 2017

PENANEGERI, Internasional – Sebanyak 65 orang wartawan terbunuh di seluruh dunia dalam tahun 2017, menurut laporan yang dirilis oleh lembaga organisasi Reporters Without Borders atau dalam bahasa Prancis :  Reporters Sans Frontières (RSF).

Dalam laporan tahunannya yang dipublikasikan pada hari Selasa (19/12), RSF yang berbasis di Prancis mencatat penurunan jumlah korban tewas dari 79 wartawan tahun lalu yang tewas terbunuh di seluruh Dunia.

Dalam hitungan tahun ini, 39 orang wartawan dari beragam wilayah di Dunia dibunuh dan ditargetkan secara sengaja karena laporan berita mereka, sementara 26 adalah wartawan korban konflik.

“Meskipun jumlah wartawan terbunuh lebih sedikit, situasi di lapangan belum membaik, sayangnya,” Alexandra El Khazen, kepala desk Timur Tengah lembaga tersebut, seperti dirilis oleh Kantor Berita Al Jazeera.

“Kami masih sangat khawatir, meski jumlahnya kurang mengkhawatirkan dibanding tahun lalu,” katanya melalui telepon dari Paris.

Untuk tahun keenam berturut-turut, Suriah adalah negara yang paling mematikan bagi wartawan dengan 12 orang tewas terbunuh di Suriah, diikuti oleh Meksiko dengan angka  11 orang wartawan tewas terbunuh di Meksiko.

RSF mengatakan bahwa penurunan jumlah keseluruhan mungkin adalah merupakan hasil lobi terhadap pemerintah oleh LSM dan kelompok Hak Asasi Manusia.

Wartawan yang meninggalkan negara-negara yang menjadi terlalu berbahaya, juga turut menyebabkan angka kecenderungan menurun, katanya.

Pada tanggal 1 Desember, lembaga RSF juga menemukan bahwa 326 wartawan – kurang dari 348 tahun lalu – ditahan sehubungan dengan penyediaan berita dan informasi.

Sementara itu, Komite untuk Perlindungan Wartawan (Committee to Protect Journalists -CPJ), dalam laporannya yang dipublikasikan awal bulan ini, mengatakan bahwa terdapat sejumlah 262 orang wartawan di seluruh dunia yang dipenjarakan karena pekerjaan mereka pada tahun 2017.

Dalam laporan tahunannya, RSF mencakup jurnalis warga, jurnalis profesional dan pekerja media.

Laporan tersebut muncul saat reporter kantor berita Al Jazeera Mahmoud Hussein yang telah dipenjara satu tahun penahanan di sel penjara Mesir.

Mahmoud Hussein adalah wartawan Al Jazeera, yang juga seorang warga negara Mesir yang berbasis di Qatar, telah ditahan dan diinterogasi oleh pemerintah Mesir pada 20 Desember tahun 2016 lalu setelah dia melakukan perjalanan ke Kairo untuk berlibur.

Dia dituduh “menghasut terhadap institusi negara dan menyiarkan berita palsu dengan tujuan menyebarkan kekacauan”.

Kantor Berita Al Jazeera telah menolak tuduhan tersebut terhadap wartawannya dan mendesak pembebasannya tanpa syarat.

Menurut catatan perhitungan RSF, China dan Turki memenjarakan sebagian besar wartawan tahun ini dengan 52 dan 42 masing-masing.

“Serangan terhadap media dan jurnalis di dunia telah menjadi lebih umum, dan sekarang ada banyak orang kuat yang sedang meningkat,” kata El Khazen dari RSF.

Dia mengemukakan keprihatinan atas “ketidakpercayaan terhadap media”, terutama di negara-negara “demokratis”.

“Wartawan tidak hanya ditargetkan di negara-negara non-demokratis atau wilayah zona perang tapi juga semakin banyak di negara-negara demokrasi di mana kita telah mengalami  jaman kebenaran palsu, propaganda, berita palsu dan penindasan kebebasan,” kata El Khazen.

Pada 2017, jumlah jurnalis perempuan meningkat dua kali lipat dibandingkan tahun lalu, kata RSF.

Penembakan fatal terhadap Gauri Lankesh seorang jurnalis India sekaligus kritikus pemerintah yang blak-blakan,  di kampung halamannya di Bangalore memicu kemarahan di seluruh negeri.

Majelis Umum PBB mengadopsi sebuah resolusi pada tanggal 20 November untuk melindungi jurnalis wanita dari diskriminasi seksis, kekerasan dan pelecehan.

Tapi sekarang ada tekanan yang meningkat pada pemerintah dan badan internasional oleh kelompok hak asasi manusia dan pekerja media untuk melindungi wartawan di tempat kerja.

“Yang dibutuhkan sekarang adalah lebih banyak kampanye untuk meminta pembebasan segera wartawan di balik jeruji besi,” kata wartawan Al Jazeera, Baher Mohamed, yang pernah dipenjara di Mesir pada tahun 2013.

Dia menambahkan: “Yang kita butuhkan sekarang adalah satu sikap tegas dari semua wartawan di seluruh dunia untuk membela rekan kerja kita.” (*)

Komentar

Berita Terbaru