oleh

Resistensi Terhadap Obat Antibiotik dalam Infeksi Umum

PENANEGERI, Kesehatan – Badan kesehatan dunia PBB WHO menemukan resistensi antibiotik tingkat tinggi terhadap infeksi yang paling umum di dunia.

Antimikroba (Antimicrobials) telah menjadi pendorong kemajuan medis dan kemasyarakatan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Namun penggunaan berlebihan antimikroba telah menghasilkan bakteri resisten antibiotik.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan data surveilans baru pada hari Senin, 29 Januari 2018, yang mengungkapkan sebagian resistensi yang meluas terhadap infeksi paling umum di dunia, termasuk E. coli dan pneumonia.

“Laporan tersebut mengkonfirmasikan situasi resistensi antibiotik yang serius di seluruh dunia,” ujar Dr. Marc Sprenger, direktur Antimicrobial Resistance Secretariat WHO, mengatakan pada peluncuran Sistem Pengawasan Antimikroba Global (Global Antimicrobial Surveillance System- GLASS), seperti diberitakan oleh situs resmi PBB, hari Senin (29/1).

Bakteri resisten yang paling sering dilaporkan adalah Escherichia coli, Klebsiella pneumoniae, Staphylococcus aureus dan Streptococcus pneumoniae, diikuti oleh Salmonella spp.

Meskipun sistem ini tidak mencakup data tentang resistensi Mycobacterium tuberculosis, yang menyebabkan TBC, WHO telah melacak dan memberikan pembaruan tahunan sejak 1994, dalam laporan Global tuberculosis.

Di antara pasien dengan dugaan infeksi aliran darah, proporsi bakteri yang resisten terhadap paling sedikit satu antibiotik yang paling banyak digunakan berkisar antara nol sampai 82 persen – di antara negara-negara yang berbeda.

Ketahanan terhadap penisilin, yang telah digunakan selama puluhan tahun untuk mengobati pneumonia, berkisar antara nol sampai 51 persen di antara negara-negara yang melaporkan. Dan antara 8 sampai 65 persen E. coli yang terkait dengan infeksi saluran kencing menunjukkan resistensi terhadap antibiotik yang biasa digunakan untuk mengobatinya, ciprofloxacin.

“Beberapa infeksi paling umum di dunia – dan berpotensi paling berbahaya – terbukti tahan obat,” ujar Dr. Sprenger mengamati.

“Dan yang paling mengkhawatirkan, patogen tidak menghormati batas negara,” tambahnya.

Sampai saat ini, 25 negara berpenghasilan tinggi, 20 negara berpenghasilan menengah dan 7 negara berpenghasilan rendah terdaftar dalam Sistem Pengawasan Antimikroba Global WHO (Global Antimicrobial Surveillance System).

Untuk laporan pertama, 40 negara memberikan informasi mengenai sistem surveilans nasional dengan 22 negara juga menyediakan data mengenai tingkat resistensi antibiotik.

“WHO mendorong semua negara untuk menyiapkan sistem surveilans yang baik untuk mendeteksi resistansi obat yang dapat menyediakan data ke sistem global ini,” ujar Dr. Sprenger menegaskan.

Kualitas dan kelengkapan data dalam laporan Global Antimicrobial Surveillance System (GLASS) pertama ini sangat bervariasi. Beberapa negara menghadapi tantangan besar dalam membangun sistem pengawasan nasional mereka, termasuk kurangnya personil, dana dan infrastruktur.

“Laporan ini merupakan langkah awal yang penting untuk meningkatkan pemahaman kita tentang tingkat resistensi antimikroba. Pengawasan masih dalam tahap awal, namun sangat penting untuk mengembangkannya jika kita ingin mengantisipasi dan mengatasi salah satu ancaman terbesar terhadap kesehatan masyarakat global, ” jelas Dr. Carmem Pessoa-Silva, koordinator sistem surveilans WHO.

WHO mendukung negara-negara dalam membentuk sistem pengawasan ketahanan antimikroba nasional untuk menghasilkan data yang andal dan bermakna, dengan Global Antimicrobial Surveillance System (GLASS)membantu untuk membakukan pengumpulan data untuk gambaran pola dan tren yang lebih lengkap.

Program surveilans resistansi obat yang ketat dalam tuberkulosis, HIV dan malaria telah berfungsi selama bertahun-tahun – memperkirakan beban penyakit, merencanakan layanan diagnostik dan pengobatan, memantau efektivitas intervensi pengendalian dan merancang pengobatan yang efektif untuk mengatasi dan mencegah resistensi di masa depan. Global Antimicrobial Surveillance System (GLASS) diharapkan dapat melakukan fungsi serupa untuk bakteri patogen umum. (*)

Komentar

Berita Terbaru