oleh

RI akan Impor Garam dari Australia

PENANEGERI, Nasional – Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Darmin Nasution menegaskan Indonesia terpaksa harus mengimpor garam. Hal ini dilakukan untuk menstabilkan harga garam yang melonjak.

Pemerintah memutuskan membuka keran impor garam sebagai langkah menurunkan harga garam di dalam negeri. PT Garam diminta segera mengajukan perizinan impor garam, agar pasokan dalam negeri segera terpenuhi dan stabil.

Menurut Darmin, Australia sebagai penghasil industri garam terbesar di dunia bisa jadi dipilih pemerintah untuk mencukupi pasokan garam dalam negeri. Rencananya pemerintah akan mengimpor total kekurangan garam sekitar 75 ribu ton.

Sebelumnya, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menyatakan telah mengeluarkan izin impor garam industri dari Australia untuk mengatasi kelangkaan. Sementara itu, PT Garam (Persero) menyatakan juga akan mengimpor garam dari Australia. Pasokan garam impor akan mulai masuk Indonesia pada awal Agustus 2017.

Menteri P‎erdagangan (Mendag) Enggartiasto Lukita mengaku telah berkomunikasi dengan pemerintah dan PT Garam ‎terkait rencana impor garam. Langkah impor diambil untuk meredam kenaikan harga yang terjadi belakangan terakhir akibat pasokan yang menipis.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Darmin Nasution, mengatakan masalah kelangkaan dan melonjaknya harga garam akan menjadi pelajaran berharga bagi Pemerintah Indonesia untuk membenahi sektor hulu industri tersebut.

“Tentu ini pelajaran yang sangat berharga karena tidak elok lah garam saja kita tidak bisa menghasilkannya. Itu berarti kita harus turun ke petaninya,” kata Darmin Nasution di sela pembukaan Seminar Nasional Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI), di Kota Pekanbaru, Riau, Senin (31/7).

Ia mengatakan pemerintah perlu memperhatikan bagaimana meningkatkan produktivitas garam, mulai dari peningkatan infrastruktur dan pergudangan hingga tingkat petani.

“Kalau untuk bekerja, mereka (petani) pasti bisa. Tapi gudangnya bagaimana, itu yang harus diperhatikan,” ucapnya.

Mengenai keputusan pemerintah mengimpor garam, Menko Darmin mengatakan kondisi sekarang sudah terlalu sulit untuk dibenahi dengan cepat untuk mengatasi masalah garam.

“Ada ketidakselarasan sedikit tapi sudah selesai. Apa boleh buat, kita harus impor garam karena situasi ini sudah terlanjur sulit. Bukan hanya garam untuk konsumsi kurang, (tapi) harga sudah terlalu tinggi,” jelas menko Darmin Nasution, Senin (31/7).

Garam Menjadi Viral

Garam sempat menjadi buah bibir viral perbincangan hangat di masyarakat dan media sosiail, karena hargangaram yang melonjak naik

Produksi garam yang dinilai gagal tiga tahun terakhir diduga menjadi pemicu. Akibatnya, terjadi kelangkaan di mana-mana. Akibatnya harga garam naik fantastis dari yang semula Rp 700 ribu menjadi Rp 4 juta per ton. Dampak dari krisis garam.

Garam, dibutuhkan keberadaannya. Mulai dari ibu rumah tangga, perajin ikan asin, usaha peternakan, bahkan pabrikan.

Kelangkaan garam terjadi dalam beberapa waktu terakhir ini salah satunya disebabkan faktor cuaca yang menyebabkan adanya anomali cuaca yang menjalar keseluruh belahan dunia. Hal ini membuat beberapa negara juga mengalami kenaikan harga garam karena pasokan menurun.

Menko Darmin mengungkapkan, kebijakan impor garam ini menjadi pelajaran berharga bagi pemerintah untuk membenahi infrastruktur garam mulai dari tingkat petani garam hingga siap diolah dan dikemas sebagai komoditas industri. (*)

Komentar

Berita Terbaru