oleh

Rohingya Putus Asa, Gunakan Rumah sebagai Rakit untuk Lari Menyeberang

PENANEGERI, Desk Internasional – Para pengungsi Rohingya yang makin putus asa, terpaksa menggunakan rakit buatan untuk sampai ke Bangladesh. Rakit-rakit darurat ini dibuat seadanya dari kayu bekas bangunan rumah.

Hal ini membuktikan bahwa para pengungsi Rohingya yang semakin putus asa nekat lari dari Myanmar dengan memakai rakit darurat untuk menyeberangi Sungai Naf ke Bangladesh.

Selama 10 hari terakhir, puluhan rakit darurat yang membawa lebih dari seribu orang menyeberang dari Myanmar ke Bangladesh.

Hal ini membuktikan bahwa para pengungsi Rohingya yang kepepet dan makin tergencet hidup dalam ketakutan di Myanmar, terpaksa menggunakan cara-cara yang sangat nekat untuk melarikan diri dari Myanmar ke Bangladesh.

“Tidak dapat membayar (masuk) persimpangan (perbatasan), maka para pengungsi membangun rakit dari bahan apa pun yang bisa mereka dapatkan – kebanyakan tiang bambu dan jerigen kosong yang diikat dengan tali dan ditutup dengan lembaran plastik,” rilis William Spindler, juru bicara Kantor PBB Komisaris Tinggi untuk Pengungsi (UN High Commissioner for Refugees – UNHCR), kepada wartawan pada konferensi pers reguler di Jenewa, Jumat, 17 November 2017.

Baca Juga  Kondisi di Rakhine Myanmar tidak Memungkinkan Pemulangan Pengungsi Rohingya

“Para Pengungsi Menggunakan dayung yang terbuat dari bambu dan puing-puing plastik, beberapa rakit ini berhasil sampai ke Shahporir Dwip di Bangladesh, perjalanan sekitar empat jam,” tambahnya.

Muara sungai Naf antara kedua negara itu memiliki lebar sekitar tiga kilometer persegi.

Menurut Spindler, lebih dari 100 orang pengungsi Rohingya diketahui telah tenggelam karena perahu yang ditumpangi para pegunngsi terbalik, dan sejumlah insiden kecelakaan perahu sejak dimulainya krisis kekerasan pada 25 Agustus 2017, dan pengungsi pendatang baru-baru ini mengatakan bahwa mereka telah menunggu lebih dari sebulan dalam kondisi putus asa di pantai-pantai Myanmar dengan makanan dan air hampir habis.

“Diperkirakan 620.000 pengungsi Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh sejak 25 Agustus,” ujar Andrew Spindler juru bicara UNHCR (UN High Commissioner for Refugees), menjelaskan dalam rilis situs resmi PBB, Jumat (17/11).

“Situs Ekstensi Kutupalong sendiri, yang didirikan segera setelah arus masuk dimulai, sekarang sangat padat dengan menampung sekitar 335.000 pendatang baru – lebih dari separuh arus masuk sejauh ini,” jelasnya.

Baca Juga  PBB Tingkatkan Dukungan untuk Vaksinasi Difteri bagi anak-anak Pengungsi Rohingya di Bangladesh

Mengutip data UN Habitat bahwa kepadatan penduduk Dhaka adalah 44.500 orang per kilometer persegi, UNHCR mengatakan 13 dari 20 blok di daerah Perpanjangan Kutupalong lebih padat penduduknya daripada bagian ibu kota Bangladesh, dengan wilayah yang dikenal sebagai Blok CC yang melindungi lebih dari 95.000 orang per kilometer persegi

“Meskipun upaya bersama untuk memberikan lebih banyak bantuan dan layanan, kondisi kehidupan yang padat dan sulit di kamp-kamp dan tempat-tempat darurat meningkatkan risiko kesehatan, sanitasi dan kebakaran serta kekerasan dan perdagangan manusia,” tegas William Spindler.

Tambahan lahan dan lebih banyak tempat untuk tempat penampungan dan infrastruktur sangat dibutuhkan untuk memberikan layanan dan bantuan menyelamatkan jiwa, termasuk titik supali air bersih, jamban dan ruang untuk wanita dan anak perempuan.

Karena kepadatan penduduk yang tinggi juga meningkatkan risiko, terutama untuk kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender (sexual and gender based violence – SGBV), UNHCR melibatkan semua segmen komunitas pengungsi untuk meningkatkan kesadaran.

“Bersama dengan rekan kami, kami bekerja untuk menempatkan jalur rujukan bagi perempuan, orang-orang yang selamat dari SGBV, serta tempat yang aman bagi wanita dan anak-anak perempuan,” kata Mr. Spindler.

Baca Juga  Eksodus Muslim Rohingya berlanjut, 75.000 Muslim Rohingya Lari dari Myanmar

Sementara itu, Organisasi Migrasi Internasional PBB (International Organization for Migration – IOM) menggunakan energi matahari (solar cell) untuk mnyediakan energi listrik pada pos kesehatan di permukiman darurat Kutupalong dan Balukali – yang sekarang menampung sekitar 440.000 pengungsi Rohingya.

“Seiring meningkatnya permintaan layanan kesehatan kita, pencahayaan bertenaga surya berarti kita bisa memberikan konsultasi darurat dan distribusi obat sepanjang waktu,” kata Mariam Abdelkerim-Spijkerman, Petugas Kesehatan Darurat IOM di Cox’s Bazar.

Sebelum masuknya pengungsi terakhir, bekerja sama erat dengan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga Bangladesh, IOM telah mengkoordinasikan pekerjaan bantuan di sektor kesehatan.

Namun seiring para pengungsi terus membanjiri permukiman darurat pengungsian, tekanan pada sektor kesehatan terus meningkat.

“Kebutuhan kesehatan para pengungsi sangat besar – menyediakan penerangan 24 jam membantu menyelamatkan nyawa,” terang Abdelkerim – Spijkerman. (*)

Komentar

Berita Terbaru