oleh

Salman Ramadan Abedi, Pelaku Tunggal Bom Bunuh Diri di Manchester Arena

PENANEGERI, Desk Internasional- Pihak Keamanan dan Polisi Manchester mengatakan Salman Ramadan Abedi  yang berusia 22 tahun bertanggung jawab atas serangan bunuh diri yang menewaskan 22 orang dan melukai 59 lainnya di konser Ariana Grande.

Polisi mengkonfirmasi identitas pemuda keturunan Libya tersebut.

Ian Hopkins, Kepala Polisi Kepolisian Greater Manchester, mengatakan tidak ada rincian lebih lanjut yang dapat diberikan karena pembom tersebut belum diidentifikasi secara formal oleh petugas pemeriksa mayat.

“Prioritasnya tetap untuk menentukan apakah dia bertindak sendiri atau sebagai bagian dari jaringan,” tambahnya.

Laporan lokal mengatakan Abedi adalah anak pengungsi Libya yang pindah ke Inggris untuk melarikan diri dari rezim Muammar Gaddafi, dan merupakan satu dari empat bersaudara.

Ayah Salman Abedi, Abu Ismail, dikenal sebelumnya sebagai muazin di Masjid Didsbury Manchester, namun diketahui  Abu Ismail  telah pindah kembali ke Libya, tempat asalnya  sekitar empat tahun yang lalu bersama keluarga lainnya.

Abu Ismail memiliki tiga putra: Salman, Ismael dan yang ketiga yang namanya tidak diketahui. Dia juga memiliki anak perempuan yang diyakini berusia 18 tahun dan saat ini berada di Libya.

Baca Juga  Tembaki Mobil Patroli Polres Tuban, 6 Pelaku Tewas di Areal Kebun

Polisi juga telah menyelidiki rumah Salman Abedi di Jalan Elsmore, Fallowfield, pada hari Selasa.

Polisi dan petugas keamanan masih mencoba untuk menentukan apakah pelaku bekerja sendiri atau merupakan bagian dari jaringan yang lebih luas yang membantunya dengan bom tersebut.

Meski ISISak telah mengaku bertanggung jawab, namun polisi belum menemukan bukti untuk mendukung hal ini.

Di kalangan warga keturunan Libya yang tinggal di Manchester tidak ada yang menduga bahwa Abedi yang lahir di Inggris – seorang pemuda yang pendiam, selalu menghormati para tetua – akan menjadi seorang pembunuh massal.

“Salman? Saya tercengang dengan ini, “salah satu anggota komunitas Libya di Manchester mengatakan pada Kantor Berita Guardian.

“Dia adalah anak yang pendiam, selalu sangat menghormati saya. Saudaranya Ismail keluar, tapi Salman sangat pendiam. Dia seperti orang yang tidak mungkin melakukan ini. ” tambahnya.

“Tapi apa yang dia lakukan, membunuh semua orang itu? Pasti ada seseorang yang memengaruhinya. Ini mengerikan.” ujar seorang warga Komunitas Libya di Manchester. (*)

Komentar

Berita Terbaru