oleh

Sampah di Aceh Tamiang 22 Ton Perhari Selama Bulan Ramadhan

-Aceh-16 views

PENANEGERI, Aceh Tamiang – Volume sampah di Kabupaten Aceh Tamiang mencapai 22 ton perhari selama bulan Ramadhan tahun 2018 (1439 H) atau bertambah 100 persen lebih dari hari biasanya. Akibatnya, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Aceh Tamiang harus mengangkut sampah-sampah tersebut secara rutin tiga kali dalam sehari.

Kepala Bidang (Kabid) Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 pada DLH Aceh Tamiang, Asnawi, SKM kepada Penanegeri.com, Sabtu (2/6) mengatakan, sampah itu disumbang dari sisa-sisa jualan masyarakat selama bulan Ramadhan.

“Selain sampah rumah tangga, kebanyakan sampah dari pedagang musiman yang didominasi oleh sampah ampas tebu dan batok kelapa muda serta plastik bekas bungkusan pakaian,” tuturnya.

Asnawi menjelaskan, sampah organik bercampur non organik menumpuk dimana-mana meliputi kawasan desa hingga sudut perkotaan. Biasanya untuk Kota Kualasimpang telah disiapkan empat unit dump kontainer berkapasitas masing-masing 2,5 ton, namun kini kontainer harus ditambah lagi.

“Kalau hari biasa empat kontainer itu cukup, bisa menampung 10 ton sampah setiap hari. Tapi selama puasa, sudah ditambah lima kontainer lagi, jadi totalnya ada sembilan kotainer, dua unit diantaranya berada di depan pajak Kualasimpang,” imbuhnya.

Baca Juga  Ramadhan 1439 H, Polres Langsa Bagi-bagi Takjil Gratis

“Setiap kontainer memuat 2,5 ton sampah, jika dikalikan sembilan berarti sampah di Aceh Tamiang selama Ramadan sekitar 22,5 ton setiap harinya yang harus diangkut pagi, siang dan malam,” jelas Asnawi.

Pihaknya mengakui saat ini mengalami kekurangan armada dump truk dan kontainer sampah. Jumlah armada pengangkut sampah yang dimiliki DLH Atam hanya empat unit yang kondisi mesinnya masih sehat. Kendati demikian, armada tersebut juga mengambil sampah disetiap kecamatan, membuat petugas kebersihan menjadi kewalahan.

“Armada kita memang kurang, tapi agar sampah tetap bisa terangkat kami telah berupaya melakukan patroli malam menggunakan satu unit truk raun keliling Kota Kualasimpang dan Karang Baru kerja lembur hingga jam satu malam,” ujarnya.

Menurutnya, volume sampah kota bisa meningkat drastis dikarenakan masyarakat yang tinggal diseputaran Kota Kualasimpang membuang sampah justru ke kota. Seharusnya, lanjut Asnawi, pihak desa dan masyarakat dapat mengelola sampah sendiri untuk menciptakan pendapatan desa.

Asnawi juga menambahkan, mestinya masyarakat sekitar Kualasimpang tidak lagi membuang sampah di kontainer yang ada di kota. Mereka cukup membayar Rp 2000-Rp 5000/bulan kepada pihak desa untuk iuran kebersihan dan uangnya masuk ke Kas desa.

Baca Juga  Ramadhan 1439 H, Polres Langsa Bagi-bagi Takjil Gratis

“Kemudian, sampah rumah tangga dari masyarakat akan diangkut menggunakan becak Viar roda tiga. Jadi kedepan lebih mudah, karena hanya sampah kota saja yang kita angkut,” tandasnya menyarankan. (acn).

Komentar

Berita Terbaru