oleh

Satgas Yonif 320/BP Giat Lakukan Kepedulian Sosial untuk Masyarakat di Perbatasan Nanga Badau

PENANEGERI, Kalimantan Barat – Satgas Pengamanan Perbatasan dari Satgas Yonif 320/BP terus giat melakukan aktivitas kepedulian sosial terhadap masyarakat di wilayah perbatasan, termasuk rela membantu warga saat kegiatan pemakaman warga.

Pasiter Satgas Yonif 320/BP Kapten Inf Dedi Irianto mengatakan turut meringankan kesusahan yang dialami oleh masyarakat Nanga Badau adalah menjadi tugas dan kewajiban anggota Pos Kotis Satgas Yonif 320/BP Nanga Badau untuk membantu meringankannya.

“Sudah menjadi suatu hal yang biasa TNI turut membantu kesusahan yang dialami oleh masyarakat dengan memberikan bantuan di sekitar lingkungan tugasnya tersebut, sehingga masyarakat mengerti bahwa kehadiran TNI di tengah-tengah rakyat adalah sangat dibutuhkan,” ucap Kapten Inf Dedi Irianto, usai membantu pelaksanaan kegiatan pemakaman warga setempat, pada hari Minggu (17/5).

Dia mengatakan, tidak hanya menghadiri kegiatan pemakaman tetapi juga akan hadir dalam kegiatan pengajian yang akan dilaksanakan selama tiga hari setelah shalat maghrib oleh warga setempat.

Sementara itu Haryanto (30) yang merupakan salah satu keluarga almarhum dan juga warga setempat mengatakan bahwa masyarakat sangat terkesan karena anggota Kotis Satgas Yonif 320/BP turut serta bersama-sama warga masyarakat untuk membantu kesusahan warga yang anggota keluarganya meninggal karena sakit itu, dengan bersama-sama warga setempat turut membantu kegiatan warga menggali dan memakamkan.

Hal ini tentu membuktikan tingginya jiwa sosial kemanusiaan anggota TNI penjaga perbatasan, meski bertugas di pelosok perbatasan nun jauh terpencil  di wilayah perbatasan NKRI, namun tetap mengutamakan membantu kesulitan warga perbatasan dan menyatu dengan rakyat Indonesia  di perbatasan.

Satgas Yonif 320/BP bertugas menjaga keamanan di Pos Lintas Batas Negara di Nanga Badau, Kapuas Hulu, Kalimantan Barat yang menghubungkan dua negara antara Indonesia dan Malaysia.

Bisa dibayangkan betapa terpencilnya lokasi perbatasan di Nanga Badau, karena untuk pergi kesana, memakan waktu 18 (delapan belas) jam dari Bandara Supadio Pontianak melalui jalur darat.

Namun hal ini justru menjadikan TNI semakin menyatu dengan rakyat perbatasan.

“Mudah-mudahan bantuan dari TNI bukan hanya kali ini saja tetapi juga pada kesempatan lainnya serta ucapan terimakasih dari keluarga almarhum dan warga sekitar Badau karena sudah ikut membantu,”  ujar Kapten Inf Dedi Irianto, sang perwira penjaga perbatasan di Nanga Badau, dengan ramah kepada wartawan Pena Negeri, pada hari Minggu (17/6).

(Berita dan Foto oleh Wartawan Kontributor Pena Negeri : Wawan)

Komentar

Berita Terbaru