oleh

SDF Serbu ISIS di Raqqa

PENANEGERI, Desk Internasional – Pasukan SDF (Syria Democratic Forces)  yang didukung Amerika Serikat dilaporkan telah memasuki kota Raqqa yang secara de facto dianggap sebagai ibu kota dan benteng besar terakhir ISIS di Suriah.

Kelompok ISIS atau Islamic State on Iraq and Syria sebelumnya pernah mengklaim memiliki dua ibu kota kembar yakni Kota Mosul di Iraq dan Kota Raqqa di Syria (Suriah).

Kini, kedua kota pertahanan ISIS di Irak dan Suriah ini sedang digempur habis-habisan untuk mengalahkan kelompok Daesh/ISIS/ISIL.

Di Kota Mosul tentara pemerintah Irak yang didukung Amerika telah maju mendesak milisi ISIS yang masih bertahan di Mosul dan masih menguasai masjid besar Al Nuri di Mosul yang terkenal karena menara masjid kuno yang sedikit miring.

Sedangkan di kota Raqqa, Pasukan Demokratik Suriah (SDF/Syria Democratic Forces) yang didukung AS telah memulai pertempuran untuk merebut Raqqa dengan meluncurkan serangan dari timur, barat dan utara kota, pada hari Selasa (6/6).

Dalam sebuah wawancara dengan kantor berita Reuters di Suriah, juru bicara SDF Talal Silo mengatakan operasi tersebut dimulai hari Senin (5/6) kemarin dan pertempuran tersebut akan sengit karena Daesh (Negara Islam ISIS) akan mati-matian untuk mempertahankan kota Raqqa yang disebut ISIS sebagai ibu kota mereka.

Baca Juga  Idul Fitri 1438 H, 83 anggota ISIS Level Rendahan dapat Ampunan di Raqqa

Pasukan Demokratik Suriah yang didukung A.S. (SDF) mengatakan pada hari Selasa (6/6) bahwa pihaknya telah meluncurkan sebuah pertempuran untuk merebut Raqqa, ibukota de facto ISIS, dan memberikan tekanan besar pada para milisi ISIS di Suriah.

Serangan di Raqqa tersebut bersamaan dengan tahap akhir serangan ke Kota Mosul di Irak oleh pasukan pemerintrah Iraq yang didukung A.S. untuk merebut kembali kota Mosul dari tangan ISIS.

Kemajuan juga didapat di kawasan di utara, timur dan barat Raqqa oleh pasukan SDF, yang mencakup milisi Arab dan Kurdi.

ISIS merebut Raqqa dari kelompok pemberontak Suriah pada tahun 2014 dan telah menggunakannya sebagai basis operasi untuk merencanakan serangan teror.

Koalisi petempur yang dipimpin A.S. mengatakan bahwa pertempuran untuk merebut Raqqa akan “panjang dan sulit” namun akan memberikan “pukulan tegas terhadap gagasan ISIS (negara Islam) sebagai kekhalifahan fisik”. (*)

Komentar

Berita Terbaru