oleh

Seklumit Sejarah Tentang Siapakah Resimen Tjakrabirawa

PENANEGERI, Sejarah – Setiap tanggal 30 September tiba, masyarakat Indonesia selalu mengenang adanya tragedi pengkhianatan terhadap Pancasila oleh apa yang dinamakan Gerakan 30 September 1965/PKI.

Dalam sejarah umum yang diketahui, Gerakan 30 September1965 ini didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Dalam sejarah umum, serta dalam film tentang ‘Penumpasan Pengkhianatan G30 S PKI produksi PPFN era tahun 1984, yang kini pada akhir bulan September 2017 diputar kembali di sejumlah stasiun televisi, dan menjadi kegiatan nobar atau nonton bersama, maka peristiwa sejarah adanya pengkhianatan terhadap Pancasila oleh G30S PKI ini, di dalam film itu, dan juga di dalam catatan sejarah, terdapat peranan Letkol Untung dari Resimen Tjakrabirawa.

Siapakah resimen Tjakrabirawa ? Penanegeri.com secara ringkas merangkumnya dari sejumlah sumber diantaranya : wikipedia, dan yang menarik adalah catatan resmi dari lembaga ‘Office Of The Historian dari Departement of State’.

Dari keterangan wikipedia, Resimen Tjakrabirawa adalah resimen yang merupakan pasukan gabungan dari TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara dan Kepolisian Republik Indonesia yang bertugas khusus menjaga keamanan Presiden RI pada zaman pemerintahan Presiden pertama RI Ir Soekarno.

Komandan Resimen Tjakrabirawa pada saat itu adalah Brigjen Moh Sabur.

Sejarah yang dituliskan menyatakan bahwa salah satu komandan batalyon pada Resimen Tjakrabirawa yakni Letnan Kolonel Untung memimpin penangkapan dan pembunuhan terhadap 6 Jenderal pada peristiwa Gerakan 30 September 1965. Dimana G30 S ini didalangi oleh Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sementara jika kita baca Memorandum Intelijen ‘UPHEAVAL DI INDONESIA’ tertanggal, Washington, 6 Oktober 1965.

Yang bisa dibaca pada link resmi https://history.state.gov/historicaldocuments/frus1964-68v26/d149

Dikatakan bahwa pada awal 1 Oktober 1965 sebuah kelompok yang menyebut dirinya “Gerakan 30 September” menculik enam jenderal angkatan darat, termasuk Panglima Angkatan Darat Jenderal Yani, dan kemudian membunuh mereka.

Gerakan tersebut dipimpin oleh Letnan Kolonel Untung, seorang komandan batalyon pengawal Presiden Sukarno, resimen Tjakrabirawa.

Yang juga dilaporkan terlibat adalah elemen tentara yang dipengaruhi Komunis dari Jawa Tengah dan anggota ‘Pemuda Rakjat’ – organisasi pemuda Komunis, dan GERWANI – kelompok depan wanita Komunis.

Sebuah pesan yang dibacakan di radio Jakarta pada pagi hari tanggal 1 Oktober 1965 mengklaim bahwa tindakan Untung “didukung oleh pasukan cabang-cabang lain angkatan bersenjata” dan bahwa “Gerakan 30 September” telah bertindak untuk mencegah kudeta “jenderal” yang diilhami oleh Amerika. “Pesan tersebut menyatakan bahwa Presiden Sukarno dan sasaran lain dari kudeta” jenderal “berada di bawah perlindungan gerakan tersebut.

Pada sore hari tanggal 1 Oktober 1965, Jenderal Angkatan Darat Mayjen Suharto, komandan Cadangan Strategis Angkatan Darat (KOSTRAD), menginformasikan kepada semua wilayah militer bahwa dengan tidak adanya  Jenderal Yani, yang telah diculik, maka Mayjen Soeharto memegang komando tentara.

Dia melakukannya dengan pemahaman dan kerja sama angkatan laut untuk menghancurkan “Gerakan 30 September.”

Radio Indonesia kemudian mengumumkan bahwa tentara dibawah komando Mayjen Soeharto telah mengendalikan situasi tersebut, bahwa polisi juga telah bergabung dengan tentara dan angkatan laut untuk menghancurkan ” gerakan kontrarevolusioner,” dan bahwa Presiden Sukarno dan Menteri Pertahanan Jenderal Nasution – dimana AH Nasution juga menjadi sasaran kelompok Untung – telah aman.

Demikianlah seklumit terjemahan dari link situs https://history.state.gov/historicaldocuments/frus1964-68v26/d149, yang bisa dibaca oleh pembaca sendiri secara lengkap.

Selanjutnya seperti diketahui bersama kemudian Mayjen Soeharto berhasil menumpas G30S PKI tersebut. (*)

Komentar

Berita Terbaru