oleh

Sekelumit Kisah Dibalik Misi Evakuasi Jenazah Korban Penembakan Kelompok KKSB Purom Wenda

PENANEGERI, Jayapura – Mungkin hal ini tidak diketahui banyak orang, namun inilah sekelumit kisah di balik misi evakuasi jenazah korban penembakan gerombolan KKSB (kelompok kriminal separatis bersenjata) Purom Wenda.

Pada hari Sabtu (3/11) sekitar pukul 4 subuh waktu setempat, cuaca dingin di kampung Popome Distrik Makoni, pagi itu terasa menusuk tulang.

Biasanya saat itu masih waktu yang tepat bagi penduduk desa untuk terlelap dalam tidur dengan selimut hangat.

Namun tidak demikian pada hari itu, hampir semua penduduk tidak bisa tidur dengan lelap di bangunan gereja yang dijadikan tempat bermalam mereka.

Rasa tegang penuh ketakutan meneror mereka.

Petang sebelumnya, hari Jumat (2/11), Yanmar seorang warga kampung yang sehari-hari bekerja sebagai tukang ojek tewas ditembak dengan keji kelompok kriminal separatis yang dipimpin Purom Wenda.

Yanmar ditembak hanya karena ia ingin menanyakan tentang HP saudaranya yang dirampas salah satu anggota gerombolan brutal tersebut beberapa waktu sebelumnya.

Mayat Yanmar pun dibiarkan tergeletak di lokasi penembakan tanpa ada seorang warga pun yang berani mendekatinya.

Aksi teror terakhir inilah yang membuat warga desa resah dan terpaksa memilih mengamankan diri di 2 gereja karena ketakutan yang dipimpin Pendeta Eli Murib.

Selanjutnya pendeta dan tokoh masyarakat berusaha menenangkan warga yang ketakutan dan bernegosiasi dengan Purom untuk mengevakuasi jenazah korban.

Namun negosiasi berjalan buntu hingga malam itu, Purom melarang warga sipil mengevakuasi mayat korban, hanya aparat TNI-Polri yang boleh mengambil.

Terlihat jelas bahwa gerombolan KKSB dengan sengaja membiarkan jenazah tukang ojek bernama Yanmar itu tergeletak begitu saja karena ingin menjadikan jenazah Yanmar sebagai umpan untuk menjebak aparat keamanan.

Tidak jauh dari lokasi pengungsian warga yang ketakutan akibat ulah sadisme gerombolan KKSB (Kelompok kriminal separatis bersenjata), sejumlah personel aparat keamanan yang tergabung dalam Tim Gabungan TNI – Polri, telah bersiap menyusun strategi.

Tidak tampak ketegangan di wajah para anggota aparat keamanan TNI – Polri yang rata-rata berusia muda ini.

Pandangan mata tajam dan dingin terpancar, menunjukkan mereka telah siap melaksanakan misi.

Ilustrasi aparat keamanan TNI – Polri yang siap melindungi segenap warga dari bahaya dan ancaman teror KKSB.

Misi mereka adalah misi kemanusiaan guna melakukan evakuasi terhadap jenazah Yanmar.

Mereka sadar, tugas tersebut sangat beresiko.

Bahkan bukan tidak mungkin mereka harus meregang nyawa dan menjadi sasaran tembak gerombolan KKSB (kelompok kriminal separatis bersenjata) yang terkenal sadis itu.

Namun mereka yakin bahwa tugas itu adalah mulia, karena demi menolong warga yang ketakutan akan aksi teror gerombolan KKSB, serta untuk mengevakuasi jenazah warga korban penembakan KKSB tersebut.

Tugas melindungi keamanan masyarakat sipil adalah suatu kebanggaan bagi aparat keamanan TNI – Polri.

Apapun resikonya, sebagai aparat negara harus hadir untuk melindungi warganya.

Kapolres Lanny Jaya, AKBP Tonny Ananda Jaya, langsung memimpin misi tersebut.

Perlahan dengan penuh kehati-hatian, tim Polri bergerak mendekati lokasi jenazah dengan menggunakan 3 kendaraan taktis.

Sementara, 1 unit tim yang beranggotakan aparat keamanan prajurit TNI pimpinan Letnan Satu Zulmi bergerak mendaki punggung bukit dengan senyap dan rahasia.

Mengambil posisi di belakang kedudukan kelompok gerombolan KKSB Purom.

Sesaat ketika mulai mendekati jenazah, apa yang diperkirakan terjadi, gerombolan KKSB Purom tiba-tiba melancarkan tembakan sporadis ke arah tim evakuasi pimpinan Kapolres.

Tanpa menunggu aba-aba, tim evakuasi segera membalas tembakan dengan gencar ke arah bukit, di mana posisi tembakan kelompok KKSB Purom berasal.

Tembakan balasan tersebut berhasil memaksa gerombolan KKSB Purom tertahan di kedudukannya.

Saat itu lah, tim pelambung TNI memastikan kedudukan lawan dan mulai bergerak mendekat ke sasaran dengan cepat dan membuka tembakan terarah pada kelompok separatis yang terkenal sadis tersebut.

Kontak tembak terjadi sekitar 30 menit sampai akhirnya, gerombolan KKSB ( kelompok kriminal separatis bersenjata) pimpinan Purom terdesak dan melarikan diri berpencar jauh ke dalam hutan.

Sesaat kemudian tembakan kelompok Purom terhenti. Tim Gabungan TNI – Polri segera mendekat dan melakukan penyisiran di lokasi kontak senjata.

Dua mayat anggota kelompok Purom ditemukan tergeletak di posisi yang relatif berjauhan. Ratusan munisi ilegal dengan kaliber campuran pun tercecer.

Hal ini mengindikasikan kelompok gerombolan KKSB Purom panik dan ketakutan sehingga melarikan diri tanpa sempat membawa munisi ilegal mereka.

Misi evakuasi jenazah warga sipil korban penembakan KKSB pun dinyatakan berhasil.

Tidak ada perayaan atas keberhasilan itu.

Seluruh personel Tim Gabungan TNI – Polri hanya berdoa untuk mengucap syukur atas keselamatan yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lupa juga mengirim doa untuk kedua korban dari kelompok KKSB Purom Wenda.

“Apa yang kami lakukan semata-mata untuk melindungi warga. Kalau boleh memilih, kami tentu lebih senang bila kami tidak perlu mengeluarkankan tembakan. Namun dalam situasi tempur, kami tidak punya pilihan,” ujar salah satu personel tim gabungan aparat keamanan dengan raut wajah datar.

Saat membawa jenazah menuju RSUD Tiom, masih terdengar tembakan satu dua kali dari arah hutan, namun proses evakuasi dapat berjalan lancar. (*)

Komentar

Berita Terbaru