oleh

Selain Harga Tinggi, Elpiji 3 Kg Sulit Ditemukan di Aceh Tamiang

PENANEGERI, Aceh Tamiang – Selama 2 (dua) minggu terkahir masyarakat Aceh Tamiang semakin kesulitan mencari gas elpiji 3 kg baik di kios-kios eceran maupun di pangkalan distributor resmi. Namun, hingga kini belum ada pihak yang merespon terkait kelangkaan gas bersubsidi ukuran 3 kg tersebut.

Salah seorang warga Desa Upah, Kecamatan Bendahara, Angreni (34) kepada Penanegeri.com, Rabu (8/11) mengatakan, sejak seminggu terakhir keluarganya sangat kesulitan mencari gas ukuran elpiji 3 kg di seputaran pekan Upah dan sekitarnya. Alhasil agar dapur tetap ‘berasap’ ia terpaksa mencari gas hingga ke pangkalan luar Kecamatan Bendahara.

“Ibu saya jualan kecil-kecilan di rumah sehingga memerlukan gas elpiji 3 kg minimal dua tabung dalam seminggu. Kalau langka seperti ini sudah pasti jualan kami terancam tutup,” ujarnya.

Salah seorang pedagang nasi di depan Masjid Raya Kota Kualasimpang juga mengeluhkan kelangkaan elpiji 3 kg yang diikuti dengan kenaikan harganya. Gas 3 kg di seputaran Kualasimpang harganya bervariasi, dari Rp 22.000-Rp 25.000/tabung. Padahal harga sebelumya hanya Rp 20.000/tabung ditingkat eceran dan Rp 18.000/tabung tingkat pangkalan.

Menurutnya, akibat langka, harga gas elpiji 3 kg ini rawan dipermainkan oleh pihak pangkalan maupun pengecer. Pasalnya, ketika warga beli di pangkalan harganya sudah melebihi harga eceran tertinggi (HET), Rp 19.000/tabung.

Baca Juga  Teror Tembakan Hantui Perangkat Desa Tamiang

“Disalah satu pangkalan di Kota ini harganya juga dinaikan dari HET, Rp 19.000/tabung. Kami enggak berani komplain takut engga dikasih beli gas nanti,” ujarnya.

Pemilik warung nasi di Desa Terban, Karang Baru, Srik (30) juga merasakan hal serupa yang kelabakan mencari gas 3 kg. Dia berburu gas dari warung satu ke warung lainnya karena di pangkalan saat gas datang langsung habis di borong para konsumen.

“Kami beli eceran karena di pangkalan selalu kosong, harganya naik menjadi Rp 25.000/tabung,” bebernya.

Sedangkan, Agam (41) warga Dusun Jawa, Desa Bundar, Karang Baru, mengatakan, akibat gas elpiji 3 kg langka pihaknya terpaksa kembali mengunakan kompor minyak. Meski minyak tanah saat ini payah dicari, namun dia memilih memasak pakai kompor karena harga gas melambung tinggi. Warga Karang Baru ini peenah mencari gas 3 kg hingga ke Kampung Durian, Kecamatan Rantau dengan harga Rp 75.000/tiga tabung.

“Kita terpaksa kembali di zaman dulu pakai kompor minyak. Karena harga gas tembus Rp 30.000/tabung mana sanggup kita beli lagi,” tuturnya.

Frankie, penjual kuliner di jalan lintas Medan-Banda Aceh kawasan Karang Baru juga mengungkapkan kelangkaan gas elpiji ditempatnya tinggal. Meski barang (gas) ada namun untuk mendapatkannya harus malam hari baru dilayani oleh penjual. Di jalan utama masuk Desa Tanjung Karang misalnya, harga elpiji 3 kg rata-rata naik menjadi Rp 27.000/tabung.

Baca Juga  Harga Terus Merosot, Petani Nilam Tamiang Berencana Jeda Tanam

“Sedangkan di Desa Dalam, kita beli gas-nya harus malam habis magrib baru dikasih seharga Rp 22.000/tabung. Kalau siang penjualnya takut tidak mau melayani pembeli,” paparnya.

Mewakili warga miskin di Karang Baru, Frankie meminta agar instansi terkait pemerintah daerah dapat turun kelapangan untuk meninjau harga gas elpiji 3 kg yang sudah tak terkendali akibat langka.

“Kita minta pemerintah meninjau harga gas elpiji agar penjual tidak membandrol harga sesukanya dan selain itu pemasaran gas disalurkan kemana saja, apakah dinikmati warga miskin setempat atau justru orang kaya. Di sisi lain penjula eceran juga menjual gas 3 kg dengan harga tergolong tinggi,” sebut Frangkie.

Pendapat berbeda disampaikan salah seorang penjual mie Aceh di Corner Coffe, Karang Baru, Wak Din (58) yang beralih menggunakan bright gas tabung pink ukuran 5,5 kg seharga Rp 62.000/tabung dan beli sama tabungnya sekitar Rp 320 ribuan.

Gas Elpiji 3 kg
Foto : Hariansyah/Penanegeri
Bright gas 5,5 kg

“Karena payah dan mahal terpaksalah beli tabung gas 5,5 kg saja,” ucapnya.

Sementara itu, Camat Kota Kualasimpang, Aulia Azhari, SSTP kepada Penanegeri.com, Kamis (9/11) sore mengatakan, pada minggu sebelumnya persedian gas di Kualasimpang memang langka namun saat ini barangnya sudah sering masuk di pangkalan. Meski demikian sejauh ini pihak belum memantau kenaikan harga elpiji 3 kg tersebut karena hal itu masuk ranahnya Bagian Ekonomi dan Pembangunan.

Baca Juga  Kadis PU Aceh Tamiang Ditetapkan Tersangka atas Dugaan Pungli K2

“Saya menerima laporan sudah ada barang (gas), tapi harganya mahal sampai Rp 25.000/tabung, banyak dari warga saya mengeluh,” ujarnya.

Kepala Diskoperindagkop Aceh Tamiang, Zagusli yang dikonfirmasi wartawan menyebutkan, secara internal pihaknya telah menggelar inspeksi mendadak (Sidak) ke pasar guna memantau kelangkaan dan kenaikan harga elpiji. Dalam operasi pasar itu ditemukan harga gas tinggi dikalangan pengecer. Namun pengiriman gas 3 kg dari agen Pertamina ke pangkalan tidak ada kendala, tapi terjadi kelangkaan.

Menurutnya, kuota untuk tiga pangkalan distributor di Aceh Tamiang tidak dikurangi dan pengiriman dari Pertamina tetap lancar. Tapi harga gas 3 kg mahal dan langka itu dibenarkannya. Untuk itu pihaknya akan bekerja sama dengan Bagian Ekobang untuk menindak permainan harga.

“Karena masalah harga elpiji masuk ranah Ekobang dan izin pangkalan tidak di Diskoperindag sehingga kita harus bentuk petugas gabungan untuk masalah ini,” tandas Zagusli.

Komentar

Berita Terbaru