oleh

Semangat Qurban dan Upaya Menyembelih Sifat Kebinatangan Manusia

Oleh : Juliansyah, S.Pd.I, MPd

Idul Fitri dan Idul Adha adalah dua hari yang dibesarkan. Besar, karena memiliki arti yang sangat penting dalam tatanan kehidupan sosial manusia. Kesakralan dua hari tersebut terbukti mengikat dan mampu saling melengkapi dalam menanamkan social responsibilty atau yang sering kita sebut dengan rasa setia/kebersamaan.

Makna dari Idul fitri itu sendiri lebih mengarah kepada peningkatan kualitas diri melalui tarbiyah dengan segala macam ibadah yang dianjurkan secara sunnah dan syariah. Sementara Idul Adha lebih mengarah kepada tingkat kepedulian dan mampu menanggalkan segala macam ego dari sifat sifat kebinatangan manusia.

Idul Adha sudah dikenal dengan tradisi penyembelihan hewan qurban berawal kisah pengorbanan dari puncak ujian ketaatan Nabi Ibrahim AS kepada Allah. Lewat mimpi, ia diperintahkan untuk segera menyembelih putra kesayangan penerus kenabian (Ismail) itu yang telah lama ia nantikan. Dan ujian itupun berhasil pengorbanan ismail beralih kepada penyembelihan domba.

Penyembelihan hewan merupakan sarana dan cara pelestarian agama yang diwariskan oleh Ibrahim AS – meski sebenarnya perintah untuk berkurban juga telah ada sejak zaman Nabi Adam AS ; disaat kedua putranya, Qabil dan Habil diperintahkan Allah untuk berkurban sebagai bentuk kepatuhan dan ketaatan kepada sang Maha Pencipta semesta.

Dari peristiwa Ibrahim, syariat berkurban menjadi media untuk menghapuskan penyimpangan pelaksanaan kurban yang tidak ditujukan selain kepada Allah SWT. Dulu, dalam sejarah menceritakan bahwa banyak kalangan dalam masyarakat telah melakukan kurban tidak sesuai dengan syariat agama yang telah ditetapkan atau lebih mengarah kepada kemusyrikan.

Untuk mengenal dari dekat makna dari berkurban itu apa ; mari bersama sama kita pahami terlebih dahulu akar dari bahasa qurban itu sendiri. Dalam bahasa Arab, qurban berasal dari kata qaraba -yuqaribu –qurbanan ; yang memiliki arti menghampirkan atau mendekatkan dari sesuatu yang kita miliki dan menyandarkannya kepada sesuatu yang lebih tinggi.

Atas dasar dari pelaksanaan syariat itu tentunya merujuk pada perintah quran yang menyebutkan : “Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah….” | QS. Al Kautsar; 1-3 |. Setelah itu, Rasulullah SAW mengungkapkan, “Barangsiapa yang memperoleh kelapangan, namun ia tidak berkurban, janganlah ia menghampiri tempat shalat kami. | al hadist.

Dari kedua dalil naqli sebagaimana tersebut diatas, sebahagian besar para ulama telah berpendapat bahwa menyembelih hewan kurban adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan) bagi setiap muslim yang mampu. Dan waktu penyembelihan hewan dimaksud adalah pada hari “H” plus tiga hari tasyriq pada setiap tahunnya.

Dengan demikian, dapat kita pahami bahwa semangat berkurban lebih bermakna kepada pengujian keimanan seseorang dan sejauh mana tingkat cintanya kepada Allah. Apakah harta dan segala yang ia miliki dapat meningkatkan keimanan atau malah sebaliknya. Meski sebenarnya, cinta kepada harta maupun anak-anak merupakan fitrah, tetapi seharusnya cinta kepada Allah dan Rasul-Nya diletakkan di atas itu semua | QS. Al Taubah : 24 |.

Dalam sejarah Islam, banyak sahabat-sahabat Nabi yang membuktikan cinta mereka dengan berkurban demi mendapatkan keridhoaan Allah dan rasul-Nya, meski dalam saat tertentu kecintaan itu harus dengan pertaruhan nyawa. Merekalah itulah para syuhada, salaf shalih, dan mereka itulah nanti yang akan memperoleh derajat yang begitu tinggi di sisi Rabb mereka.

Dari kisah yang ada, para sahabat Nabi, seperti Utsman bin Affan, telah mengukir sejarah pada awal Islam dengan tinta emas. Kemudian, pada zaman Abu bakar Al shiddiq, terjadi musim paceklik yang sangat memprihatinkan. Banyak orang kesulitan mendapatkan bahan makanan, kemudian mengadukan perihal mereka kepada sang Khalifah, dan khalifah pun meminta mereka bersabar.

Namun tak lama waktu berselang, tiba iring-iringan unta dari Syam membawa gandum, minyak goreng dan bahan pangan lainnya. Lalu Utsman membagikan gandum dan hartanya itu secara cuma-cuma -tanpa harapan apapun- kepada penduduk yang sedang kekurangan hingga tak seorang pun yang luput. Itulah contoh pengorbanan seorang sahabat Nabi SAW.

Manisfestasi ke-Imanan

Pakar tafsir kontemporer, Abdullah Yusuf Ali dalam masterpicenya The Holy Qur’an; Translation andf commentary, menjelaskan bahwa ibadah kurban memiliki makna spiritual dan dampak sosial. Secara vertical, ibadah ini lebih merupakan ungkapan syukur, maka bacaan takbir justru lebih penting dari prosesi penyembelihan itu sendiri.

Artinya, karena kurban itu merupakan manifestasi keimanan seseorang, bukanlah wujud kurbannya lebih dipentingkan, melainkan nilai dan motivasi orang itu menjalankannya. Hewan yang disembelih bukan berarti tumbal kepada sang khaliq. Yang dipersembahkan kepada Allah, esensinya hanyalah ketakwaan; lan yanalallah luhumuha wala dimauha, walakin lanaluhu al taqwa…..”, tegas-Nya.

Secara horisontal, berqurban merupakan bagian dari upaya menumbuhkan kepekaan sosial terhadap sesama anak bangsa, khususnya kepada golongan yang lemah atau mereka yang dilemahkan (bc; dizhalimi) dan tertindas. Ibadah kurban pun mengajarkan kepada manusia utuk rela berkorban demi kepentingan yang lebih universal, baik kepentingan agama, bangsa, maupun kemanusiaan.

Dengan kata lain, kurban juga menjadi ungkapan kasih sayang, cinta dan simpati mereka yang berpunya kepada kaum papa. Pasalnya, kurban ini tidak sama dengan upacara persembahan agama-agama lain. Hewan kurban tidak kemudian dibuang dalam altar pemujaan dan tidak pula dihanyutkan di sungai, malah daging kurban dinikmati bersama baik oleh orang yang berkurban maupun orang-orang miskin di sekitar kita.

Penyembelihan Sifat Binatang

Ulama besar Imam Al Ghazali jauh-jauh hari telah mengingatkan kepada kita semua bahwa penyembelihan hewan kurban menyimbolkan penyembelihan sifat kebinantangan manusia. Berqurban itu bukan hanya sebatas seekor kambing, tetapi yang lebih penting adalah mengorbankan hawa nafsu kebinatangan yang membelenggu setiap manusia; nafsu serakah, sifat kikir, egoisme personal maupun komunal, dan nafsu menerabas yang menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.

Oleh karena itu, berkurban semestinya bisa pula mempertajam kepekaan dan tanggungjawab sosial (social responsibility). Dengan menyisihkan sebagian pendapatan untuk berkurban, diharapkan timbul rasa kebersamaan di masyarakat sehingga bisa menggalang solidaritas, kesetiakawanan sosial dan introspeksi diri untuk kemaslahatan bersama.

Dengan semangat berqurban, semoga kita mampu melawan dari anjuran anjuran syaitan melalui hembusan hawa nafsu yang hadir lewat rayuan tumpukan harta dan kekuasaan fantanya dunia. Kita berharap dengan berqurban itu dapat menyembelih semua dari sifat bringas watak kebinatangan kita selama ini guna mewujudkan kebersamaan dan membebaskan negeri ini dari keterpurukan.

*Penulis merupakan pemerhati sosial dan pendidikan di Aceh, saat ini menjabat sebagai salah seorang Presedium KAHMI Aceh Tamiang*.

Komentar

Berita Terbaru