oleh

Siapakah Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) ?

PENANEGERI, Desk Internasional – Dalam screenshot dari sebuah video yang diposkan di YouTube, tampak seorang pria mengidentifikasi dirinya sebagai Ataullah Abu Jununi (tengah), komandan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA), sedang memberikan sebuah pernyataan kepada pemerintah Myanmar dan kelompok etnis di negara bagian Rakhine, bulan Agustus, 2017.

Nama ARSA muncul seiring kekerasan anti-Muslim di Myanmar mulai meletus pada tahun 2012 selama transisi demokrasi Myanmar.

Sebagian besar kekerasan ini dibiarkan atau tidak mendapatkan perhatian serius masyarakat dunia Internasional, karena masyarakat internasional berusaha mendukung pemerintahan demokratis baru Aung San Suu Kyi.

Tidak mengherankan bahwa setelah bertahun-tahun melakukan pelanggaran hak asasi manusia yang sistematis, termasuk penolakan hak kewarganegaraan atau perlindungan hukum lainnya, dan dengan pemerintah yang membatasi kemampuan orang Rohingya untuk bekerja atau memiliki makanan dan obat-obatan masuk, maka pemberontakanpun pecah.

Pemberontakan tersebut baru lahir pada tahun 2016 dan paruh pertama tahun 2017. Dimulai sebagai Harakah al-Yaqin (HaY), dipimpin oleh Attullah Abu Ammar Jununi, yang lahir di Pakistan dan dibesarkan di Arab Saudi sebelum dia kembali ke rumah untuk memimpin perjuangan.

Baca Juga  Kondisi Belum Memungkinkan Untuk Kepulangan Pengungsi Rohingya ke Myanmar

Kelompok tersebut secara terbuka menyebut dirinya sebagai Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA).

Sebagian besar kekerasan di negara bagian Rakhine dilakukan oleh tokoh lokal dan warga lokal yang didukung oleh pemerintah Myanmar, karenanya pasukan keamanan negara tidak banyak membatasi mereka.

Kemudian pada bulan Oktober 2016, ARSA, dengan beersenjatakan dengan parang dan senjata tajam lainnya, melakukan serangan terhadap pos polisi.

Pemerintah menanggapi dengan serangan terhadap warga sipil dan serangan pembakaran di desa Rohingya.

Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan bahwa kekerasan pada bulan Oktober dan November 2016 menyebabkan sekitar 87.000 pengungsi Rohingya menyeberang ke tenggara Bangladesh, di mana sekitar 400.000 orang telah menetap sebelumnya.

Awal bulan belakangan ini di bulan Agustus 2017, dua hari setelah Perwakilan Khusus U.N. Kofi Annan mengeluarkan laporannya mengenai dugaan kesalahan penanganan 11 juta Rohingya di Myanmar, sekitar 150 gerilyawan ARSA menyerang 24 sampai 30 pos polisi di negara bagian Rakhine. ARSA mengklaim bahwa serangan tersebut bersifat pre-emptive dan dilakukan untuk membela diri.

Baca Juga  PBB: Ada Laporan Kekerasan Seksual 'Mengerikan' yang Dialami Rohingya di Myanmar

Serangan tersebut merupakan kegagalan taktis: sekitar 77 gerilyawan tewas, dibandingkan dengan hanya belasan polisi, dalam pertempuran tersebut.

Beberapa hari kemudian, ribuan pengungsi menyeberang ke Bangladesh, dengan tambahan 20.000 orang terjebak di sepanjang perbatasan.

Pemantau hak asasi manusia menyaksikan desa Rohingya dibakar. Human Rights Watch melaporkan bahwa dalam empat hari setelah serangan 25 Agustus, jumlah desa yang terbakar secara signifikan lebih besar daripada jumlah yang dibakar pada Oktober dan November lalu.

ARSA mengklaim bahwa ARSA didirikan tiga tahun lalu, akibat kekerasan dan tanpa ada jalur hukum yang tersedia, banyak yang terpaksa bergabung dengan pemberontak.

Sebagai salah satu pemimpin desa Rohingya mengatakan sekitar 30 pemuda baru saja mengajukan diri untuk bergabung dengan ARSA.

“Apakah mereka punya pilihan lain? Mereka memilih untuk berperang melawan, dan mati dari pada dibantai seperti domba,” ujar pemimpin desa Rohingya.

Video yang muncul baru-baru ini di situs web pro-ARSA dan media sosial youtube menunjukkan bukti yang tampaknya sangat brutal oleh pasukan pemerintah dan paramiliter.

Baca Juga  Pasukan Myanmar Tembaki Warga Sipil Rohingya yang Lari Mengungsi

Pemimpin Pemerintah Myanmar pemenang Hadiah Nobel Aung San Suu Kyi secara resmi telah memberi label Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) sebagai “teroris Bengali ekstremis.”

Beberapa pejabat pemerintah Myanmar menuduh ARSA menggunakan kekerasan untuk mendirikan “Negara Islam.”

Dalam sebuah pernyataan video 15 Agustus 2017, Ataullah Abu Ammar Jununi, memperjelas bahwa ARSA didirikan hanya sebagai tanggapan atas pelanggaran pemerintah dan paramiliter terhadap masyarakat Rohingya.” Tujuan utama kami di bawah ARSA adalah untuk membebaskan orang-orang kita dari penindasan yang tidak manusiawi yang dilakukan oleh semua rezim Burma secara berturut-turut, “katanya.

Dia dengan tegas menyatakan bahwa kelompok ARSA Rohingya tersebut independen, tanpa hubungan dengan organisasi teroris internasional manapun.

Dia juga menyatakan bahwa ARSA tidak menerima dana dari organisasi eksternal. Dia meminta diaspora Rohingya untuk mendukung ARSA, namun juga untuk “mematuhi hukum asal” di negara tuan rumah mereka. (*)

Komentar

Berita Terbaru