oleh

Tak Puas Hasil Panen, Petani Aceh Tamiang Gunakan Pupuk Non Subsidi

PENANEGERI, Aceh Tamiang – Petani di Aceh Tamiang merasa tidak puas dengan hasil panen yang rata-rata hanya menghasilkan 10-12 kaleng/rante jika menggunakan pupuk subsidi. Pupuk bantuan pemerintah tersebut terbukti tidak mampu meningkatkan produksi padi petani sehingga para petani mulai beralih dengan tidak menggunakan pupuk subsidi lagi.

Ungkapan itu disampaikan oleh seorang petani dari Desa Wonosari, Kecamatan Tamiang Hulu, Sunarno (48) saat bertemu awak media di Taman RTH, Karang Baru, Senin (29/1) sore.

Sejak dua tahun terakhir Sunarno mengaku sudah meninggalkan pupuk subsidi. Kini dia beralih menggunakan pupuk non subsidi, meski harganya lebih mahal namun petani memiliki harapan saat panen tiba. Pihaknya dan petani disana telah lima kali panen atau 2 tahun ini tidak memakai pupuk murah itu lagi.

“Bagi yang sudah mengetahui hasil perbandingannya pasti akan meninggalkan pupuk subsidi itu,” ungkap Sunarno yang kerap disapa Nanok itu.

Menurut petani, pupuk bersubsidi seperti jenis Phonska, Urea dan SP 36 meski harganya murah tapi tidak membantu petani. Pupuk subsidi jenis Urea berwarna pink misalnya, hanya berdampak menghijaukan daun selama dua minggu saja, setelah itu daun padi kembali tidak segar jika tidak disiram pupuk lagi.

Baca Juga  Lantik 23 ASN Eselon III dan IV, Bupati Aceh Tamiang Rombak Kabinet Lama

Sunarno yang memiliki sawah seluas lima rante di desa Wonosari itu juga mengaku kini padinya sudah mulai menguning. Harapan Nanok, panen kali ini bisa meningkat dari panen sebelumnya. Selama menggunakan pupuk non subsidi produksi padinya bisa tembus sekitar 18 kaleng atau sekitar 216 kg/rante.

“Dalam satu kaleng berbobot 12 kg. Selama kita pakai pupuk non subsidi bisa rata-rata keluar 15 kaleng bahkan pernah tembus 18 kaleng/rante. Namun waktu menggunakan pupuk subsidi paling banter keluar 10-12 kaleng/rante. Jauh bedanya,” terangnya.

Sutrisno (37) petani di Desa Bukit Tinggi, Kecamatan Manyak Payed juga mengamini perbedaan menggunakan pupuk subsidi dan pupuk non-subsidi. Namun, untuk menghemat modal bertani dia terpaksa menggunakan pupuk batuan pemerintah tersebut.

“Kebetulan padi saya sudah dipupuk dengan pupuk subsidi. Hasilnya belum tahu lagi ini. Dari pengalaman yang ada hasilnya jauh beda dengan menggunakan pupuk non subsidi. Bisa 3 sampai 4 kaleng beda produksinya,” beber Sutris.

Sebelumnya, Zulfikar Sulaiman warga Desa Seumantoh, Kecamatan Karang Baru yang bercocok tanam di persawahan Desa Matang Tepah, Kecamatan Bendahara menuturkan, telah lama tidak membeki pupuk subsidi lagi di KUD/distributor sejak hasil panen padinya anjlok. Dia pun tidak tergiur dengan harga pupuk murah. Apalagi saat pupuk subsidi langka pihaknya mengaku tidak pernah risau.

Baca Juga  Terima Aspal Tambal Sulam, Gadjah Puteh Kecam Komisi D DPRK Aceh Tamiang

“Sudah beberapa kali panen ini saya tidak pernah pakai pupuk subsidi lagi. Karena sudah tahu pasti hasilnya sedikit,” ujarnya.

Zulfikar Sulaiman merasa puas menggunakan pupuk non subsidi. Kendati harga mahal tidak jadi kendala, karena bakal tertutupi oleh produksi padi yang melimpah.

“Ketimbang pupuk harga murah tapi tidak jaminan. Tapi biasa lah barang yang murah kualitasnya juga rendah, apa lagi dari bantuan,” ucapnya.

Saat beralih menggunakan pupuk non subsidi, sambung Zulfikar Sulaiman, dalam satu rante sawah bisa menghasilkan sekitar 22 kaleng. Produksi itu hampir dua kali lipat dari hasil sebelumnya saat ia menggunakan pupuk batuan.

“Panen belakangan ini sangat lumayan bisa mencapai 53 goni ukuran 42-45 kg/hektare. Kalau dulu paling tinggi hanya 13 kaleng/rante,” paparnya.

Berharap untung jadi buntung. Mungkin itu kalimat yang tepat bagi kalangan petani yang menggunakan pupuk subsidi. Meski harganya murah tapi tak menjamin kualitasnya.

Sejauh ini para petani di Bumi Muda Sedia tidak mengetahui secara pasti penyebab pupuk subsidi tidak mampu mendongkrak hasil panen petani. Mereka juga enggan menyebut itu pupuk oplosan. Namun faktanya pupuk subsidi justru tidak membantu perekonomian petani.

Komentar

Berita Terbaru