oleh

Tentara Filipina Tewas akibat Serangan Udara Salah Sasaran di Marawi

PENANEGERI, Desk Internasional- Sedikitnya sejumlah sepuluh orang tentara pemerintah Filipina tewas oleh tembakan “salah sasaran” dalam sebuah serangan udara militer sebagai upaya merebut kembali kota Marawi, yang dikepung oleh para pejuang, kata menteri pertahanan, Kamis (1/6).

Tujuh tentara Pemerintah Filipina lainnya terluka pada hari Rabu (31/5) ketika dua pesawat udara gabungan SF-260, menjatuhkan bom pada sasaran di jantung Kota Marawi, Menteri Delfin Lorenzana mengatakan kepada wartawan. Pesawat pertama mengenai sasaran tapi yang kedua meleset dari sasaran.

Tentara Filipina berjanji untuk menyelamatkan warga sipil yang terjebak oleh pejuang terkait ISIL di Marawi.

“Sangat menyedihkan bisa mengenai pasukan kita sendiri,” kata Lorenzana. “Pasti ada kesalahan di suatu tempat, entah seseorang yang mengarahkan dari darat, atau pilotnya,” kata Lorenza.

Angkatan bersenjata Filipina telah menggunakan kombinasi operasi darat oleh tentara dan helikopter serangan udara untuk mencoba mengusir pemberontak Maute yang disebut terkait dengan ISIL, yang telah menduduki daerah Marawi selama delapan hari.

Kelompok Maute telah terbukti menjadi musuh yang hebat, menempel ke jantung Kota Marawi selama beberapa hari serangan udara yang militer katakan “membedah” sasaran pemberontak yang diketahui.

Kematian tentara tersebut menyebabkan jumlah pasukan keamanan terbunuh menjadi 38, dengan 19 warga sipil dan 120 pejuang pemberontak tewas dalam pertempuran di Marawi selama sembilan hari terakhir.

Lorenzana, menteri tersebut, mengatakan bahwa militan petempur ada yang berasal dari Saudi, Malaysia, Indonesia, Yaman dan Chechnya termasuk di antara delapan orang asing yang terbunuh dalam pertempuran antara tentara pemerintah Filipina dengan pemberontak Maute.

Dalam pesan teks sebelumnya kepada wartawan, dia mengatakan tentang insiden “friendly fire” ( tertembak oleh kawan sendiri).

“Terkadang hal itu terjadi, kadang-kadang dalam ‘kabut perang’ … Koordinasi tidak dilakukan dengan benar sehingga kita menembak orang-orang kita sendiri.” katanya

Ribuan warga sipil telah melarikan diri dari pertempuran di Kota Marawi, yang berpenduduk mayoritas penduduk Muslim dengan berpenduduk 200.000 jiwa, terletak sekitar 800km selatan ibukota Manila.

Presiden Rodrigo Duterte mengumumkan darurat militer di selatan sepanjang pertengahan Juli setelah para pejuang mengamuk mematikan di Marawi minggu lalu, menyusul serangan militer yang tidak berhasil untuk menangkap Ismilon Hapilon – seorang militan asal Marawi yang dianggap sebagai pemimpin ISIL setempat.

Lebih dari 2.000 orang diperkirakan terjebak di zona konflik di Marawi, meresikokan akan kehidupan mereka di tengah kekerasan oleh militan dan serangan udara militer. (*)

Komentar

Berita Terbaru