oleh

Terkait Kasus Bunuh Diri Pelajar, KAHMI Aceh Tamiang Titip Isu pada MPD

PENANEGERI, Aceh Tamiang – Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Aceh Tamiang merespon positif penjaringan isu pendidikan kekinian oleh Majelis Pendidikan Daerah (MPD) Kabupaten setempat. Bahkan KAHMI juga mendorong penjaringan isu yang dilakukan hendaknya mencapai titik penyelesaiaan yang sesuai dengan harapan.

“Dalam hal ini kami menitip kasus bunuh diri pelajar diangkat kembali dan menjadi prioritas dalam pembahasan para penggiat pelaku pendidikan daerah setempat,” demikian dikatakan Presidium KAHMI Aceh Tamiang, Juliansyah, S.Pd.I, M.Pd dalam ruang diskusi terbatas bersama sejumlah awak media di Karang Baru, Minggu (19/11).

Presidium KAHMI itu menjelaskan, jika isu mengambil rate kekinian. Maka kasus bunuh diri pelajar tersebut pantas menjadi prioritas dari isu-isu lainnya. Rate didorong pada kasus yang belum selesai alias mengambang ditinjau dari perspektif opini dan psikis anak-anak dan pelajar lainnya. Keterlibatan anak-anak  diketahui lewat media sosial dinding facebook pelaku yang memberikan like sebagai bentuk “dukungan” tindakan.

Dari pengamatan di laman facebook yang bersangkutan, “like” sebelum dan sesudah kejadian itu, terus bergerak dari viewers yang berkunjung dilaman tersebut. Responsifnya mencapai puluhan, ratusan hingga mendekati ribuan.

Baca Juga  Air yang Genangi Jalan Negara Dikuras BPBD Aceh Tamiang

“Ini warning bagi kita semua dan perlu dilakukan tindakan nyata untuk menekan dan mengikis tindakan salah tersebut,” tegasnya.

Sejauh ini pihaknya belum paham makna like itu sebenarnya. Dukungan atau larangan. Icon itu memang simple. Tapi jika diamati mempunyai arti yang sangat mendalam. Namun jika kita tinjau dari laman kebiasaan facebook ungkapan like seolah-olah diartikan oleh anak dibawah umur sebagai persetujuan bahwa bunuh diri adalah jalan terbaik dalam menyelesaikan setiap masalah sosial.

Dalam pandangan tatanan dan ruang, lanjut Juliansyah, kedudukan like dalam opini tersebut terus bergerak dan mencari tempat kepada jiwa-jiwa anak yang kering dan kosong.

“Ini harus segera disikapi dengan cepat dan bijak. Ini harus ada antisipasinya. Jika terlambat, tarik-menarik tindakan yang salah akan menjadi sebuah pembenaran terhadap anak-anak lainnya,” beber mantan jurnalis era konflik Aceh tersebut.

Sebagai pengetahuan bersama, bahwa sifat dan prilaku dasar anak itu cendrung meniru ketimbang menjaring dan menganalisa sebuah tindakan. Ini adalah titik-titik dasar pembangunan mental anak didik yang harus diperhatikan.

Baca Juga  Pedagang Kuliner di Taman Terbuka Hijau Aceh Tamiang, Bebas Biaya Pungutan Apapun

“Artinya pembangunan pendidikan tidak akan berjalan jika mental anak tidak diperhatikan,” tandasnya.

Komentar

Berita Terbaru