oleh

Tertarik dengan Benda Bersejarah, Warga Belanda Kunjungi Anjungan Aceh Timur

-Aceh-136 views

PENANEGERI, Banda Aceh – Pada perayaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke VII, anjungan Aceh Timur turut mensajikan berbagai aneka peninggalan bersejarah, hal ini membuat daya tarik pengunjung dari berbagai kabupaten/kota.

Selain masyarakat Aceh, anjungan Aceh Timur yang memamerkan benda bersejarah juga dikunjungi salah seorang warga Negara Belanda.

“Aceh Timur tidak hanya menampilkan tentang kebudayaan saja, akan tetapi juga memiliki banyak potensi yang mempunyai nilai sejarah,” sebut Kabag Kesra Mujiburrahman, SE, M.AP, Selasa (14/8).

“Sejarah menarik ini dapat disimak ketika saat berkunjung ke anjungan Kabupaten Aceh Timur di arena Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) Ke VII yang berada di Taman Sulthanah Safiatuddin, Lampriet, Banda Aceh,” kata Mujiburrahman.

Sementara itu, Abdul Hakim Amin penjaga barang-barang bersejarah di anjungan Aceh Timur menyampaikan, ada beberapa barang peninggalan bersejarah yang kami bawa dari Aceh Timur. Seperti, peninggalan sejarah masa kerajaan Peureulak, masa Jepang hingga masa penjajahan Belanda.

“Ada beberapa peninggalan bersejarah di Aceh Timur, seperti peninggalan parang (golok) orang Aceh, Bedil VOC (Belanda), keris peningalan kerajaan, tombak dan pedang serta pedang Samurai Jepang Samurai,” ujar Abdul Hakim.

Baca Juga  PKA ke VII, IPQAH Langsa Juara I Zikir Maulid se Aceh

Ia menambahkan, senapan dan pistol merupakan peninggalan yang diberikan oleh VOC saat ke Peureulak, Kabupaten Aceh Timur masa itu. Begitu juga dengan pedang dan samurai diberikan oleh Jepang kepada Ulee Balang di Aceh Timur ketika Jepang memasuki wilayah tersebut,” jelasnya.

Selain itu, ada juga sebuah meriam pemberian Kerajaan Turki kepada Kerajaan Peureulak yang diletakan di luar anjungan, bahkan ada miniatur meriam yang diberikan oleh Portugis bertulisan 1651 Masehi.

Sambungnya, di anjungan Kabupaten Aceh Timur juga diperlihatkan silsilah dari raja-raja Islam yang ada di Aceh. Di sana tertulis, bahwa raja-raja Islam di Aceh bermula dari Bani Hasyim, yang kemudian berlanjut ke masa Peureulak, Samudera Pasai, Tamiang, Malaka, dan seterusnya hingga saat ini.

Bahkan ada Al Quran diperkirakan sudah berusia berabad-abad yang ditulis tangan.

“Al Qur’an bertuliskan tangan yang diperkirakan sudah ada sejak abad ke-17 atau 1600-an Masehi. Selain itu ada silsilah raja-raja Peureulak dan seluruh Aceh,” ucapnya.

Di anjungan Aceh Timur juga ada koleksi uang dirham, uang Persia, serta uang Dulpaka. Uang Dulpaka artinya uang berlambagkan pedang sahabat empat. Selain itu juga ada naskah tua, Buku Monisa dan sejarah Aceh serta kisah Banta Ahmad.

Komentar

Berita Terbaru