oleh

Tindakan ‘Bullying’ Meningkatkan Keinginan Bunuh Diri Korbannya Saat Remaja

PENANEGERI, Sosial – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) telah melaporkan bahwa sudah ada 2.435 laporan tentang aduan tindakan kekerasan pada anak sepanjang 2011 hingga 2016, dimana tempat kejadian hampir semuanya dilakukan di sekolah. Pelaku bahkan merupakan teman terdekat korbannya dan dilakukan teman sebayanya.

Bahaya tindakan bullying atau perundungan memang tidak akan terlihat sekarang, namun anak-anak yang mengalaminya secara terus menerus bahkan setiap harinya bisa memicu keinginan bunuh diri pada korban setelah remaja. Hal ini merupakan hasil penelitian dan pengamatan selama 15 tahun di Quebec, Kanada.

Dimana hasil penelitian tersebut anak-anak yang mengalami dampak buruknya mulai dari usia 6 hingga 13 tahun, dengan latar belakang ekonomi dan keluarga yang berbeda. Anak laki-laki mendapatkan kekerasan bullying lebih tinggi dari perempuan, hal ini bukan hanya sekedar dalam bentuk verbal namun juga secara fisik.

Bullying Verbal Menyebabkan Kerusakan Mental

Apabila kekerasan dilakukan secara fisik, tentu orang tua akan segera tahu dan melakukan tindakan pencegahan hingga memberikan pertolongan pada anak. Namun bagaimana jika yang terjadi bulliying secara verbal, mulai dari berkata kasar, memaki, melecehkan dan berteriak yang membuat mental anak menjadi down.

Baca Juga  Perempuan Muda Bunuh Diri di Tempat Karaoke

Hal ini bukan hanya terjadi di sekolah saja, namun banyak kejadian di rumah dan dilakukan orang tua. Inilah yang mindset yang harus di rubah sekarang ini, dimana orang tua sering kali berteriak jika anak melakukan kesalahan, meluapkan kemarahan setelah bekerja tanpa anak tahu apa kesalahan yang dilakukan.

Kekerasan verbal bukan hanya dalam bentuk makian dan teriakan, namun juga quiet abuse. Dimana orang tua melakukan kritikan dan membandingkan dengan orang lain, ini sering kali membuat anak-anak merasa tidak nyaman. Sehingga saat dewasa mulai melakukan perlakuan yang sama, membandingkan apa yang diberikan orang tua anak lain dengan apa yang didapatkan sekarang ini.

Orang tua tidak boleh marah, karena apa yang dilakukan anak setelah menjelang remaja. Inilah buah pikir yang didapatkan sebelumnya, dimana perlakukan kecil yang kurang baik memang memicu kejadian serupa. Karena banyak penelitian sekarang ini sudah terbukti, dimana anak-anak yang mengalami bullying baik secara fisik dan verbal memiliki kecenderungan untuk bunuh diri lebih tinggi.

Baca Juga  Perempuan Muda Bunuh Diri di Tempat Karaoke

Hal ini karena kerusakan mental sudah terjadi dan dialami dalam jangka panjang, mulai berkurangnya rasa percaya diri, enggan untuk bersosialisasi dengan orang sekitar bahkan lebih memilih berada di kamar saat berada di rumah. Jika sudah mulai muncul tanda demikian, sebaiknya para orang tua harus melakukan tindakan tegas.

Langkah Tegas yang Dilakukan Orang Tua Menghadapi Bullying pada Anak

Apa saja tindakan yang bisa dilakukan orang tua untuk mengatasi bullying pada anak, tumbuhkan kedekatan emosional. Salah satu contoh kecilnya, sapa anak saat melihatnya di rumah setelah pulang kerja. Tanyakan apa yang terjadi hari ini di sekolah, apa saja masalahnya, bagaimana teman-temannya. Jika hanya mendapatkan jawaban singkat, maka bisa disimpulkan terjadi masalah.

Apabila anak enggan untuk bercerita, cobalah cari tahu dengan guru yang ada di sekolah atau orang terdekatnya, misalkan pekerja yang ada di rumah. Peran kecil inilah yang harus dilakukan orang tua untuk mengamati tumbuh kembang anak, jangan hanya melepaskan begitu saja setelah memberikan materi dan penghidupan yang cukup.

Baca Juga  Perempuan Muda Bunuh Diri di Tempat Karaoke

Kekerasan bullying akan jadi sebuah masalah besar, jika terjadi secara terus menerus tanpa mendapatkan solusi. Awalnya memang hanya ejekan kecil, namun lambat laun pelaku akan melakukan kekerasan verbal yang lebih serius dan berdampak buruk bagi anak nantinya menjelang remaja bahkan saat dewasa.

Komentar

Berita Terbaru