oleh

Tingkat Kerawanan Pangan Dunia Tinggi

PENANEGERI, Internasional- Tingkat kelaparan tetap tinggi di tengah konflik, dan perubahan iklim yang terjadi di dunia ini.

Meningkatnya kelaparan dan kerawanan pangan, didorong oleh konflik dan tantangan iklim, hal ini terus menimbulkan penderitaan pada populasi di berbagai belahan dunia, yang memaksa mereka untuk tetap bergantung pada bantuan kemanusiaan.

Hal ini dinyatakan dalam sebuah laporan terbaru Perserikatan Bangsa-Bangsa, hari Senin (5/3) seperti dirilis dalam situs resmi PBB.

Menurut laporan Prospek Tanaman dan Pangan (Crop Prospects and Food Situation report), yang dirilis pada hari Senin (5/3) oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (UN Food and Agriculture Organization – FAO), kebutuhan akan bantuan pangan eksternal di 37 negara, -baik yang terkena dampak konflik atau guncangan iklim yang merugikan-, tetap tidak berubah dibandingkan dengan situasi tiga bulan lalu.

“Perang saudara dan ketidak-amanan adalah alasan langsung untuk tingkat kelaparan yang tinggi di 16 negara tersebut, mulai dari Burundi sampai Yaman,” kata FAO dalam sebuah rilis berita yang mengumumkan temuan tersebut.

“Konflik telah menggusur jutaan orang, menghambat kegiatan pertanian dan, dalam banyak kasus, juga menggerakkan harga makanan pokok naik tajam,” tambahnya.

Pada saat yang sama, curah hujan yang tidak memadai dan tidak menentu juga menimbulkan ancaman terhadap keamanan pangan di Afrika bagian selatan dan timur, di mana banyak rumah tangga pedesaan menderita empat musim pertanian yang terkena dampak kekeringan.

Di Somalia, produksi biji-bijian gabungan untuk musim hujan “deyr” di negara ini diperkirakan mencapai 20 persen di bawah rata-rata, dan pola serupa dalam curah hujan dan hasil panen telah terjadi di tenggara Tanzania.

Selanjutnya, harga serealia (biiji-bijian) pokok seperti gandum, millet atau sorgum, terus tetap tinggi akibat penghapusan subsidi, kenaikan permintaan, dan melemahnya mata uang.

Di Republik Demokratik Kongo, misalnya, inflasi mendorong harga naik lebih dari dua kali lipat pada tahun 2017 ke tingkat tahunan sebesar 42 persen.

Faktor lain yang mendorong kenaikan harga pangan adalah terganggunya rute perdagangan tradisional karena kekerasan, seperti di dalam dan sekitar Sahel, yang akibatnya negara-negara yang bergantung pada rute ini (seperti Libya) di mana mengalami harga yang jauh lebih tinggi dan juga menghadapi kekurangan pangan.

Laporan FAO mencantumkan 37 negara berikut ini membutuhkan bantuan pangan eksternal, yakni : Afghanistan; Burkina Faso; Burundi; Kamerun; Republik Afrika Tengah; Chad; Kongo; Republik Rakyat Demokratik Korea; Republik Demokrasi Kongo; Djibouti; Eritrea; Etiopia; Guinea; Haiti; Irak; Kenya; Lesotho; Liberia; Libya; Madagaskar; Malawi; Mali; Mauritania; Mozambik; Myanmar; Niger; Nigeria; Pakistan; Sierra Leone; Somalia; Sudan Selatan; Sudan; Swaziland; Syria; Uganda; Yaman; dan Zimbabwe. (*)

Komentar

Berita Terbaru