oleh

Turki Perangi Kurdi Suriah Pada Dua Front di Afrin

PENANEGERI, Internasional – Pasukan Turki telah menguasai 11 posisi Kurdi dan menciptakan “zona aman” di wilayah barat laut Suriah, Afrin, menurut media Turki.

Laporan pada hari Selasa (23/1) mengatakan tentara Turki dengan dibantu oleh milisi Free Syria Army (FSA), maju terus ke arah bagian selatan wilayah Suriah dengan front di sebelah barat dan timur.

Tentara Turki, yang memulai operasi Afrin pada hari Sabtu (20/1), telah merebut desa-desa di Shankal, Qorne, Bali dan Adah Manli, serta daerah pedesaan Kita, Kordo dan Bibno dan empat bukit lainnya di Afrin, demikian harian Turki Hurriyet melaporkan.

Kantor berita Anadolu, Turki, melaporkan bahwa pasukan Turki meluncurkan front kedua ke arah Afrin dari Azaz Suriah pada hari Senin (22/1) untuk melawan Unit Perlindungan Rakyat (YPG) – sebuah pasukan Kurdi Suriah – baik dari barat dan timur untuk maju ke selatan Afrin.

Turki melihat YPG sebagai “kelompok teroris” yang bertindak sebagai cabang Partai Buruh Kurdistan (PKK) Suriah, yang telah melakukan perang berdarah tiga dekade melawan negara Turki.

Baca Juga  Konflik di Ghouta Timur dan Afrin di Suriah Akibatkan Penderitaan

Militer Turki kemudian juga mengumumkan adanya korban seorang tentaranya yang tewas dalam bentrokan dengan YPG di tenggara kota perbatasan Gulbaba.

Kantor Berita Al Jazeera melaporkan bahwa Observatorium Suriah untuk Hak Asasi Manusia yang berbasis di Inggris mengatakan bahwa total 22 warga sipil Suriah telah terbunuh oleh serangan Turki dan dua lainnya oleh tembakan orang Kurdi selama operasi tersebut.

Dilaporkan 54 petempur Suriah tewas, termasuk 19 petempur yang didukung Turki, 26 petempur Kurdi dan sembilan orang tak dikenal lainnya.

Turki telah membantah menimbulkan adanya korban sipil. Menteri Luar Negeri Mevlut Cavusoglu menuduh YPG mengirimkan “propaganda omong kosong dan dusta tanpa dasar”.

Dewan Keamanan PBB membahas serangan Turki dan memburuknya krisis kemanusiaan di Suriah pada hari Senin (22/1) namun tidak mengecam atau menuntut diakhirinya operasi Turki.

Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson, saat berkunjung ke London, mengatakan bahwa dia “prihatin” tentang serangan tersebut, dan kepala diplomatik Uni Eropa Federica Mogherini mengatakan bahwa dia akan membahas situasi tersebut dengan pejabat Turki.

Baca Juga  Pasukan Turki Telah Menyeberang ke Afrin Suriah

Namun Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan menyatakan ketidaksabaran dengan tuntutan AS untuk menetapkan jadwal yang jelas, dengan mengatakan bahwa kampanye militer tersebut akan berakhir “ketika target tercapai”.

“Sudah berapa lama Anda di Afghanistan? Apakah itu di Irak?” katanya, mengacu pada kehadiran militer AS yang sudah berjalan lama di negara-negara tersebut.

Presiden Erdogan sebelumnya mengindikasikan bahwa sekali kontrol diberlakukan di Afrin, Turki ingin menuju ke timur untuk mengalahkan YPG di kota Manbij.

Sementara itu, Rusia dan Iran – yang memiliki kehadiran militer di Suriah dan bekerja sama dengan Turki dalam proses perdamaian – juga telah menyatakan keprihatinannya.

Presiden Erdogan menegaskan Turki telah membahas operasi tersebut terlebih dahulu dengan Rusia. (*)

Komentar

Berita Terbaru