oleh

Vaksin Mengandung Babi, Keluarga Pasien Mengetahui Setelah 3 Hari di Suntikkan

PENANEGERI, Aceh Tamiang – Obat suntik (injeksi) yang mengandung unsur babi, diduga telah lama beredar di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang. Sebelumnya, vaksin bersumber babi tersebut disuntikan kepada pasien penyakit jantung yang berobat di RS milik pemda setempat.

Hal itu terungkap ketika keluarga salah seorang pasien melaporkan kejadian yang pernah dialami kepada LSM Gadjah Puteh.

Direktur Eksekutif DPP LSM Gadjah Puteh, Sayed Zahirsyah Almahdaly kepada Penanegeri.com di Karang Baru, Jumat (31/3) mengatakan, pihaknya berharap pengadaan vaksin mengandung babi itu dihentikan segera oleh RSUD Aceh Tamiang.

“Kita juga akan pertanyakan beredarnya obat itu apakah telah mendapat izin dari MUI atau tidak,” ujarnya.

Menurut Sayed, jika obat mengandung babi memang dibutuhkan dengan dalih untuk kesehatan penderita jantung, namun jangan disuntikan kepada pasien muslim. Sebab masih ada obat injeksi lain yang halal yaitu mengandung unsur sapi.

“Semua orang tahu mayoritas masyarakat Aceh itu muslim, lalu kenapa obat mengandug babi dibiarkan beredar bebas di RSUD Aceh Tamiang. Jika terpaksa harus diberikan, mestinya harus dikonsultasikan dulu kepada pasien dan keluarganya,” jelas Sayed.

Tapi yang terjadi beberapa waktu lalu sambung Sayed, setelah beberapa kali injeksi obat mengandung babi disuntikan ketubuh pasien, baru keluarganya diberitahukan oleh asisten apoteker RSUD Atam bahwa obat tersebut mengandung babi. Sontak kabar itu membuat kaget dan pilihan terakhir keluarga pasien menolak untuk disuntik pada saat itu.

“Hal itu dialami oleh pasien yang masih keluarga besar saya. Bahkan setelah keluar dari RS, lalu penyakit jantungnya kambuh lagi, obat mengandung babi itu tetap diberi kepada pasien. Namun karena tidak ada pilihan lain dengan terpaksa injeksi haram itu masuk ketubuh sang pasien,” sambungnya.

Diceritakan, kejadian itu telah berlangsung sekitar tiga bulan lalu, namun dia yakin obat mengandung babi itu masih beredar di RSUD Aceh Tamiang. Sebab, belum lama ini pasien kembali ke RSUD untuk berobat jantung, namun masih tetap diberikan obat yang sama.

“Nama obat injeksinya, Lovenox 6000 anti-Xa IU/06ml Enoxaparin sodium. Dan dibawahnya tertulis warna hitam “Bersumber Babi”,” urai Sayed Zahirsyah sambil menunjukan foto obat tersebut.

Dikatakan Sayed, keluarga pasien baru tahu obat tersebut bersumber babi setelah mendapat penjelasan dari petugas apotek RSUD Aceh Tamiang. Pihak apotek menjelaskan bahwa ada dua jenis obat injeksi jantung yaitu bersumber sapi dan babi. Namun karena injeksi sapi kehabisan stok, terpaksa dikeluarkan injeksi babi. Setelah obat ditebus, lalu diperiksa oleh keluarga pasien ternyata benar ada tulisan diujung bawah mengandung babi. Obat itupun difoto untuk barang bukti.

“Menurut saya petugas apoteker sudah membuat tindakan yang benar, namun saya heran sama perawatnya, kok mereka diam saja obat itu bersumber babi, setelah saya protes mereka berkilah, lho sebelumnya tidak diberitahukan apa sama dokternya,” tutur keluarga pasien yang melaporkan kejadian itu kepada LSM Gadjah Puteh.

Ternyata aksi protes terhadap perawat yang tidak memberitahukan hal sumber babi tersebut sempat menyedot perhatian dan esok harinya langsung digelar rapat internal dengan memanggil penjaga apotek. Disisi lain, keluarga pasien merasa kecewa karena selama empat hari dirawat kenapa tidak diberi tahu oleh dokter atau perawat kalau yang disuntikan itu vaksin bersumber babi.

Direktur RSUD Aceh Tamiang, Ibnu Azis yang dihubungi wartawan, Jumat (31/3) mejelaskan, obat mengandung unsur babi tersebut kegunaanya untuk penyakit jantung memang ada beredar, tapi sudah sesuai izin kedokteran dan Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Sebelum diinjeksikan ke pasien dikonsultasikan dulu kepada keluarga pasien, kalau setuju baru diberikan.

“Ada juga vaksin injeksi sapi, namun efeknya lebih bagus yang unsur babi,” ujarnya.

Menurut Ibnu Azis, obat injeksi bersumber babi diberikan tergantung kondisi pasien. Kalau mendadak dan mendesak untuk keselamatan pasien maka diberikan vaksin unsur babi tersebut. Semua itu tidak ada masalah, karena sudah sesuai aturan, sudah ada izin MUI.

Kalau mau dipermasalahkan silahkan tanyakan langsung sama dokternya. Di rumah sakit lain juga menggunakan itu, tapi tidak diinformasikan kepada pasien seperti di RSUD Aceh Tamiang. Dia mengaku juga pernah bertanya langsung kepada dokter spesialis jantung soal obat bersumber babi tersebut, dan hal itu dibolehkan.

“Pak Direktur tenang saja, saya yang bertanggung jawab,” ucap Ibnu Azis menirukan perkataan dokter jantung yang pernah ditanya olehnya.

Komentar

Berita Terbaru