oleh

Virus Gawai Kini Jadi Salah Satu Penyebab Remaja Depresi

PENANEGERI, Lifestyle – Gawai atau telepon pintar memang kini dimiliki banyak remaja, awalnya memang digunakan sebagai media komunikasi yang lebih mudah dan cepat. Ini memang sengaja diberikan para orang tua agar hubungan keduanya bisa lebih bagus, namun kini gawai sudah memiliki banyak fungsi lain dari sekedar berkomunikasi.

Mulai dari penunjang informasi tanpa batas dengan sambungan internet, komunikasi lebih menarik dengan media sosial dan berbagai jenis game yang tidak pernah membuat bosan.

Maka jangan heran, jika anak-anak hingga remaja lebih memilih sibuk dengan gawai dari pada bersosialisasi dengan teman sebayanya, hal inilah yang kini harus jadi kekhawatiran para orang tua.

Penyebab Depresi

Penggunaan Gawai yang Tidak Tepat oleh Remaja

Pasalnya sekarang ini remaja menggunakan gawai tidak lagi pada tempat dan waktu yang tepat, bahkan hingga larut malam hanya untuk memuaskan rasa ingin tahu dengan apa yang terjadi di sekitarnya dari media sosial.

Untuk itulah, perlu adanya tindakan tegas yang dilakukan orang tua, dimana ini akan menolong anak-anak dan remaja dari kemungkinan depresi jika menggunakan gawai terus menerus.

Padahal penggunaan gawai yang terlalu berlebihan bisa membuat anak-anak hingga remaja mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang sekitar, hal ini karena psikologinya mengalami gangguan dan tidak bisa berkembang seperti teman sebayanya.

Itulah kenapa, sebaiknya mendorong anak untuk melakukan kegiatan bersama di luar ruangan, misalkan berolahraga, kegiatan sosial hingga membantu orang tua.

Bahkan sudah banyak penelitian yang mengatakan bahwa gawai memang memberikan dampak negatif bagi pengguna usia anak-anak hingga remaja tanpa adanya pembatasan, itulah kenapa orang tua harus mengambil peranan penting, lakukan ini untuk kebaikan anak sekalipun terlihat galak dan membatasi setiap pergerakan mereka.

Salah satu contoh untuk melepaskan gawai (gadget) pada anak adalah tidak melibatkan telepon genggam tersebut saat makan, melepaskan gadget saat berkumpul dengan keluarga dan meletakkan gadget di satu tempat dan tidak lagi masuk dalam kantong atau di genggaman tangan terus menerus. Bahkan bisa menerapkan jam tidur normal dan memisahkan anak dari gawai saat harus beristirahat.

Dampak Negatif dari Penggunaan Gawai Secara Berlebihan

Belum lama ini bahkan sudah ada korban jiwa dari kasus penggunaan gawai berlebih, dua orang remaja dari Bondowoso harus mendapatkan penanganan dari rumah sakit poli kejiwaan. Ini dikarenakan menggunakan gawai secara berlebihan, bahkan sudah masuk dalam level gawai tingkat akut. Dimana hal tersebut membuat kedua remaja wanita tersebut memilih menyendiri baik di sekolah dan di rumah.

Kepribadian keduanya juga menurun drastis, bahkan sebulan terakhir sudah tidak lagi ingin bersekolah. Saat dua remaja tersebut diminta gawainya oleh orang tua, mereka cenderung akan mengamuk dan membanting semua barang di sekitarnya, bahkan tidak segan untuk menyakiti diri sendiri. Hal tersebut membuat orang tua tidak sanggup dan membawanya ke rumah sakit, agar mendapat pengawasan dokter.

Hal ini tentu menjadi masalah yang serius, virus yang lebih mematikan tanpa adanya obat secara medis. Peran orang tua memang dikuatkan, karena anak-anak hingga remaja masih tinggal bersama dan mendapatkan pengaruh kuat.

Saat menerapkan aturan gawai tersebut, para orang tua juga harus mengikutinya sehingga anak-anak tidak akan merasa dicurangi karena orang tua mereka masih menggunakan gawai secara berlebih.

Hidupkan komunikasi di rumah dengan lebih baik, ajak semua anggota keluarga untuk lebih banyak bicara, berkumpul dan mendengarkan setiap keluh kesahnya.

Ini akan membuat anak-anak tumbuh menjadi orang yang lebih baik dan mau melihat keadaan sekitar, jadikan gawai sebagai penunjang bukan teknologi yang memisahkan anak dengan dunia luar.

Komentar

Berita Terbaru