oleh

Warga Palestina Gelar Demonstrasi ‘Day of Rage’

PENANEGERI, Internasional – Puluhan warga Palestina menderita luka-luka dalam aksi demonstrasi menentang pengakuan AS atas Yerusalem sebagai Ibukota Israel. Ribuan orang Palestina turun ke jalan-jalan di Yerusalem, Tepi Barat dan Jalur Gaza untuk memprotes keputusan AS yang telah mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel, sebuah langkah kontroversial yang menyebabkan ketegangan di Palestina dan di seluruh wilayah tersebut.

Di Tepi Barat (West Bank) yang diduduki Israel, warga Palestina bentrok dengan pasukan Israel di beberapa kota sepanjang hari Kamis (7/12).

Sedikitnya 49 warga Palestina terluka dalam demonstrasi tersebut, dan 16 orang terpaksa dilarikan ke rumah sakit, menurut otoritas kesehatan setempat di Tepi Barat.

Kantor Berita Al Jazeera, yang melaporkan dari Ramallah, mengatakan bahwa bentrokan tersebut mereda setelah “beberapa jam konfrontasi cukup kuat antara pemuda dan tentara Israel”.

Pengunjuk rasa Palestina berkumpul di alun-alun Al Manara tengah di Ramallah dan bergerak menuju El Bireh, di mana mereka disambut oleh tentara Israel yang menembakkan gas air mata dan peluru karet.

Kantor Berita Anadolu juga melaporkan aksi protes juga diadakan di Hebron, Nablus, Jenin, Tulkarem dan Jericho di Tepi Barat, serta di Yerusalem Timur dan Jalur Gaza.

Sementara, Kantor Berita Palestina Wafa melaporkan bahwa terdapat sedikitnya empat warga Palestina terluka di Gaza setelah tentara Israel menembakkan amunisi langsung ke puluhan demonstran yang berkumpul di timur Khan Younes, di bagian selatan wilayah pesisir.

Presiden Trump, yang mengabaikan peringatan dari masyarakat internasional, telah mengumumkan pada hari Rabu (6/12) bahwa AS secara resmi telah mengakui Yerusalem sebagai ibukota Israel dan akan memulai proses perpindahan Kedutaan Besar AS ke kota Yerusalem.

Keputusan tersebut telah dikutuk oleh para pemimpin dunia yang telah menggambarkannya sebagai “eskalasi berbahaya” dan mengibaratkan sebagai ‘sebuah paku terakhir di peti mati perundingan perdamaian antara Israel dan Palestina’.

Warga Palestina menginginkan Yerusalem Timur sebagai ibu kota negara masa depan mereka, sementara Israel mengatakan bahwa kota tersebut, yang berada di bawah pendudukan Israel, dan tidak dapat dibagi.

“Pengumuman Trump” berpotensi untuk mengirim kita mundur ke masa yang lebih gelap daripada yang telah kita jalani,” kata Federica Mogherini, perwakilan tinggi Uni Eropa untuk urusan luar negeri.

Dalam sebuah pidato di Kota Gaza pada hari Kamis (7/12), pemimpin Hamas Ismail Haniya mengatakan bahwa keputusan AS adalah sebuah “deklarasi perang melawan orang-orang Palestina”, dan meminta sebuah Intifadah baru, atau pemberontakan.

Ismail Haniya mengatakan pengakuan Presiden AS Donald Trump telah “membunuh” proses perdamaian Israel-Palestina.

“Keputusan ini telah membunuh proses perdamaian, telah membunuh Oslo, telah membunuh proses penyelesaian,” katanya.

“Keputusan AS adalah sebuah agresi, sebuah deklarasi perang terhadap kita, di tempat-tempat Muslim dan Kristen terbaik di jantung Palestina, Yerusalem. Kita harus bekerja untuk meluncurkan sebuah Intifadah di hadapan musuh Zionis,” kata Haniya.

Hari Kemarahan (Day of Rage)

Warga Palestina telah bertekad untuk melakukan aksi demontrasi  dalam  ‘hari kemarahan’ (Day Of Rage) untuk menanggapi pengumuman Trump pada hari Rabu (6/12) lalu, dengan cara turun ke jalan dan penutupan sekolah serta toko-toko lokal.

Kantor Berita Al Jazeera, yang melaporkan dari Yerusalem Timur pada hari Kamis (7/12), mengatakan sebuah demonstrasi berskala kecil telah berlangsung hampir sepanjang hari di luar Gerbang Damaskus, pintu masuk utama Kota Tua.
Sementara Polisi Israel berusaha untuk memecah demonstrasi tersebut dan menyita bendera Palestina.

Di Ramallah, dilaporkan bahwa “putaran konfrontasi lain” antara Palestina dan tentara Israel diperkirakan akan terjadi pada hari Jumat (8/12) ini. (*)

Komentar

Berita Terbaru