oleh

Zulkifli Hasan Jawab Sri Mulyani: Yang Sesat Itu Menkeu!

PENANEGERI, Jakarta – Ketua MPR Zulkifli Hasan menjawab tudingan ‘sesat’ Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani soal kritik utang pemerintah. Zulkifli menyebut justru Sri-lah yang sesat.

“Yang menyesatkan itu–catat–Menteri Keuangan, bukan Ketua MPR,” kata Ketua MPR Zulkifli Hasan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (20/8/2018).

Selain itu, soal tudingan ‘politis’ yang disematkan Sri terhadap kritiknya, Ketua MPR Zulkifli Hasan menilai hal itu aneh. Sebab, MPR/DPR adalah lembaga politik yang memiliki kewenangan berbicara soal politik.

“Ini MPR/DPR adalah lembaga politik, jadi ngomong politik tempatnya,” sebutnya.

Ketua MPR Zulkifli Hasan kemudian menjelaskan panjang-lebar terkait kritik pembayaran pokok utang pemerintah yang disoal Sri itu. Dia terlihat sudah menyiapkan beberapa lembar kertas yang berisikan data utang pemerintah.

Lewat kertas itu, Zul merujuk pada pernyataan Sri yang sempat berbicara soal jatuh tempo utang pemerintah senilai Rp 409 triliun. Selain itu, ia merujuk pada pernyataan beberapa ekonom, di antaranya Rizal Ramli dan pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira.

“Ini Sri Mulyani sendiri yang menyatakan bahwa utang jatuh tempo mencapai 409 T. Ini pernyataan beliau loh, menyerap anggaran 2019 nanti. Ini kalau rupiahnya melemah nambah nanti,” tutur Ketua MPR Zulkifli Hasan.

Sebelumnya, Sri menyebut kritik Ketua MPR Zulkifli Hasan soal pembayaran pokok utang pemerintah menyesatkan. Kritik Ketua MPR Zulkifli Hasan itu disampaikan dalam pidato sidang tahunan MPR 16 Agustus 2018. Saat itu dia menyampaikan besaran pembayaran pokok utang pemerintah yang jatuh tempo pada 2018 sebesar Rp 400 triliun, yang 7 kali lebih besar daripada dana desa dan 6 kali lebih besar daripada anggaran kesehatan, dinilai tidak wajar.

“Pernyataan tersebut selain bermuatan politis juga menyesatkan,” kata Menkeu Sri Mulyani Indrawati seperti dikutip dari laman Facebook-nya, Jakarta, hari ini. (*/dtc)

Komentar

Berita Terbaru