oleh

136 Unit Sepmor Ditangkap saat Razia Balap Liar di Bireuen

PENANEGERI, Bireuen – Sebanyak 136 unit sepeda motor berbagai jenis disita Satlantas Polres Bireuen saat razia balapan liar di bulan Ramadhan.

Seluruh kendaraan roda dua itu diamankan selama sepekan terakhir. Bahkan, Satlantas Polres Bireuen menindak tegas dan membubarkan balap liar yang terjadi di beberapa ruas jalan di Bireuen.

Kapolres Bireuen, AKBP Gugun Hardi Gunawan SIK, melalui Kasat Lantas, Iptu Sandy Titah Nugraha SIK, Minggu (3/5) mengaku, setiap pemilik sepeda motor yang disita saat balapan liar ini tetap harus membayar tilang.

“Sejauh ini ada 136 unit sepeda motor berbagai jenis telah kami amankan. Semua kendaraan roda dua ini tetap ditilang, pemiliknya diberikan sanksi berupa pembinaan dari Satlantas Polres Bireuen,” ujarnya.

Selama sepekan terakhir, para ABG yang terlibat balap liar itu selalu berpindah lokasi balapannya. Tapi tim akan selalu membubarkannya, bahkan kini tetap melakukan patroli khusus.

“Kita akan terus mengejar dan menangkap semua yang ikut balapan liar, apalagi masyarakat juga mendukung tidak adanya balapan liar karena sangat meresahkan,” tegasnya.

Selama ini warga ikut memberi informasi kepada personel Satlantas tentang titik lokasi balapan lair yang dilakukan remaja di Bireuen, terutama usai tarawih dan menjelang subuh.

Lokasi yang kerap dijadikan arena balapan liar itu berada di seputar Kantor Bupati, Cot Gapu, Bireuen, depan Pendopo Bupati, dan seputar jalan elak, kawasan Geulanggang Teungoh hingga Cot Gapu serta arah Barat Kota Bireuen.

“Mereka yang tertangkap, maka wajib menghadirkan orang tuanya, perangkat gampong dengan membuat surat pernyataan, dan harus membawa STNK dan BPKB,” timpal Kasat Lantas.

Setelah persyaratan itu lengkap, maka sepeda motornya dikembalikan, tapi bila persyaratannya tidak lengkap, maka kendaraan akan dilimpahkan ke Satreskrim untuk penyelidikan lebih lanjut.

Kententuan ini, lanjutnya, merupakan atensi keras bapak Kapolda Aceh melalui Dirlantas, Kombes Pol Dicky Sondani, balap liar tidak boleh terjadi lagi di seluruh Aceh.

“Pelakunya tetap harus ditindak tegas karena mengganggu aktivitas masyarakat, serta membahayakan pengguna jalan lainnya. Seharusnya mereka itu mengaji di meunasah, bukan balapan liar di bulan suci Ramadhan,” pungkasnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *