oleh

373.031 Tanda Tangan Petisi Online untuk Cabut Nobel Perdamaian Suu Kyi

PENANEGERI, Desk Internasional- Atas keprihatinan mendalam tentang krisis kemanusiaan  yang menimpa kaum Rohingya, sebanyak 373.031 tanda tangan terkumpul dalam petisi online meminta agar Aung San Suu Kyi dicopot dari Hadiah Nobel Perdamaian. Jumlah angka tanda tangan online dalam petisi online ini masih bertambah dengan cepat secara real time.

Terhitung pada hari Jumat (8/9) dini hari sejumlah 373.031 tanda tangan telah terkumpul dalam sebuah petisi online di situs www.change.org, yang meminta komite Hadiah Nobel Perdamaian untuk mencabut Hadiah Nobel Perdamaian Aung San Suu Kyi atas perlakuan pemerintah Myanmar terhadap Muslim Rohingya.

Aktivis perdamaian telah meluncurkan sebuah kampanye internasional yang meminta Komite Hadiah Nobel Perdamaian untuk mencabut hadiah nobel perdamaian tahun 1991, yang diberikan  kepada  Aung San Suu Kyi, pemimpin de facto Myanmar saat ini, atas keterlibatannya dalam apa yang dipandang sebagai pembersihan etnis Muslim Rohingya di negara ini.

Petisi yang diluncurkan di situs change.org,  secara online telah ditandatangani oleh 373.031 pendukung, Jumat (8/9).

Jumlah pendukung petisi ini jelas akan makin bertambah, karena jika di buka di situs www. change.org jumlah tanda tangan secara online untuk petisi ini makin meningkat deras, seiring makin meningkat derasnya arus pengungsi etnis Rohingya yang lari dari Myanmar menuju ke negara-negara tetangga seperti Bangladesh.

Pasukan Myanmar dilaporkan para pengungsi telah menyerang kaum minoritas Rohingya dan membakar desa mereka di Negara Bagian Rakhine sejak kerusuhan terakhir meletus secara massif sejak 25 Agustus, menyusul setelah  serangan bersenjata terhadap pos-pos polisi dan militer di negara bagian barat Rakhine yang bermasalah itu.

Letusan terakhir kekerasan di Rakhine telah membunuh lebih dari 400 orang dan memicu eksodus Rohingya ke Bangladesh.

Human Rights Watch sebelumnya mengatakan bahwa citra satelit menunjukkan 700 bangunan dibakar di desa Rohingya Chein Khar Li, hanya satu dari 17 lokasi di Rakhine dimana kelompok hak asasi manusia telah mendokumentasikan pembakaran rumah dan properti.

Pada hari Rabu, Dipayan Bhattacharyya, juru bicara Bangladesh untuk Program Pangan Dunia (WFP), mengatakan bahwa pejabat PBB telah meningkatkan perkiraan jumlah pengungsi Rohingya yang diperkirakan melarikan diri ke Bangladesh dari 120.000 sampai 300.000 orang.

Sementara Pemerintah Myanmar sendiri menyebut lebih dari satu juta kaum etnis Rohingya di negara Myanmar sebagai “imigran ilegal” dari Bangladesh.

Sedangkan kaum Muslim Rohingya, bagaimanapun, memiliki akar di negara Myanmars sejak berabad-abad yang lampau.

Mereka kini dianggap oleh PBB sebagai kelompok minoritas yang paling teraniaya di dunia.

Ada banyak laporan saksi mata dari pihak pengungsi Rohingya tentang eksekusi singkat, pemerkosaan, dan serangan pembakaran oleh militer sejak tindakan keras terhadap kelompok minoritas dimulai.

Pasukan Myanmar dilaporkan telah memasang ranjau darat di wilayah mereka di sepanjang pagar kawat berduri antara serangkaian pilar perbatasan selama tiga hari terakhir dalam upaya untuk mencegah kembalinya kaum Rohingya yang telah melarikan diri ke Bangladesh.

PBB makin khawatir bahwa pemerintah Myanmar mungkin telah melakukan pembersihan etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan dalam tindakan kerasnya.

Situs petisi online Change.Org telah mengumpulkan lebih dari 373.031 tanda tangan pada hari Jumat dini hari (8/9) dan jumlah tanda tangan online cepat bergerak naik menuju angka 500.000 tanda tangan online, sebagai bentuk petisi usulan mencabut nobel perdamaian Aung San Su Kyi.

Hal ini mencerminkan keprihatinan yang teramat mendalam mengenai tragedi Rohingya di negara bagian Rakhine yang memicu derasnya arus pengungsi kaum Rohingya yang lari dari Myanmar.

Aung san Suu Kyi dianugerahi hadiah perdamaian tersebut pada tahun 1991, dalam tahanan rumah di tangan junta militer Myanmar, dari mana dia dibebaskan pada tahun 2010.

Dia kemudian melanjutkan untuk memimpin partainya melalui pemilihan pertama yang kredibel sejak kemerdekaan.

Namun pemerintahnya saat ini tengah menghadapi kecaman dunia internasional atas  krisis kemanusiaan di Rakhine  saat ratusan ribu pengungsi etnis menoritas Rohingya tiba di Bangladesh dengan cerita pembunuhan, pemerkosaan dan desa-desa yang terbakar di tangan tentara.

PBB mengatakan pada hari Kamis bahwa sekitar 164.000 pengungsi Rohingya telah melarikan diri ke Bangladesh dalam dua minggu terakhir, yang berarti lebih dari seperempat juta orang telah melarikan diri sejak pertempuran pecah pada bulan Oktober.

Di Oslo, Olav Njolstad, ketua Institut Nobel, mengatakan kepada media, bahwa tidak mungkin untuk mencabut seorang pemenang Nobel atas sebuah penghargaan setelah diberikan. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *