oleh

5.932 Amunisi SAGL yang Dibeli Brimob Istimewa dan Mematikan

PENANEGERI, Jakarta – Sebanyak 5.932 amunisi Stand-Alone Grenade Launcher (SAGL) yang dipesan Korps Brimob Polri telah dipindahkan ke gudang Mabes TNI.

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen TNI Wuryanto kepada wartawan di Taman Ismail Marzuki, Jl Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (10/10) menjelaskan amunisi yang jumlahnya 5.932 butir itu punya keistimewaan tersendiri. Amunisi yang mematikan ini sudah dibawa ke gudang Mabes TNI, Senin (9/10) malam.

Keistimewaan amunisi ini adalah dari ledakan yang ditimbulkan.

“Setelah meledak pertama kemudian meledak yang kedua dan menimbulkan pecahan-pecahan dari tubuh granat itu berupa logam-logam kecil yang melukai ataupun mematikan. Kemudian granat ini pun bisa meledak sendiri tanpa benturan setelah 14-19 detik lepas dari laras. Jadi ini luar biasa,” papar Mayjen Wuryanto.

Menurut Mayjen Wuryanto, TNI hingga saat ini belum memiliki senjata yang punya kemampuan sama dengan senjata dan amunisi pesanan Brimob Polri.

“Ini luar biasa. TNI tidak punya senjata dengan kemampuan jenis itu,” ujar Wuryanto dalam jumpa pers di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat, Selasa (10/10).

Keputusan menitipkan amunisi peluru tajam diambil dalam rapat di Kemenko Polhukam pada Jumat (6/10), yang dipimpin Jenderal (Purn) Wiranto, yang juga dihadiri Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Jenderal Budi Gunawan, Kapolri Jenderal Tito Karnavian, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, dan Dirjen Bea-Cukai Kementerian Keuangan Heru Pambudi.

“Tadi malam amunisi tersebut sudah dipindahkan ke gudang amunisi Mabes TNI sesuai dengan katalog yang menyertai yakni sejumlah 5.932 butir amunisi dalam 71 koli yang disertai katalog,” ujar Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) TNI Mayjen Wuryanto kepada wartawan di Taman Ismail Marzuki, Jl Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (10/10).

Sesuai katalog yang menyertai, ada sejumlah 5.932 amunisi dalam 71 koli disertai dengan katalog.

“Di katalog sangat jelas dikatakan itu amunisi tajam. Mempunyai radius mematikan 9 meter dan jarak capai 400 meter,” jelas Kapuspen TNI.

Mayjen Wuryanto juga mengatakan, TNI hanya menegakan aturan yang berlaku. Mengenai penyimpanan oleh TNI, menurut Wuryanto, TNI hanya mengantisipasi potensi ancaman keamanan.

“Kita hanya menegakkan aturan yang berlaku. Amunisi seperti ini ditujukan untuk menghancurkan perkubuan. Jadi orang-orang di belakang perkubuan bisa dihancurkan dengan amunisi jenis ini,” papar Mayjen Wuryanto.

“Amunisi seperti ini ditujukan untuk menghancurkan perkubuan. TNI bertanggung jawab selama penyimpanan. Pasti aman, karena kami punya standar keamanan,” jelas Mayjen Wuryanto.

Mayjen Wuryanto menegaskan hanya amunisi yang dititipkan ke Mabes TNI. Sedangkan senjata SAGL, menurut dia, sudah diambil pihak Polri dari kargo Unex Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng.

“Senjatanya masih bisa digunakan polisi. Senjata itu, selain bisa digunakan dengan peluru tajam, juga untuk granat asap dan gas air mata,” sambungnya.

Pihak Polri sebelumnya memberikan keterangan mengenai amunisi SAGL yang dipesan. Menurut Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto, amunisi tajam adalah amunisi yang mematikan. Sementara amunisi peluru tabur hanya bersifat melumpuhkan.

“Peluru tajam itu berbeda dengan peluru tabur. Seperti ini granat asap dengan ini granat gas air mata, juga berbeda walau bentuknya sama. Jadi amunisi yang digunakan SAGL ada tiga, yaitu asap, gas air mata dan yang disebut tajam tadi, tajam itu hanya untuk mengejutkan dengan butiran kecil-kecil,” terang Setyo, Jumat (6/10) lalu. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar