oleh

Anak Dibawah Umur Dianiaya dan Dipaksa Mengemis

PENANEGERI, Lhokseumawe – MI (39) dan UG (34), ditetapkan sebagai tersangka kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), karena diduga menganiaya dan memaksa anaknya MS yang masih usia 9 tahun untuk mengemis.

Informasi diperoleh Penanegeri.com, MI merupakan ayah tiri korban yang juga warga asal Kecamatan Indrajaya, Kabupaten Pidie. Sedangkan UG merupakan ibu kandung korban, yang berdomisili di Lorong Metro, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe.

Kapolres Lhokseumawe AKBP Ari Lasta Irawan melalui Kasat Reskrim AKP Indra T Herlambang dalam konferensi pers, Jumat (20/9) mengatakan, korban dan kedua pelaku diserahkan ke Unit PPA Polres Lhokseumawe oleh anggota Polsek dan Koramil Bandi Sakti, Rabu (18/9) lalu.

Dijelaskan, penganiayaan terhadap korban telah berlangsung lama, yaitu sejak korban masih usia 6 tahun. Pertama, korban dianiaya dengan cara dicubit pada bagian paha karena tidak menuruti perintah UG untuk mengemis di seputaran Kota Lhokseumawe.

“Pada tahun 2018, korban bersama kakak kandungnya mengemis, akan tetapi pada saat itu keduanya tidak menghasilkan uang yang sudah ditargetkan oleh UG yaitu Rp 100 ribu. Dikarenakan uang yang dibawa pulang tidak sesuai target, sehingga UG marah dan memukuli korban dengan tali rem sepeda, sehingga luka memar,” beber Indra.

Baca Juga  Personel Kodim Bireuen Rampungkan 53 Unit Jamban untuk Warga Blang Perlak Makmur

Dikatakan, setelah itu, penganiayaan terhadap korban juga terus dilakukan, bahkan korban sempat dipukuli dengan gelas kopi, sehingga kepala korban mengeluarkan darah. Korban waktu itu hanya diam sambil membersihkan darah dengan tisu, sehingga lama kelamaan korban sembuh dengan sendirinya.

“Selanjutnya, pada bulan Januari 2019, korban tidak berani pulang ke rumah karena uang mengemis tidak mencapai target. Ketika korban dalam perjalanan, korban kepergok dengan MI. Korban langsung ditangkap dan ditampar dua kali. Korban dibawa pulang ke rumah, kemudian diikat dengan rantai besi serta diinjak-injak pada rantai tersebut,” terang Kasat.

Indra menambahkan, pada Senin (16/9) lalu, korban pulang ke rumah dengan membawa uang hasil mengemis Rp 60 ribu. Korban saat itu melihat ibu dan ayah tirinya sedang tertidur pulas, sehingga ia pun ikut beristirahat sebentar.

“Korban juga beristirahat saat itu, lalu sekitar pukul 05.00 WIB, korban tersadar dari tidurnya. Dikarenakan korban takut dimarah dan dipukul oleh UG, korban keluar dari rumah dan berjalan kaki menuju rumah kakek kandung di belakang Supermarket Sejahtera, kawasan Kota Lhokseumawe,” tambahnya.

Baca Juga  Personel Sabhara Dilatih untuk Hadapi Pemilu 2019

Pada Selasa (17/9), sekitar pukul 06.00 WIB, korban sedang beristirahat di rumah temannya di kawasan Pusong. Tiba-tiba MI datang dan langsung menarik korban, menampar dan membawa korban pulang ke rumah serta mengikat korban dengan rantai saat tiba di rumah.

Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, sambung Kasat, MI dan UG dijerat pasal Pasal 88 Jo Pasal 76 huruf (i) UU RI No. 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan atas UU RI No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dan atau Pasal 44 Ayat (1) Jo Pasal 45 Ayat (1) UU RI No 23 Tahun 2004 Tentang P-KDRT Jo Pasal 65 KUHP.

“Tersangka dipidana dengan hukuman penjara paling lama 10 tahun atau denda paling banyak Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah),” pungkasnya.

Komentar

Berita Terbaru