oleh

Arab Saudi Cs Nilai Qatar Tak Serius

PENANEGERI, Desk Internasional- Para menteri luar negeri negara-negara pemboikot Qatar, yakni Menlu  Mesir, Menlu Arab Saudi, Menlu UEA dan Menlu Bahrain menyatakan bahwa Qatar tak serius soal ke-13 tuntutan mereka pada negara Qatar.

Arab Saudi Cs juga telah mengeluarkan sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa tanggapan Doha (Qatar) terhadap tuntutan mereka untuk mengakhiri krisis “tidak serius”.

Pernyataan itu disampaikan hari Rabu (5/7) setelah para menteri luar negeri dari Mesir, Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Bahrain – negara-negara Arab yang terlibat dalam perselisihan dengan Qatar – bertemu di ibukota Mesir setelah menerima jawaban tanggapan dari Emir Qatar terhadap daftar tuntutan mereka.

Menteri Luar Negeri Mesir Sameh Shoukry mengatakan kepada wartawan pada sebuah konferensi pers bersama di Kairo bahwa tanggapan Qatar “umumnya negatif” dan gagal untuk “meletakkan dasar bagi pembalikan Qatar terhadap kebijakan yang diusahakannya.”

Dia juga menggambarkan respons Doha sebagai “posisi yang mencerminkan kegagalan untuk menyadari gravitasi situasi.”
“Kami berharap kebijaksanaan akan menang dan Qatar akhirnya akan membuat keputusan yang tepat,” kata Shoukry menambahkan.

Baca Juga  Menlu Qatar : Kami Takkan Bernegosiasi Sampai Blokade Dihentikan

Pada gilirannya, menteri luar negeri Saudi, Adel al Jubeir mengatakan kepada wartawan bahwa langkah lebih lanjut terhadap Qatar akan diambil pada waktu yang tepat dan akan sesuai dengan hukum internasional.

Menlu Arab Saudi Adel al Jubeir mengatakan bahwa boikot politik dan ekonomi akan tetap ada sampai Qatar mengubah kebijakannya menjadi lebih baik.

“Embargo akan tetap berlaku sampai Qatar memperbaiki kebijakannya,” katanya. “Sehubungan dengan tindakan masa depan, kita terus-menerus melakukan komunikasi. Kita adalah negara kedaulatan, dan kita memiliki hak untuk mengambil tindakan sesuai dengan hukum internasional.”

Seperti diketahui bersama rombongan negara terdekat Qatar yang dipimpin oleh Arab Saudi telah memutus hubungan diplomatik dan memberlakukan blokade terhadap Qatar sejak 5 Juni 2017.

Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab, Abdullah bin Zayed Al Nahyan lebih agresif dalam mengkritik Qatar, dengan mengatakan bahwa pihak Qatar hanya tertarik pada “penghancuran, hasutan, ekstremisme dan terorisme,”.

Tudingan demi tudingan terorisme yang mengarah pada negara kecil Qatar ini telah berulang kali dibantah keras oleh negara Qatar.

Baca Juga  Pemimpin Qatar Kirim Jawaban atas Tuntutan

Sedangkan negara-negara pemblokir telah mengeluarkan daftar permintaan 13 poin pada 22 Juni, memberi Qatar 10 hari untuk merespons.

Periode tersebut telah diperpanjang sampai hari Rabu, atas permintaan Kuwait, yang menengahi krisis.

Isi tanggapan Qatar yang disampaikan pada hari Senin belum diungkapkan, namun Menteri Luar Negeri Qatar Sheikh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani telah menyatakan bahwa daftar 13 tuntutan “tidak realistis dan tidak dapat ditindaklanjuti”.

Pada hari Rabu (5/7), Sheikh Mohammed telah meminta sebuah dialog untuk menyelesaikan kebuntuan tersebut.

Qatar telah membantah mendukung ekstremisme dan menuduh negara-negara tersebut berusaha melanggar kedaulatannya.

Tuntutan lainnya termasuk Qatar merendahkan hubungan dengan saingan utama Iran – saingan Arab Saudi – dan menutup sebuah pangkalan militer Turki di Qatar. (*)

Komentar

Berita Terbaru