oleh

Asa Pedagang Bireuen Ditengah Gempuran Corona

PENANEGERI, Bireuen – Langkah pencegahan penyebaran virus corona di Kabupaten Bireuen terus dikumandangkan ditengah masyarakat. Bahkan guna mengantisipasi Covid-19 itu pemerintah memberlakukan jam malam yang diterapkan sejak, Minggu (29/3) lalu.

Wajah Kota Bireuen yang berada di titik tiga persimpangan jalur ke kabupaten lain kini ibarat kota mati.  Nyaris tak ada kehidupan. Kondisi ini mengingat kembali saat diberlakukan darurat meliter kala Acah dilanda konflik puluhan tahun silam.

Anjuran “semua di rumah saja”  karena wabah virus corona ini telah merenggut perekonomian pedagang kecil, kendati mereka harus memaksa diri tetap harus keluar demi mencari nafkah bagi keluarga mereka.

Tentunya, berbeda dengan pejabat di instansi pemerintahan misalnya, anggota DPRK, PNS dan tak kecuali para pengusaha. Mereka tentunya masih dapat tersenyum sembari berselfie ria dan mengunggahnya di akun sosial media, karena tiap awal bulan gajinya mengalir ibarat air dari hulu ke hilir.

Lantas, bagaimana dengan kondisi pedagang kaki lima di sepanjang Kota Bireuen yang kini harus menjerit, terutama pedagang yang berjualan pada malam hari. Mereka selama ini mengais kebutuhan sehari-sehari diantara gempuran virus corona yang entah kapan berakhir.

“Ya, untuk sementara waktu ini, mau tidak mau harus kami tutup sementara. Bahkan saya sudah sepekan ini tak ikut jualan, karena harus tutup,” beber Samsul Bahri seorang pedagang mie goreng, di seputar kota Bireuen kepada Penanegeri.com, Kamis (2/4).

Kondisi ini tak hanya berdampak terhadap pedagang kaki lima. Hampir seluruh pelaku bisnis di Bireuen ikut terpapar. Begitu juga tukang ojek, tukang becak dan masyarakat prasejahtera lainnya yang berdampak pada ekonomi mereka, karena berkurangnya penghasilan akibat gempuran Covid-19.

Lalu, apa langkah pemerintah dalam menyahuti dilema yang dirasakan masyarakat Bireuen saat ini. Sebab belum terlihat adanya titik terang. Bahkan instansi terkait terutama dinas yang membidangi kepentingan dan kebutuhan masyarakat itu diduga ikut “semua di rumah saja”.

Hampir dua pekan lebih Covid-19 ini merambah. Tak terlihat adanya gebrakan apa-apa di tingkat dinas, kecuali ikut mengekor kemana langkah pemangku kepentingan selama penangangan Covid-19 di Bireuen, seraya ikut selfie bersama.

Bayangkan, akhir-akhir ini harga kebutuhan pokok terus merangkat naik, tak kecuali harga barang dari luar Aceh ikut mencekik leher masyarakat, sementara dinas terkait ikut bersembunyi diketiak pemangku kepentingan di Kabupaten Bireuen.

“Kami tidak tahu harus berbuat apa, kendati banyak intruksi serta hanya mendengar celoteh adanya surat edaran tentang ini dan itu. Sementara kami tidak boleh keluar mencari rezeki,” sebut M Affan, salah seorang tukang becak di Kota Bireuen.

Dampak virus corona selama ini nyaris menghilangkan asa bagi para pejuang keluarga. Mereka harus mengenyampingkan kebutuhan perutnya sendiri demi anak dan istrinya, agar tetap bisa makan.

Beranjak dari persoalan itu, apakah masyarakat di Bireuen harus tetap “semua di rumah saja”. Sementara isi perut keluarga mereka keroncongan.

Lalu apa saja langkah-langkah yang telah ditempuh dinas terkait di Kabupaten Bireuen untuk penanggulangan bencana ini. Apakah mereka telah siap dan telah melakukan antisipasinya. Hanya tuhan yang tahu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *