oleh

Begitu Mahalnya Pelayanan Kesehatan Bagi Zainal Abidin di Bireuen

PENANEGERIBireuen – Mahalnya biaya kesehatan dewasa ini berdampak terhadap rendahnya kemampuan masyarakat miskin untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang sebenarnya.

Karena kesehatan saat ini seperti barang mewah, dan hanya orang-orang yang tergolong mewahlah yang mudah mendapatkan pelayanan kesehatan tersebut.

Lihat kondisi nyata ini. Lelaki renta yang sejak lama tidak bisa melihat (tuna netra) berlokasi tak jauh dari pusat Kota Juang, Bireuen hanya mampu terbaring di ruang tamu rumahnya dengan kondisi yang sangat memprihatinkan.

Sebut saja namanya Zainal Abidin (59), atau akrab disapa Apanon, warga Dusun Sagoe, Geudong-Geudong, Kacamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen, bukti bobroknya serta kurangnya perhatian kesehatan baginya.

Belakangan Ia terbaring dengan tubuh terbalut tulang tampa mendapatkan kesehatan yang layak, kendati sejumlah rogram kesehatan yang dikemas oleh Dinkes Bireuen selama ini, hampir tampa mampu lagi di relis oleh media. Namun Zainal Abidin tetap tak tersentuh.

“Sudah lama Ia sakit. Terakhir Ia mengalami sakit seperti ini sejak setahun belakangan ini, bahkan tampa adanya bantuan apapun dari desa maupun pemerintah setempat,” ujar adik kandungnya, Nuraini kepada Penanegeri.com, Selasa (5/2).

Baca Juga  Miliki Sabu, Warga Baktiya Barat Diamankan Polisi

Dikisahkannya, dulu abangnya Zainal Abdin masih tetap sehat dan kendati tak memilik pekerjaan tetap, namun ia rajin membantu keluarganya.

Namun di tahun 1976, Ia ditimpa musibah dan mengalami kecelakaan hingga harus menjalani operasi matanya di Banda Aceh, dan terakhir kondisinya terus memburuk.

Seiring perjalanan kehidupan bersama adiknya, Zainal Abidin harus pasrah dengan kendaaan, dan tinggal disebuah rumah semi permanen peninggalan orangtuanya dengan kondisi dindingnya rumah yang sudah lapuk dimakan usai.

Kendati kondisi mereka tergolong miskin, Ia juga tak mendapatkan bantuan apapun dari pemerintah, termasuk beras raskin disamping pelayanan kesehatan gratis.

“Tak ada bantuan apapun dari pemerintah, selama ini kami juga tak pernah tersentuh bantuan raskin dari gampong,” ujar Nuraini dengan mata berkaca.

Disinggung, apakah selama ini Bides Desa yang ikut memiliki tanggungjawab terhadap kesehatan masyarakat, pernah menjenguk Zainal Abidin.

Nuraini mengatakan, hingga saat ini tidak pernah sama sekali, bahkan keponakannya juga sudah pernah memberitahun kondisi pamannya, Zainal Abidin dalam kandaan sakit, tapi hingga detik ini belum pernah datang.

Baca Juga  Rektor IAIN Langsa Hadiri Pelantikan Sejumlah Kepala Biro PTKN

Yang anehnya lagi, sebutnya, pihak keluarganya juga pernah meminta perangkat desa agar mengurus prpfosal agar Ia mendapat satu unit kursi roda ke Dinas Sosial Bireuen, tapi ini juga tak kunjung berhasil.

“Tapi Alhamdulillah setelah saya memposting kondisinya di media sosial Facebook, Komunitas  Kami Peduli Bireuen merespon dan langsung menyerahan bantuan kursi roda,” sebut Nora Yusuf keponakan Zainal Abidin.

Diakui Nora Yusuf dengan adanya kursi roda ini, pamannya bisa duduk dan bisa didorong dengan kuris roda ini, baik ke kamar maupun saat akan membuang air kecil ke kamar mandi.

“Kalau tidak, maka Wak Nuraini ini yang selalu memampahnya, baik bila ingin duduk di teras depan rumah, serta bila ingin ke kamar mandi,” terangnya dengan suara terbata-bata.

Beranjak dari kondisi yang dialami Zainal Abidin, ternyata upaya pemerintah daerah untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada warga miskin melalui Jamkesmas masih belum dapat terealisasi dengan baik.

Tentunya pemerintah daerah, terutam Dinkes Bireuen perlu memberikan perhatian khusus dalam menangani masalah ini. Sebab kesehatan merupakan hak dasar setiap warga negara. Negara wajib memberikan jaminan kesehatan kepada warganya, termasuk warga miskin.

Komentar

Berita Terbaru