oleh

Berbagi Kanji Rumbi Jelang Berbuka Puasa Ramadhan di Bireuen

Bireuen Bagi masyarakat wilayah barat Kabupaten Bireuen, dan sebagian warga Kota Bireuen menu masakan kanji rumbi tentunya sudah tidak asing lagi, apa lagi saat bulan Ramadhan.

Kanji Rumbi selalu menjadi hidangan utama bagi masyarakat beberapa kecamatan di wilayah barat Bireuen dan sebagian kawasan Kota Juang saat berbuka puasa, baik di rumah, meunasah maupun di masjid-masjid.

Menu masakan yang menjadi tradisi saat berbuka puasa ini hanya bisa dijumpai di tempat tertentu, terutama di pedalaman gampong-gampong wilyah barat Bireuen. Kecuali itu kini mulai merambah beberapa kecamatan di wilayah timur Bireuen.

Makanan khas ini tak hanya terbuat dari campuran rempah-rempah, beras dan sayur-sayuran, panganan ini juga di percaya berkhasiat sebagai obat yang dapat menghilangkan angin dalam tubuh.

Belakangan tradisi memasak kanji dilakukan secara bergotong royong. Sistem kerja dan bahan-bahan yang diperlukan dikumpulkan secara bersama-sama oleh petuha gampong (tokoh desa) dari rumah-rumah warga disebuah desa.

“Paling tidak, setiap hari ada lima hingga tujuh kepala keluarga (KK) yang tetap turut andil menyumbang berbagai bahan keperluan untuk membuat kanji rumbi di meunasah,” ujar Tgk M Nasir seorang tokoh masyarakat di Simpang Mamplam, Bireuen, Rabu (15/5).

Baca Juga  199 Warga Binaan di Rutan Bireuen Belum Kantongi e-KTP

Umumnya, tambah M Nasir, untuk sekali memasak menghabiskan dana Rp 500 hingga Rp 800 ribu. Dana tersebut diperoleh dari para donatur desa setempat yang telah dibentuk membantu terlaksananya kegiatan untuk memasak kanji di meunasah maupun di masjid.

Langkah pertama, adonan kanji rumbi terdiri dari beras, santan kelapa, sayuran, daging ayam atau sapi, bumbu dan rempah yang disatukan dalam sebuah kuali besar itu harus diramu khusus.

Proses awalnya, bahan-bahan yang diperlukan untuk kanji rumbi diantaranya bawang merah, bawang putih, jahe, lada, jaramaneh, cengkeh, gapu naga, bunga lawang kleng, udang, kulit manis, serai, daun pandan wangi, daun teumeuruy (daun kari), kelapa, garam, minyak makan daun sop serta daging kambing serta sapi bila diperlulan.

Selanjutnya beras itu kembali dimasak bersamaan dengan bumbu, selanjutnya ditambahkan sayuran dan penyedap. Waktu yang dibutuhkan memasak kanji itu bisa dua hingga tiga jam agar seluruh bumbu lebih matang.

Usai diproses adonan  tersebut, lalu warga diminta dapat segera membawa wadah sendiri untuk mengambil kanji berbuka puasa di rumah. Sedangkan sisanya dinikmati warga lainya, di meunasah atau masjid ketika waktu berbuka puasa bersama.

Baca Juga  Panwaslih Aceh Utara Minta KIP Segera Coret Caleg Perindo Ini dari DCT

Di kawasan Desa Keudee Aceh, Pante Rheng, Sansoe Kecamatan Samalanga serta beberapa desa lainnya  di Kecamatan Simpang Mamplam, Peulimbang, Pandarah dan Jeunieb,  tradisi berbuka puasa dengan kanji ini masih cukup kental.

Sementara itu M Ali, juru masak kanji rumbi didampingi sejumlah warga lainnya di Samalanga Kepada Penanegeri.com, Rabu (15/5) mengatakan, panganan khas berbuka puasa kanji rumbi bagi warga Samalanga sudah menjadi tradisi turun temurun setiap Ramadhan.

“Pekerjaan memasak kanji rumbi setiap hari di bulan Ramadhan juga rangkaian ibadah dan saya lakukan tanpa memungut biaya”, katanya.

Sebelum kanji rumbi masak, warga sudah membawa rantang guna mengambil sendiri kanji rumbi di Meunasah, untuk dibawa pulang sebagai kudapan berbuka puasa bersama keluarganya di rumah.

Kanji rumbi yang dimasak ini menjadi sebuah kelebihan hikmah di bulan Ramadhan, bulan penuh berkah bagi orang-orang yang melaksanakan puasa dengan ikhlas serta suka bersedekah.

Tak hanya di kawasan barat Kabupaten Bireuen, tradisi memasak kanji rumbi juga mulai tertular hingga ke wilayah Kecamatan Kota Juang, Bireuen seperti halnya di Meunasah Blang, Pulo Ara dan kawasan Geulanggang.

Baca Juga  11 KK Mengungsi Akibat Semburan Gas di Aceh Utara

“Tradisi tersebut hampir sama seperti dilakukan oleh warga pedalaman Salamanga, Simpang Mamplam. Disini juga dilakukan secara bergotong royong, termasuk bahan-bahan yang diperlukan, tetap dikumpulkan bersama-sama,” ujar seorang warga Pulo Ara, Bireuen, Sudirman.

Komentar

Berita Terbaru