oleh

Bireuen Lakukan Deklarasi Pencegahan Stunting

PENANEGERI, Bireuen – Stunting merupakan gangguan pertumbuhan badan seorang anak yang disebabkan kurangnya asupan gizi, saat ini di Aceh yang mengalami stunting sekitar 37 persen.

Hal itu dikatakan Wakil Ketua 1 Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraah Keluarga (TP PKK) Aceh, Dr Dyah Erti Idawati MT saat melakukan Deklarasi Pencegahan Stunting, di Gedung Olaraga (GOR) Geulumpang Payong, Kecamatan Jeumpa, Bireuen, Senin (21/10).

“Stunting ini tidak hanya menyebabkan tubuh anak lebih pendek, tapi juga berpengaruh kepada kemampuan cara kerja otaknya. Untuk itu kita harus berupaya dan sama-sama melakukan upaya mengurangi angka Stunting ini dan kita mulai dari desa masing-masing,” katanya.

Kita juga berharap Bireuen menjadi daerah pertama yang melalukan gerakan pencegahan Stunting ini, disamping adanya usaha usapan gizi yang memadai setiap keluarga.

Penandatangani Deklarasi dan Pencegahan Stunting di Kabupaten Bireuen itu dibuka oleh Bupati Bireuen, H Saifannur S.Sos pimpinan dan anggota DPRK, Forkopimda, Sekda Bireuen, Staf Ahli, Kepala Dinas, Camat, ibu hamil dan perangkat gampong.

Baca Juga  WH Langsa Amankan Empat Pasang Pelaku Mesum, Salah Satu Pasangan Warga Aceh Tamiang

Sementara itu Kadis Kesehatan Bireuen, dr Amir Addani M.Kes dalam laporannya mengatakan, belakangan dampak dari kebutuhan zat gizi yang tidak terpenuhi dapat mengakibatkan masalah yang berkaitan dengan status gizi seperti gizi buruk, gizi kurang, dan stunting.

“Persoalan ini tidak hanya terjadi di Bireuen,  tapi permasalahan yang sama juga terjadi di beberapa daerah di Aceh serta  sejumlah Provinsi di Indonesia. Stunting ini terjadi akibat faktor gizi juga bisa disebabkan oleh pola asuh, sanitasi, dan air bersih yang tidak memadai,” sebutnya.

Tujuan deklarasi pencegahan stunting di Kabupaten Bireuen,  tambah  Amir Addani guna  meningkatkan komitmen dan kerjasama pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh masyarakat, akademisi, dunia usaha, serta seluruh masyarakat untuk mencapai Bireuen bebas stunting

Saat ini, Indonesia terus menyerukan dan mengupayakan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui program 1000 hari pertama kehidupan (HPK).

“Kualitas manusia ditentukan sejak awal masa kehamilan hingga  Seribu Hari Pertama Kehidupan (1000-HPK) yang merupakan periode emas bagi pertumbuhan dan perkembangan  seorang anak,” sebutnya.

Komentar

Berita Terbaru