oleh

BKSDA Aceh dan FKL Pasang 2 GPS Collar pada Gajah Sumatera Liar di Aceh Timur

-Aceh-49 views

PENANEGERI, Banda Aceh – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh bekerjasama dengan Forum Konservasi Leuser (FKL) memasang dua unit GPS Collar pada dua kelompok gajah Sumatera liar di Aceh Timur.

Salah satu alasan dilakukan pemasangan GPS Collar ini untuk memantau pergerakan kelompok gajah, sehingga diharapkan dapat membantu mengatasi konflik antara manusia dengan satwa yang dilindungi ini di wilayah Aceh Timur.

Kedua gajah ini merupakan kelompok gajah yang habitatnya berada di dalam atau bersinggungan dengan Kawasan Ekosistem Leuser (KEL), salah satu kawasan hutan yang luasnya mencapai 2,6 juta hektar di Aceh dan Sumatera Utara.

Pemasangan GPS Collar pertama dilakukan pada 6 Maret 2019 di Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur. Gajah betina yang beratnya hampir empat ton ini dipasang GPS Collar setelah tim BKSDA Aceh dan FKL mencari gajah ini selama seharian.

Tim menemukan kelompok gajah liar ini di dalam kawasan Hak Guna Usaha (HGU) PT Atakana Company yang sebagian besar telah rusak akibat konflik gajah. Gajah menyukai lokasi ini karena banyak ditumbuhi semak belukar dan hutan muda.

Baca Juga  Berjudi, Lima Wanita Lansia Diamankan WH Langsa

Gajah yang dipasang GPS Collar ini kemudian diberi nama Nadia, mengingat GPS Collar tersebut merupakan sumbangan oleh Nadya Hutagalung, seorang presenter terkenal yg sangat peduli terhadap konservasi gajah.

Sementara, gajah liar kedua yang dipasang GPS Collar ditemukan di Kecamatan Birem Bayeun yang merupakan kelompok yang berbeda dengan gajah Nadia. Gajah ini diberi nama Meutia yang umurnya sekitar 20 tahun dengan berat lebih dari 2 ton dan ditemukan setelah tim seharian melakukan pencaharian pada 9 Maret 2018.

Kepala BKSDA Aceh, Sapto Aji Prabowo mengatakan, pemasangan GPS Collar ini dilakukan untuk memberikan informasi posisi gajah secara berkala melalui satelit.

Salah satu tujuannya adalah memberi informasi posisi gajah sebelum masuk ke perkebunan atau lahan pertanian masyarakat sehingga dapat membantu mitigasi konflik dengan manusia di wilayah sekitarnya.

“Dengan adanya GPS Collar ini maka akan tahu posisi kelompok gajah ini sehingga bisa memberikan informasi kepada masyarakat ketika gajah mulai mendekati lahan perkebunan penduduk,” ujar Sapto Minggu (10/3).

Baca Juga  Ruas Jalan Kulu Kutablang Bireuen Kembali Amblas

Ia menambahkan, dalam jangka panjang, pemasangan GPS ini juga akan sangat bermanfaat untuk mengetahui jalur jelajah kelompok gajah ini serta datanya dapat digunakan untuk penyusunan tata ruang di Kabupaten Aceh Timur dan daerah lainnya di Aceh.

Sementara itu, Koordinator Perlindungan Satwa Liar Forum Konservasi Leuser, Dedi Yansyah mengatakan, gajah yang dipasang GPS Collar itu habitatnya didalam Kawasan Ekosistem Leuser (KEL).

Sebelum dilakukan penasangan GPS Collar, tim sudah ditugaskan berhari-hari sebelumnya untuk melacak dan mengikuti dua kelompok gajah yang menjadi target pemasangan GPS Collar  Karena tim sangat solid, pemasangan GPS Collar di Aceh Timur bisa dilakukan dengan sangat cepat.

“Pemasangan GPS Collar sengaja dipilih gajah betina dewasa karena gajah betina hidup berkelompok, sementara gajah jantan lebih sering hidup soliter atau sendiri,” ungkap Dedi.

Dedi juga mengatakan, FKL terus membantu pemerintah untuk meminimalisir konflik satwa liar khususnya gajah sumatera dengan manusia di Aceh Timur dan beberapa daerah lain di Aceh.

“Khusus untuk Aceh Timur, Pemkab Aceh Timur bersama FKL sudah membangun barrier buatan atau parit mencapai 18,6 Kilometer dari 50 kilometer yang direncanakan parit buatan ini digali di batas hutan area penggunaan lain dengan hutan produksi, sehingga gajah tidak bisa masuk ke lahan masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga  Nelayan Aceh Suplai Ikan Hingga ke Pulau Jawa, Pelaku Usaha Diminta Sertifikasi

“Sekitar 30 kilometer barrier akan dibangun oleh empat perusahaan yang ada disekitarnya,” sambung Dedi.

Selain itu, FKL juga akan memperkuat tim di Conservation Response Unit (CRU) Serbajadi dan melatih masyarakat agar bisa mendiri untuk mencegah konflik dengan satwa liar.

“FKL bersama Dinas LHK Aceh dan KPH-3 Langsa juga mengopetasikan tim perlindungan satwa liar di Aceh Timur yang bertugas melakukan berpatroli rutin untuk memantau keberadaan gajah dan satwa liar lainnya termasuk mencegah terjadinya perburuan,” tambahnya.

Komentar

Berita Terbaru