oleh

BNN RI : 64 Desa di Aceh Rawan Produksi Ganja dan Peredaran Narkotika

PENANEGERI, Bireuen – Belakangan ini, Aceh salah satu daerah pintu masuk ganja dan peredaran sabu-sabu, sehingga perlu dialihkan lahan pertanian yang lebih produktif.

Hal itu dikatakan Direktur Pemberdayaan Alternatif BNN RI, Brigjen Pol Drs Andjar Dewanto SH MBA saat meninjau lahan jagung di Desa Meunasah Bungo, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen, Selasa (16/7) sore.

“Saat ini ada sekitar 64 desa di Aceh yang sangat rawan terhadap produksi ganja serta adanya peredaran narkotika,” katanya.

Dalam kunjungan tersebut, Brigjen Pol Drs Andjar Dewanto SH MBA turut didampingi Kepala BNN Aceh, Brigjen Pol Drs Faisal Abdul Naser MH, Bupati Bireuen, H Saifannur S.Sos serta dinas terkait lainnya.

Kedepan, seluruh desa tersebut akan digarap oleh pihak BNN, guna dikembangkannya menjadi areal pertanian produktif seperti tanaman jagung.

“PT Japfa sendiri saat ini  membutuhkan 1,5 juta ton jagung setiap tahunnya khusus untuk wilayah Sumatera,” sebutnya.

Andjar Dewanto mengajak warga “Stop Narkoba” dan kedapan Ia juga mengharapkan kerja sama dan bersama-sama bekerja membasmi narkoba.

Baca Juga  Ini Rekomendasi DPRK Aceh Tamiang Terhadap Direktur PDAM Tirta Tamiang

Sementara itu, Bupati Bireuen, H Saifannur S.Sos dalam pidatonya mengatakan, prospek penanam jagung di Bireuen sangat bagus dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Selain dukungan lahannya yang masih luas, kondisi tanah juga subur seperti di Kecamatan Peudada, Jeumpa dan Kecamatan Juli.

“Belakangan permintaan kebutuhan jagung untuk produksi pakan ternak sangat tinggi. Kedepan Bireuen harus bisa menjadi pilot project pengembangan tanaman jagung,  dan ini juga dapat menambah perekonomian masyarakat,” pungkasnya.

Komentar

Berita Terbaru